logo rilis
Dua Strategi Kemenhan Hadapi Gugatan Avanti Communications
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
15 Mei 2018, 09:21 WIB
Dua Strategi Kemenhan Hadapi Gugatan Avanti Communications
Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Kementerian Pertahanan (Kemenhan) nenyiapkan dua strategi untuk menghadapi gugatan Avanti Communications. Operator satelit asal Inggris itu menuding pemerintah Indonesia belum memenuhi kewajiban membayar sewa L-Band Artemis di slot orbit 123 derajat Bujur Timur.

Kedua strategi tersebut adalah nonlitigasi dan litigasi. Nonlitigasi merupakan penyelesaian melalui jalur perdamaian atau negosiasi. 

"Strategi ini membutuhkan dukungan anggaran yang harus dipenuhi dalam waktu sangat terbatas," ujar Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, di Jakarta, Senin (14/5/2018). 

Sedangkan litigasi, penyelesaian melalui jalur hukum. Kemenhan telah bekerja sama dengan Kejaksaan Agung dengan memberikan surat kuasa khusus (SKK) sebagai jaksa pengacara negara mewakili pemerintah untuk menghadapi Arbitrase Internasional.

"Itu sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 dan PP Nomor 38 Tahun 2010," jelas mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini.

Ryamizard menambahkan, proses sidang masih berlangsung sampai kini dan diperkirakan selesai akhir 2018. Diharapkan berharap semua pihak memberikan dukungan kepada pemerintah, agar permasalahan di atasi dengan baik.

"Di sisi lain, apabila pemerintah tidak menindaklanjuti upaya yang sudah dilakukan Kemhan. Maka berdasarkan ketentuan Pasal 11, Pasal 49, maka slot orbit digunakan negara lain, hak atas layanan satelit bergerak akan hilang, dan selamanya bergantung pada pihak asing yang akan melemahkan pertahanan Indonesia," bebernya.

Karenanya, mempertahankan slot orbit 1230 BT penting dikakukan. Apalagi, pertahanan negara yang kuat memerlukan dukungan sistem komunikasi yang terintegrasi, kerahasiaan terjamin, dan mampu menghubungkan satuan-satuan yang bergerak dengan mobilitas tinggi.

Selain itu, imbuh Ryamizard, juga mampu menjangkau tempat-tempat terpencil di darat, laut, dan udara di seluruh wilayah Indonesia. Sistem komunikasi pertahanan juga harus tahan terhadap cuaca ekstrem. 

"Keberadaan satelit L-Band di slot orbit 1230 BT dapat memenuhi kriteria kebutuhan tersebut, karena memiliki kemampuan untuk menjangkau daerah-daerah dan pulau-pulau terpencil di Indonesia yang merupakan negara kepulauan, komunitas maritim, vessel monitoring system, komunikasi untuk monitoring bencana, seperti search and rescue, serta komunikasi pertahanan dan keamanan," pungkasnya.

Editor: Fatah H Sidik


500
komentar (0)