Home » Bisnis

Dukung Kejayaan Hortikultura, Balitbangtan Ciptakan Mesin Perbenihan Otomatis

print this page Rabu, 15/11/2017 | 00:01

Kepala Balai Besar Percepatan Mekanisasi Pertanian Balitbangtan Kementan, Andi Nur Alam Syah. FOTO: Dok. pribadi

RILIS.ID, Jakarta— Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) menciptakan teknologi alsintan perbenihan otomatis sistem pneumekatronik. Alat tersebut merupakan salah satu solusi menyiapkan persemaian bibit cabai dan bawang merah secara cepat dengan penggunaan tenaga kerja minim.

Mesin yang diciptakan Balai Besar Percepatan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) Balitbangtan ini juga dapat digunakan untuk persemaian berbagai macam benih hortikultura dan perkebunan lainnya yang berasal dari biji. Bahkan, sudah terintegrasi dengan alsintan penyedia media tanam yang terdiri dari mesin penghancur, pencampur, hingga penabur tanah.

"Mesin otomatisasi perbenihan dan persemaian TSS modern ini, mampu menyiapkan benih sesuai dalam tray secara otomatis sebanyak 720 tray per jam atau 75.600 benih umbi mini per jam atau setara dengan 604.800 benih umbi mini per hari, bila bekerja selama delapan jam per hari," ujar Kepala BBP Mektan, Andi Nur Alam Syah, di Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Dengan demikian, mesin perbenihan modern itu mampu menyiapkan benih mini untuk sekitar 5–6 hektare per hari. Jumlah operatornya, 1-3 orang per mesin. Mesin ini dibuat sebagai bentuk dukungan BBP Mektan untuk menyukseskan program swasembada bawang merah, bawang putih, dan cabai. 

Nur Alam menambahkan, meski mekanisasi hortikultura yang diterapkan tergolong berteknologi tinggi. Namun, pengoperasiannya cukup sederhana dan mudah diterapkan petani. Sehingga, sangat layak secara ekonomi.

​Sebagai informasi, penanaman produk hortikultura, seperti cabai, dapat dilakukan melalui dua cara, tanam biji langsung (direct seedling) atau semai dan pindah tanam (transplanting). Sedangkan bawang merah, dengan cara tanam umbi, tanam biji (true shallot seed/TSS) langsung, serta semai dan pindah tanam.

Metode penanaman bawang merah dengan transplanting, produktivitas lebih tinggi, volume bibit lebih kecil, dan tanaman lebih sehat dibanding cara tanam umbi. Dosis penggunanan bibit TSS sangat kecil dibanding umbi, yaitu sekitar 3-6 kilogram per hektare. Sedangkan dengan umbi, memerlukan 1-1,5 ton per hektare. Meski demikian, penggunaan TSS memerlukan tambahan tenaga kerja cukup banyak, terutama untuk persemaian, sehingga biaya produksi cukup tinggi.

Penyiapan persemaian bawang merah dari TSS diperlukan tenaga kerja lebih dari 30 HOK. Karena itu, diperlukan sistem penyiapan persemaian benih dari TSS secara cepat, murah, dengan jumlah yang mencukupi kebutuhan, serta siap saat waktu dibutuhkan.

Penulis Fatah Sidik
Editor Sukarjito

Tags:

KementanBBP BalitbangtanAndi Nur Alam SyahBawang MerahBawang PutihCabai

loading...