logo rilis
Dua Provinsi di Sumatera Dilanda Banjir dan Longsor, 20 Orang Meninggal
Kontributor

13 Oktober 2018, 19:00 WIB
Dua Provinsi di Sumatera Dilanda Banjir dan Longsor, 20 Orang Meninggal
Banjir yang terjadi Sumatera Barat. FOTO: Instagram

RILIS.ID, Jakarta— Hujan deras yang melanda wilayah di Sumatera Utara dan Sumatera Barat selama Kamis dan Jumat (11 dan 12/10/3018) kemarin dan menyebabkan bencana banjir, banjir bandang serta longsor.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dari data sementara yang dilaporkan BPBD Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat, banjir dan longsor menyebabkan 20 orang meninggal dunia, 15 orang hilang dan puluhan orang luka-luka di 4 wilayah yaitu di Kabupaten Mandailing Natal, Kota Sibolga, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Pasaman Barat.

Di Sumatera Utara, banjir dan longsor melanda 9 kecamatan di antaranya di Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara yaitu Kecamatan Natal, Lingga Bayu, Muara Batang Gadis, Naga Juang, Panyambungan Utara, Bukit Malintang, Ulu Pungkut, Kota Nopan dan Batang Natal pada Jumat (12/10/2018). 

Sutopo mengatakan, di Sumatera Utara, data sementara tercatat 13 orang meninggal dunia dan 10 orang hilang di Mandailing Natal.

Sebelas murid madrasah di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, meninggal dunia tertimpa bangunan yang hancur diterjang banjir bandang pada Jumat (12/10/2018) sore saat jam pelajaran sedang berlangsung dan  diperkirakan 10 orang hilang. 

"Kejadian berlangsung mendadak. Sungai Aek Saladi tiba-tiba mengalir dengan debit besar dan membawa lumpur dan meluap sehingga menerjang madrasah. Jumlah korban hilang masih dapat berubah karena belum dapat dipastikan. Korban tertimbun lumpur dan material tembok yang roboh," jelas Sutopo dalam siaran persnya di Jakarta, Sabtu (13/10/2018).

Sementara itu pada Sabtu (12/10/2018) pagi ditemukan 2 korban meninggal lagi akibat kendaraan masuk sungai dan hanyut. 

Korban meninggal adalah 1 orang polisi dan 1 orang pegawai PT. Bank Sumut. 

Dampak banjir bandang dan longsor di Mandailing Natal lain adalah 17 unit rumah roboh, 5 unit rumah hanyut, ratusan rumah terendam banjir dengan ketinggian 1 hingga 2 meter di Kecamatan Natal dan Muara Batang Gadis. 

Tercatat, kata Sutopo, 8 titik longsor berada di Kecamat Batang Natal.

Ia melanjutkan, evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban masih dilakukan. 

Kendala evakuasi yaitu kondisi medan berat karena desa-desa terdampak berada di pegunungan, pinggir hutan dan akses sulit dijangkau karena rusak. 

BPBD Mandailing Natal, BPBD Provinsi Sumatera Utara, TNI, Polri, SAR Daerah, SKPD, PMI dan relawan menangani darurat bencana. 

Bupati telah menetapkan status tanggap darurat banjir dan longsor di Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara selama 7 hari mulai 12 hingga 18 Oktober 2018). 

Kemudian, kata Sutopo, hujan derat juga menyebabkan longsor di beberapa daerah di Kota Sibolga, Sumatera Utara, Kamis (11/10/2018) pukul 16.30 WIB kemarin. 

Longsor menyebabkan 4 orang meninggal dunia, 1 orang luka berat dan 3 orang luka ringan. 

Kerugian material meliputi 25 rumah rusak berat, 4 unit rumah rusak sedang dan sekitar 100 rumah terendam banjir dengan tinggi 60 hingga 80 centimeter.

Sementara di Sumatera Utara, banjir bandang juga terjadi di Nagari Tanjung Bonai, Jorong Kalo-Kalo, Jorong Ranah Batu di Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar, pada Kamis (11/10/2018) pukul 20.30 WIB kemarin.

Banjir bandang menyebabkan 4 orang meninggal dunia dan 3 orang hilang. 

Terdapat korban anak-anak atas nama Anis (2,5) san W.Efendi (10) yang hanyut akibat banjir bandang. 
Korban meninggal lain adalah Roni (30) dan Yerinda (56), sementara 3 korban hilang adalah Erizal (55), Daswirman (58) dan Yusrizal (45).

Selain terdapat 6 orang luka-luka, 6 unit rumah rusak berat, 3 kedai rusak berat, 1 ruko rusak berat dan 2 jembatan rusak berat. 

BPBD Tanah Datar bersama TNI, Polri, SKPD, relawan dan masyarakat melakukan evakuasi dan pencarian korban dengan menyusuri sungai.

Bupati Tanah Datar juga telah menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari mulai 12 hingga 18 Oktober 2018. 

Kemudian, beberapa wilayah di Kabupaten Pasaman Barat juga terjadi longsor dan banjir pada Kamis (11/10/2018) pukul 19.30 Wib. 

Wilayah yang mengalami bencana adalah Kecamatan Pasaman, Ranah Batan, Koto Balingka, Sungai Beremas, Lembah Melintang, Gunung Tuleh, Talamau, Sasak dan Kinali dengan korban 1 orang meninggal dunia dan 2 orang hilang. 

Kerusakan meliputi sekitar 500 unit terendam banjir, 3 unit jembatan gantung roboh dan 2 unit rumah hanyut.

BPBD Kabupaten Pasaman Barat bersama aparat lain melakukan penanganan darurat. 

BPBD menyalurkan bantuan logistik untuk korban terdampak. Kebutuhan mendesak alat berat, sembako, selimut dan pakaian. 

"Di Kabupaten Pasaman Barat, bupatinya juga telah menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari," pungkas Sutopo Purwo Nugroho.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID