Home » Fokus

Duh! Anak SD Harus Bikin Esai

print this page Jumat, 12/1/2018 | 18:17

ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

WADUH! Begitulah jawaban Zulfah, 40 tahun, yang kaget mendengar kabar soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dengan format esai untuk siswa tingkat sekolah dasar (SD).

"Kok lucu, sih?" tanya dia sambil tersenyum bingung.

Segudang pertanyaan muncul. Mulai dari bagaimana standar menilai betul atau salah logika si anak, metode pemeriksaan berbasis komputer hingga kompetensi para bocah membuat uraian singkat. "Tapi, untung deh, cuma tiga mata pelajaran," tambah dia.

Sampai sekarang, kata Zulfah, belum ada sosialisasi dari pihak sekolah. Jadi, belum tahu juga bener apa enggak "begitu" modelnya.

Tapi yang pasti, pemerintah terlalu buru-buru banget menerapkan USBN di tahun ini. Waktunya udah mepet banget. Kurang dari 3 bulan lagi (April 2018).

"Harusnya untuk tahun depan. Bukan sekarang," tambah dia, yang juga orang tua murid dari salah satu sekolah swasta di bilangan Depok, Jawa Barat. 

"Ujung-ujungnya, kasihan orang tua yang punya ekspektasi supaya anaknya bisa masuk sekolah negeri. Kalau nilainya 'jeblok', gimana? Sedangkan, ketentuan USBN masih rancu dan dadakan," ujar dia.

Wali kelas di SD Negeri Pasar Minggu 05 Pagi, Jajuli, mengatakan pihak sekolah terus berusaha mendorong siswanya agar siap menghadapi USBN. Misal, dengan pendalaman materi.

"Tiga kali dalam seminggu, kita lakukan," kata dia.

Alasannya, karena tidak semua buku paket menunjang materi ujian, sehingga harus ada pemebakalan secara intensif. Ini juga untuk membangun semangat para murid agar gak gampang stres.

Berkaitan dengan soal esai, Ruslan, selaku kepala sekolah di SD tersebut menyatakan pihaknya tentu akan mengikuti standar yang ditetapkan. Namun, untuk esai, pasti penilaiannya berbeda.

"Karena, menilai esai adalah melihat alur berpikir si anak," kata Ruslan.

Namun, kebijakan tersebut menjadi ganjalan. Menurut pengamat pendidikan, Muhammad Abduhzen, esai adalah instrumen pengembangan dari model berpikir.

"Kalau begitu, pemerintah, harus memperhatikan proses pembelajaran di sekolah," kata Abduhzen. 

Pengembangan nalar perlu menjadi proses pembelajaran bagi para siswa. Karena, gak mecing kalau ujian ada esai, sedangkan model belajarnya cuma subtansi materi saja. 

Berdasarkan riset lembaga internasional, penalaran siswa Indonesia masih rendah. Karena, kegiatan pemberdayaan kompetensi guru dalam metode tersebut belum cukup luas.

"Padahal dana pendidikan kita terbilangnya saja besar, tapi penggunaannya tidak efektif," bebernya.

Pada Rabu, 10 Januari kemarin,  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) resmi mengumumkan format USBN 2018 untuk jenjang SD, SMP, SMA dan dan sederajat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, menyebutkan bahwa ada tiga mata pelajaran untuk ujian jenjang SD di 2018. Yakni, Matematika, Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Formatnya, 90 persen soal berjenis pilihan ganda (PG) dan 10 persen esai.

"Untuk jenjang SMP, SMA, SMK dan pendidikan kesetaraan lainnya, seluruh mata pelajaran akan diujikan dalam USBN. Dan tidak ada lagi pelaksanaan untuk ujian sekolah," kata Muhadjir.

Kemudian, pola penyusunan soal USBN, kata dia, akan melibatkan guru dengan porsi 70 - 75 persen, sedangkan 20 - 25 persen disiapkan pusat. (bersambung)

Baca juga:
Duh! Anak SD Harus Bikin Esai (bag. 1)
Ujian Nasional Bakal 'Makan' Tumbal? (bag. 2)
Antara Nilai dan Kelakuan Siswa Sekolah (bag. 3)
USBN Jangan Merepotkan (bag. 4)

Penulis Afid Baroroh
Editor Andi Mohammad Ikhbal

Tags:

USBNUjian MasionalKemendikbudUN 2018