logo rilis
DPR Duga Kenaikan Harga Bawang Putih Karena Ada 'Oknum Nakal'
Kontributor
Nailin In Saroh
11 Februari 2020, 16:31 WIB
DPR Duga Kenaikan Harga Bawang Putih Karena Ada 'Oknum Nakal'
Bawang Putih. FOTO: RILIS.ID

RILIS.ID, Jakarta— Anggota komisi IV DPR RI, Andi Akmal Pasluddin menduga naiknya harga bawang putih hingga kisaran Rp60.000 per kilogram, dikarenakan adanya permainan sejumlah oknum pedagang nakal.

Pasalnya, menurut Andi Akmal, tahun lalu Indonesia sudah impor bawang putih cukup besar. Semestinya, kata dia, masih ada 133 ribu ton bawang putih yang tersebar di gudang-gudang pedagang. 

"Mestinya janganlah menahan-nahan stock ini demi mengerek harga dengan isu menakutkan, corona," ujar Andi Akmal dalam keterangannya, Selasa (11/2/2020).

Politisi PKS ini menilai, tidak sewajarnya bawang putih ini naik dengan alasan virus corona. Sebab, kata Akmal,  penghentian impor bawang putih dari Cina justru sudah sangat tepat.

"Tapi, tidak wajar harga bawang Putih yang biasanya rata-rata Rp 20.000/kilogram (kg), kini harganya bisa mencapai Rp 60.000/kg, bahkan hingga Rp 68.000/kg," tegas dia. 

Tak hanya itu, Akmal pun menyoroti sisa impor tahun 2019 yang semestinya masih ada pasokan 133.000 ton bawang putih hingga Maret tahun 2020 ini. Akmal mendesak agar Pemerintah turun tangan mengatasi gejolak harga bawang putih saat ini.

"Hukum pedagang nakal, cabut izinnya jika masih bermain-main menyengsarakan rakyat," tegas dia lagi. 

Andi Akmal menambahkan, perekonomian nasional sudah sangat rapuh. Banyak ujian bagi rakyat, mulai dari pertumbuhan ekonomi nasional yang minim, iklim invetasi yang buruk, UMKM-UMKM banyak yang gulung tikar, dan segala bencana alam yang terjadi dimana-mana.  

"Jangan ada lagi segolongan orang yang mencoba membuat rakyat kita makin sengsara dengan mempermainkan harga komoditas yang dipakai masal," kata Akmal menekankan.

Akmal menyarankan kepada kementerian pertanian, melalui dirjen Hortikultura agar melakukan komunikasi dengan berbagai pihak termasuk aparat sehingga stok bawang putih yang ditahan dapat ditelusuri.

Akmal berpendapat, bahwa kelangkaan komoditas bawang Putih ini sengaja diciptakan dengan mempermainkan supply dan demand. Untuk itu, menurutnya, koordinasi dengan BULOG juga penting dilakukan agar segera melakukan operasi pasar.

Tak hanya itu, Akmal juga meminta pemerintah agar menekan para importir dan para pedagang besar untuk melepas stoknya sehingga ada penurunan yang menjangkau daya beli masyarakat.

"Penghentian impor bawang putih ini seharusnya berdampak jangka panjang. Jangka pendek mestinya tidak terpengaruh karena stok masih ada berdasar data resmi badan ketahanan pangan kementerian pertanian. Penjarakan saja para pedagang yang sengaja menimbun stok komoditas dengan tujuan menaikkan harga. Karena aktivitas para spekulan model begini yang selama ini merusak tatanan bernegara kita," pungkasnya.  

Sebagai informasi, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) pada hari Minggu (9/2/2020), merilis data harga bawang putih di Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai Rp 68.350/kg, di Kalimantan Timur mencapai Rp 59.000/kg, dan di Yogyakarta mencapai Rp 58.750/kg.

 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID