logo rilis
DPR: Perlu Ada Keseimbangan Harga Beras di Masyarakat
Kontributor

21 Mei 2018, 23:59 WIB
DPR: Perlu Ada Keseimbangan Harga Beras di Masyarakat
ilustrasi stok beras. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua Komisi VI DPR, Dito Ganinduto, menyatakan perlu ada keseimbangan yang pas dalam menentukan harga beras di tengah masyarakat. Sehingga, tidak memberatkan warga atau merugikan petani yang memproduksinya.

"Yang terpenting sekarang adalah menjaga harga beras ke konsumen bagus, begitu juga dengan harga dari petani ke produsen bagus," kata Dito Ganinduto di Jakarta, Senin (21/5/2018).

Menurut Dito, dengan demikian usaha petani juga bakal bertumbuh kepada petani dan kebijakan yang ada tidak hanya memberikan harga murah kepada warga yang menjadi konsumen.

Politisi Golkar itu juga mempertanyakan mengenai rencana Kementerian Perdagangan yang kembali bakal mengimpor beras, padahal Bulog menyatakan bahwa ketahanan pangan saat ini mencukupi.

Sebelumnya, Perum Bulog berencana menjual beras renceng dalam bentuk saset agar masyarakat kelas bawah tetap bisa mengonsumsi nasi dengan harga yang relatif terjangkau.

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, dalam audiensi dengan media di Kantor Perum Bulog, Jakarta, Senin, 14 Mei lalu, mengatakan beras renceng akan dijual dalam kemasan 250 gram dan 500 gram dengan harga termurah Rp2.000 per bungkus.

Solusi beras renceng ini, kata dia, sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo yang menginginkan beras harus terjangkau seluruh lapisan masyarakat dan tersedia di warung-warung kecil.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) meminta para pelaku usaha untuk menyalurkan beras kualitas medium ke pasar rakyat, guna memastikan pasokan dan harga bahan pokok tersebut stabil sebelum memasuki bulan Ramadhan yang jatuh pada Mei 2018.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kementerian Perdagangan, Kasan, mengatakan bahwa mulai 13 April 2018 Kemendag mewajibkan seluruh pedagang pasar rakyat untuk menyediakan beras medium dan menjualnya sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)