logo rilis
Duh! Sudah Pernah Korupsi, Malah Terpilih lagi
Kontributor
Tari Oktaviani
05 Januari 2018, 23:08 WIB
Duh! Sudah Pernah Korupsi, Malah Terpilih lagi
FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.

RILIS.ID, Jakarta— Bupati Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan (Kalsel), Abdul Latif rupanya sudah pernah menjadi tersangka kasus korupsi pada tahun 2005. Saat itu, ia masih berstatus sebagai pengusaha kontraktor yang banyak mengerjakan proyek.

"Kami ingin sampaikan Bupati ALA ini sebelumnya, yang bersangkutan pernah diproses dalam kasus korupsi pada 2005-2006 terkait pembangunan unit sekolah baru SMA Labuan Amas Utara dengan anggaran Rp711 juta," kata Ketua KPK Agus Rahardjo dalam konfrensi pers di gedung KPK, Jakarta, Jumat (5/1/2018).

Berdasarkan keterangan Agus, Abdul Latif saat itu sudah dijatuhi hukuman selama 1,5 tahun penjara. Namun setelah bebas, ia kemudian mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kalsel pada 2014 hingga kemudian bisa menjadi Bupati Hulu Sungai Tengah.

"Setahun menjadi anggota DPRD dia mencalonkan diri jadi Bupati Hulu Sungai Tengah periode 2016-2021 hingga terpilih dan dilantik Februari 2016 lalu," kata Agus.

Melihat kejadian ini, Agus pun kemudian menyarankan agar masyarakat bisa pintar memilih pemimpin daerahnya. Jangan menyuarakan kepada mereka yang pernah terlibat dugaan kasus korupsi.

"Ini peringatan bagi kita semua tolong pilkada liat track record-nya orang. Mari pilih person yang baik dan tidak ada cacat sehingga tidak terjadi kasus seperti ini," tuturnya.

Sebagai informasi, KPK menetapkan empat orang tersangka dalam operasi tangkap tangan di kawasan Kalimantan Selatan. Adapun salah satu yang dinaikan ke tingkat penyidikan ialah Bupati Hulu Sungai Tengah Abdul Latif.

Selain itu, ketiga orang lainnya yang juga turut menjadi tersangka ialah Fauzan Rifani selaku Ketua Kamar Dagang Barabai, Donny Witono selaku Direktur Utama PT Menara Agung dan Abdul Basit selaku Direktur Utama PT Sugriwa Agung.

"Disimpulkan ada dugaan korupsi menerima hadiah atau janji, KPK meningkatkan status ke penyidikan dan menetapkan 4 tersangka yaitu sebagai penerima ALA, FRI, ABS dan sebagai pemberi DON," ujar Agus.

Tim KPK melakukan operasi tersebut lantaran diduga terdapat pemberian uang sebagai fee proyek pembangunan ruang perawatan kelas I, kelas II, VIP dan super VIP di RSUD Damanhuri Barabai sebesar 7,5 persen atau sekitar Rp3,6 miliar. 

"Salah satu realisasi sudah dilakukan adalah digunakannya kalimat, 'udah seger kan'," papar Agus.

Dalam kasus ini, si penerima yakni Abdul Latif, Fauzan Rifani dan Abdul Basit disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 uu tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP jo pasal 64 ayat 1 KUHP. 

Sedangkan sebagai pihak pemberi, Donny Witono disangkakan pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau pasal 13 UU tipikor jo pasal 64 ayat 1 KUHP.


#Korupsi
#Kalimantan Selatan
#Bupati
#Abdul Latif
#Pilkada 2018
#KPK
500
komentar (0)