logo rilis
Dukung Pengembangan Jagung di Kalteng, Balitbangtan Siapkan 2 Benih Unggul
Kontributor
Fatah H Sidik
26 Mei 2018, 21:14 WIB
Dukung Pengembangan Jagung di Kalteng, Balitbangtan Siapkan 2 Benih Unggul
Tanaman jagung di Kalimantan Tengah menggunakan benih hibrida unggulan Balitbangtan. Benih hibrida unggulan yang layak dipakai di Kalteng, seperti Bima 19 URI dan Bima 20 URI. FOTO: Balitbangtan Kementan

RILIS.ID, Barito Utara— Unit Penyedia Benih Sumber Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (UPBS BPTP) Kalimantan Tengah menyediakan benih unggul jagung varietas hibrida Bima 19 URI dan Bima 20 URI, dalam rangka menggenjot produksi jagung di Kalteng. Produktivitas kedua varietas tersebut, mencapai 12,5 ton per hektare.

Penanggung Jawab Kegiatan UPBS BPTP Kalteng, Dr. Twenty Liana, menambahkan, varietas Bima 19 URI dan Bima 20 URI juga tahan terhadap penyakit bulai, karat, bercak daun, dan rebah akar atau batang. Bahkan, toleran terhadap kekeringan.

"Varietas jagung hibrida ini, lebih menguntungkan jika ditanam pada lahan sawah atau tadah hujan. Pada musim kemarau di lahan sawah atau lahan kering," ujarnya.

Untuk lahan kering, hasilnya mencapai 8-9 ton per hektare. Sedangkan di rawa lebak, mencapai 10 ton hektare. "Akan tetapi untuk wilayah rawa lebak, masih belum banyak berkembang," jelasnya.

Keragaan fisik tanaman Bima 19 URI dan Bima 20 URI, tambah Twenty, disukai petani. Soalnya, batangnya kokoh, besar, berdaun lebar, serta lebih lunak. "Sangat disukai ternak sapi," ungkapnya.

Kedua varietas ini, sudah banyak digunakan petani di Kalteng. Pada 2017, mencapai 11 ribu hektare dan menyebar di enam kabupaten sentra jagung.

Dari luasan tersebut, 40 persen di antaranya terdapat kontribusi varietas unggul Badan Penelitian dan Pengkajian Pertanian (Balitbangtan). "Untuk pengembangan jagung di Kalimantan Tengah yang pada tahun 2018 ini, target produksi sebanyak 450 ribu ton," tutup Twenty.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng diketahui, mendorong jagung sebagai komoditas strategis penyumbang pendapatan asli daerah (PAD). Bahkan, Kabupaten Barito Utara ditargetkan menjadi sentra jagung 2020.

Alasannya, menurut Kepala Dinas Pertanian Barito Utara, Ir. Setia Budi, permintaan pasar cukup tinggi dan harganya kini berkisar Rp2,5 juta-Rp3 juta per ton. Apalagi, luas lahan yang tersedia masih cukup luas.

Di Desa Mampuak I, Desa Mampuak II, Desa Jamut, Desa Sei Liju, dan Desa Batu Raya, misalnya, telah ratusan hektare ditanami jagung. mempercepat realisasi sentra jagung pada 2020, Pemda Barito Utara akan membuka 52 ribu hektare lahan di 2018.

"Diharapkan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Apalagi, jagung sudah punya potensi pasar, seperti untuk memenuhi bahan baku pabrik pengolahan pakan ternak di Kalimantan Selatan," kata Setia.

Sebagai informasi, potensi lahan pertanian Kalteng cukup luas. Perinciannya, lahan pasang-surut 5,5 juta hektare, rawa lebak tiga juta hektare, dan la??han kering 7,7 juta hektare.

Sayangnya, pengembangan jagung di Kalteng dihadapkan beberapa kendala. Misalnya, produktivitas rendah dan tidak kontinu, infrastruktur lemah. Sehingga, investor kurang tertarik berinvestasi di industri pertanian.

Sumber: Dedy Irwandi/Balitbangtan Kementan


komentar (0)