Home » Inspirasi » Sosok

Dua Tempat Bersejarah bagi OSO

print this page Kamis, 30/11/2017 | 17:00

ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

ADA dua tempat yang sangat penting buat Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang (OSO) yang membuat karakter dirinya seperti sekarang ini. Dua tempat itu, Nagari Sulit Air, Solok, Sumatra Barat dan Sukadana di Pontianak, Kalimantan Barat.

Dalam sebuah kesempatan, penulis sempat melihat langsung kampung halaman OSO dari pihak ibundanya. Rumah peninggalan keluarganya yang tak jauh dari objek wisata Seribu Jenjang itu terawat dengan baik. 

OSO dan sejumlah anggota MPR sempat beristirahat sejenak di tempat itu setelah menggelar Sosialisasi Empat Pilar dan juga sebelum pesta rakyat Ulang Tahun ke-195 Nagari Sulit Air, malam harinya.

Ketika menyinggung masa lalu di Sulit Air, suara OSO sempat bergetar. Ada perasaan sedih dan terluka dan ini pula yang membuat rasa nasionalisme OSO bangkit. Di Sulit Air kakeknya diusir ke Kalimantan oleh penjajah Belanda karena memberontak terhadap kolonialisme Belanda. 

"Wajar jika Perang Padri itu lahir dari Sulit Air ini sebagai perlawanan terhadap penjajahan," ujarnya.

OSO dikenal sangat bersahabat dengan kalangan seniman. Namanya sangat terpateri di kalangan pelukis senior Indonesia. Dia juga tak segan untuk mensponsori pameran lukisan untuk mengangkat derajat para pelukis pemula dan senior.

Belum lama ini misalnya, OSO  membuka pameran 34 pelukis bertajuk Ragam Pesona Seni Lukis Nusantara di Jakarta. OSO menggandeng para pelukis untuk bekerja sama dengan Kadin Indonesia menggelar pameran secara rutin.

“Seni lukis adalah bagian dari ekonomi kreatif dan nilainya saya kira sama dengan properti yang naik terus nilainya,” kata OSO yang juga Ketua Umum Partai Hanura ini. "Ingat para pelukis juga harus sejahtera."

Soal kesejahteraan ini, OSO juga pernah menyinggung perihal nasib wartawan terutama yang sehari-hari ngepos di Kompleks Parlemen. Pemilik OSO Group ini bahkan sempat melontarkan wacana agar Setjen MPR tidak hanya memperhatikan media besar.

"Berikan juga iklan kepada media-media kecil yang penting institusi mereka jelas. Jangan anggap enteng, mereka juga perlu dilibatkan dalam sosialisasi ini," ujarnya.

OSO memang dikenal sebagai sosok kotroversial, meledak-ledak tetapi banyak guyon dan humanis. Ada yang menyebut OSO itu 'spesialis tandingan'. Dia bikin Kadin tandingan dan juga HKTI tandingan.

Tapi itulah yang menyebabkan mantan preman di Pelabuhan Makassar ini menjadi sosok yang diterima semua kalangan. Termasuk 'musuhnya' sekalipun.

Saat membuka pameran seni lukis di Kompleks Parlemen, misalnya OSO sempat bercanda dan berdialog penuh keakraban dengan Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Padahal keduanya berseteru karena berbeda bendera HKTI.

Tak kalah menarik perihal latar belakang pendidikannya. Pendidikan setingkat SMA diperoleh lewat penyetaraan Paket C. Uniknya, gelar doktor kehormatan (Dr. HC) dari Senior University International di Amerika Serikat pada 1999 diperolehnya sebelum tamat Paket C pada 2006.

Itulah uniknya OSO!

Penulis Yayat R Cipasang

Tags:

oesman sapta odang sosok mproso