logo rilis
DPR Kecam Diskualifikasi Atlet Judo Indonesia karena Hijab
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
09 Oktober 2018, 20:15 WIB
DPR Kecam Diskualifikasi Atlet Judo Indonesia karena Hijab
Atlet Blind Judo Indonesia, Miftahul Jannah. FOTO: Instagram

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih mengecam diskualifikasinya atlet putri Indonesia, Miftahul Jannah hanya karena alasan menggunakan hijab, dalam cabang Judo di kejuaraan Asian Para Games 2018 di Jakarta, Senin (8/10) kemaren.  

"Prinsipnya, tidak boleh ada pelarangan atas hak menjalankan kepercayaan seseorang, apalagi di ranah olahraga yang menjunjung tinggi nilai humanisme universal,” katanya di Jakarta, Selasa (9/10/2018). 

Menurut Fikri, hal tersebut sepenuhnya karena kesalahan panitia, dalam hal ini National Paralympic Comittee, maupun cabor yang menaungi para atlet judo.  

“Bagaimana bisa regulasi tidak didalami lebih dahulu, sampai Miftahul harus turun ke lapangan dan akhirnya didiskualifikasi juri?” heran politisi PKS ini. 

Ia menuturkan, mestinya sejak technical meeting pre match, semua sudah clear, sehingga tidak sampai ke pertandingan.

Fikri juga mempertanyakan, kenapa pihak terkait sampai lalai terkait regulasi yang berlaku dalam cabang Judo tersebut. 

"Ini menunjukkan panitia dan cabor tidak siap menerjunkan para atlet bertanding,” cetus Fikri.

Fikri mengakui, regulasi dalam pertandingan internasional judo berdasarkan ketentuan IJF (International Judo Federation) belum membolehkan atlet menggunakan tutup kepala apapun, termasuk jilbab dalam kejuaraan. 

“Mestinya bisa negosiasi sebelumnya, kalaupun permintaan gagal dipenuhi, tidak sampai merugikan kontingen Indonesia seperti ini,” sesal Fikri.

Lebih jauh, kejadian ini akan membuat interpretasi negatif di kalangan publik Indonesia yang mayoritas Muslim. 

"Masyarakat Muslim akan bereaksi karena melihat simbol Islam seperti jilbab dilarang dalam event yang ditonton jutaan orang dan hal itu menyakiti publik,” tuturnya. 

Kemudian bisa timbul prasangka lain, karena sebelumnya di event yang lebih besar seperti Asian Games yang baru saja usai, banyak atlet putri yang berhijab, ikut bertanding. 

"Dan jilbab terbukti tidak menghalangi atlet untuk berprestasi, bahkan meraih emas, lantas kenapa masih ada pelarangan semacam ini?” katanya. 

Fikri pun mendukung penuh langkah yang dipilih atlet tunanetra asal Aceh yang lebih memilih untuk tidak melepas hijabnya, kendati harus didiskualifikasi dari pertandingan.   

Fikri juga meminta pemerintah tetap memberi penghargaan bagi Miftah. 

"Pemerintah harusnya memberi penghargaan untuk Miftah atas usaha dan kerja kerasnya sebagai atlet, namun tetap teguh menjaga keyakinannya sebagai muslimah," katanya. 

Senada dengan Fikri, Pimpinan Komisi X DPR RI yang membidangi olahraga, Sutan Adil Hendra (SAH) jug sangat menyayangkan pelarangan atlet Judo Blind Indonesia untuk bertanding di Asian Para Games, hanya karena menolak melepaskan jilbab saat akan bertanding. 

SAH juga mempertanyakan hasil annual meeting yang dilakukan sebelum event atau pertandingan. 

"Masalah ini harusnya tidak terjadi jika sejak setahun lalu rapatnya, pemerintah bisa melakukan keberatan pada panitia, karena semua ada tertera dalam official technical handbook, mengapa tidak kita antisipasi. Apalagi mereka main di Indonesia, yang mayoritas beragama Islam. Sejatinya mereka punya toleransi terhadap ajaran agama Islam yang dianut oleh mayortias masyarakat Indonesia," kesal SAH. 

Sepanjang Asian Games 2018 Agustus kemarin, bertebaran atlet-atlet putri bangsa peraih medali yang juga menggunakan hijab. 

Di cabang panjat tebing ada Aries Susanti Rahayu dan Puji Lestari. Di cabang pencaksilat ada Puspa Arum Sari dan Sarah Tria Monita, Nandita Ayu dan lain sebagainya. 

 

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID