logo rilis
Drama Kecelakaan versi Setya Novanto
Kontributor
Tari Oktaviani
27 April 2018, 13:16 WIB
Drama Kecelakaan versi Setya Novanto
Terdakwa Korupsi e-KTP Setya Novanto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Terdakwa kasus dugaan korupsi Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP) Setya Novanto menceritakan pada hakim seputar kronologis kecelakaan yang pada pertengahan November lalu. Menurutnya, saat itu memang posisi mobil yang ditumpanginya dalam keadaan mengebut.

Mulanya Novanto menjelaskan, kala itu ia hendak menuju Metro TV di Kedoya. Ini lantaran adanya permintaan dari rekan wartawan yang memang memiliki hubungan dekat dengannya yakni Hilman Mattauch.

Saat itu, di dalam perjalanan, Novanto menyampaikan ia diminta Hilman untuk siaran langsung melalui sambungan telepon secara ekslusif. Ini mengingat saat itu Novanto memang tengah dicari oleh KPK.

"Dia (Hilman) beberapa kali di telepon. Nah, pas sudah live baru dikasihkan ke saya. Dia terus dikejar sama orang kantornya makanya dia ngebut," kata Novanto dalam persidangan di Pengadilan Tipikor dengan terdakwa Dokter Bimanesh Sutardjo, Jumat (27/4/2018).

Lalu, menurutnya, saat di perjalanan tiba-tiba ada batu besar yang kemudian Hilman sebagai supir langsung menghindarinya. Akibat itu, mobil yang ditumpanginya pun kemudian terbentur ke tiang listrik.

"Nah, enggak tahu gimana ditengahnya itu ada batu besar gitu nah mungkin dia mau menghindar. Tiba tiba nabrak, saya kebentur sana-sini, tau-tau saya bangun sudah di rumah sakit, pakai baju biru. Nah, bangun-bangun ada dokter yang mau periksa saya," jelasnya.

Menurutnya, dirinya saat menghantam tiang listrik sempat membentur benda keras di depannya. Sehingga hal itu lah yang kemudian membuat adanya luka memar di dahi.

Sementara itu, saat ditanya oleh hakim terkait keadaannya saat di Rumah Sakit, Novanto mengaku sudah tak ingat lantaran dirinya pingsan. Padahal, dalam beberapa kali keterangan saksi banyak yang menyebutkan Novanto tidak dalam keadaan pingsan saat datang ke RS Medika Permata Hijau.

"Pingsan yang mulia. Karena kata istri saya cukup lama saya pingsannya yang mulia," katanya menjawab pertanyaan hakim.

Tak hanya itu saja, ia juga membantah meminta dokter untuk segera memerban kepalanya. Menurutnya, saat bangun dari sadar ia sudah diperban dan dipasang infus.

Dalam kasus ini, dokter Bimanesh bersama Fredrich Yunadi didakwa merintangi penyidikan kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat Setnov. Mereka berdua diduga memanipulasi data medis Setnov agar bisa dirawat. 

Bimanesh dan Fredrich Yunadi disebut merekayasa agar Setnov dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau pada pertengahan November 2017 untuk menghindari pemeriksaan penyidik KPK.

Editor: Sukardjito


500
komentar (0)