logo rilis
Dwi Ria Latifa, Berbagi Waktu antara Jakarta dan Kairo
Kontributor
Zul Sikumbang
27 Maret 2018, 12:31 WIB
Dwi Ria Latifa, Berbagi Waktu antara Jakarta dan Kairo
Anggota DPR Dwi Ria Latifa. FOTO: facebook

MENJADI istri seorang duta besar sekaligus merangkap sebagai wakil rakyat di Senayan, ada senang dan duka. Tentu, lebih banyak senangnya karena dua posisi itu bagi Dwi Ria Latifa menjadi ladang amal dan pengabdiannya untuk masyarakat.

Dwi Ria Latifa anggota DPR dari Fraksi PDIP ini dikenal sebagai wakil rakyat yang dikenal vokal dan kritis di Komisi III yang sehari-hari membidangi hukum. Latar belakang sebagai aktivis dan juga penasihat hukum menjadikan politisi yang tinggal di Bogor ini sangat menguasai panggung.

Ternyata, kepedulian Dwi Ria Latifa dalam masalah hukum tidak sebatas di dalam negeri. Di luar negeri pun di tempat suaminya ditugaskan sebagai duta besar untuk Mesir, anggota DPR periode 2014-2019 ini juga mendirikan posyandu dan lembaga bantuan hukum bagi WNI di Negeri Piramid.

Karena itu saat berkunjung ke Kairo, istri Helmy Fauzi ini bukannya untuk bersenang-senang melihat setiap sudut Kota Kairo tetapi malah sering disibukkan dengan aktivitasnya di dua kegiatan utamanya itu, soal Posyandu dan LBH Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK).

"Tidak sempat menikmati Kota Kairo nan indah. Tidak sempat melakukan tamasya. Saya fokuskan melayani masyarakat Indonesia," kata Dwi Ria Latifa dalam perbincangan santai dengan rilis.id, belum lama ini.

Di Mesir, jumlah warga negara Indonesia saat ini sebanyak 5.300 orang dan 4.200 di antaranya merupakan pelajar dan mahasiswa. Selebihnya adalah pekerja profesional, ekspatriat, diplomat staf lokal kedutaan dan guru sekolah Indonesia.

Dari pengamatan Dwi Ria Latifa, ada kecenderungan di kalangan sebagian mahasiswa untuk berkeluarga sambil menuntut ilmu. Mereka yang berumah tangga sambil kuliah disebabkan oleh banyak faktor, antara lain karena mereka mengikuti tradisi yang berlaku di kampung mereka bahwa pernikahan muda adalah hal yang biasa. Juga, mereka merasa bahwa belajar di Mesir memerlukan waktu yang lama sehingga ketika mereka sudah memiliki kenalan atau pasangan mereka lebih suka untuk melanjutkan ke rumah tangga. 

"Alasan lainnya menikah dini  karena mereka yang merasa sudah senior, berfikir akan kesulitan untuk mendapatkan pasangan dari kampung, karena itu memerlukan dana yang besar dan belum tentu mendapatkan pasangan," ujar Dwi Ria Latifa.

Akibat dari pernikahan “mandiri” dengan status ayah dan ibu sebagai mahasiswa, banyak anak mereka yang masih balita, atau yang usia TK dan SD kurang mendapatkan perhatian yang layak. Terutama dalam pengasuhan yang benar, pengasuhan mental, fisik dan emosional. 

Kekurangfahaman orangtua terhadap tiga aspek pengasuhan tersebut menjadikan beberapa balita mereka kodisinya memprihatinkan. Selain kekurangan ilmu di bidang parenting ini, orangtua dan sekaligus mahasiswa menjadikan mereka kesulitan membagi tugas sebagai orangtua dan sebagai mahasiswa yang harus banyak melakukan tugas-tugas kuliah. Akibatnya anak mereka kurang mendapat perhatian.

"Itulah kenapa saya mendirikan posyandu di Kairo dan beberapa kota lain yang ada di Mesir,” kata Dwi Ria Latifa.

Untuk itu, setiap kali reses, ia selalu ke Mesir. Bukan oleh-oleh atau makanan kesukaan sang suami yang dibawa Dwi Ria Latifa ini melainan kacang hijau, susu, gula dan keperluan bayi serta anak-anak.

“Saya bawa 20 kilogram kacang hijau ke Mesir, saya ajak semua ibu-ibu pegawai kedutaan untuk masak yang nantinya diberikan kepada anak-anak dan balita Indonesia. Pokoknya kami melayani masyarakat Indonesia yang ada di Mesir,” katanya.

Selain membuat posyandu, politisi PDI Perjuangan itu juga mengelar seminar parenting kepada mahasiswi-mahasiwi yang sudah berkeluarga. Materi seminar parenting itu adalah bagaimana mengasuh anak, mengelola keluarga dengan baik dan benar tanpa meninggalkan tugas sebagai pelajar dan mahasiswa. Dwi Ria Latifa juga sempat mendatangkan Nursyahbani Katjasungkana, Sekjen Koalisi Perempuan Untuk Keadilan dan Demokrasi.

Sebagai orang yang berlatar belakang pendidikan hukum serta seorang pengacara, insting dan naluri hukumnya tetap jalan. Ia menyadari, banyak terjadi pelecehan seksual terhadap pelajar dan mahasiswi Indonesia di Mesir, terutama di angkutan umum. Dengan adanya LBH APIK itu, pelajar dan mahasiswi Indonesia bisa melaporkan dan kedutaan akan menindaklanjutinya.

Sebagai anggota DPR yang harus turun ke daerah pemilihan setiap reses, di sisi lain dituntut menunaikan tugas dan kewajiban sebagai seorang istri dubes, tentu tidak mudah untuk mengatur waktu. Namun, bukan Dwi Ria Latifa namanya, kalau soal mengelola waktu saja tidak bisa. Saat reses tiba, ia terlebih dulu datang ke dapil di Kepualauan Riau, setelah itu barulah berangkat menuju Kairo. 

“Usai dari dapil, saya ke Kairo. Selama saya di pesawat, saya tidur karena dokter terus mengingatkan agar jaga kesehatan. Saya juga diberi obat agar bisa tidur di pesawat,” cerita Dwi Ria Latifa.

Bahkan, setiap tahun, tepatnya saat HUT Indonesia, Dwi Ria Latifa harus membagi waktu. Tanggal 16 Agustus, sebagai anggota DPR wajib hadir di Gedung DPR untuk mendengarkan pidato Presiden, apalagi presidennya dari PDIP. Usai menghadiri pidato kenegaraan, sekitar jam 15.00 WIB, dirinya sudah terbang ke Kairo.

“Sekitar jam 08.00 waktu Kairo, saya sudah sampai ke kedutaan sekitar 30 menit dan langsung mandi. Pukul 09.00 waktu Kairo harus ikut upacara detik-detik Proklamasi di Kedutaan mendampingi Pak Dubes," tururnya.

Bisa dibayangkan, betapa melelahkannya.
 

Editor: Yayat R Cipasang


500
komentar (0)