logo rilis
Double Row, Rekayasa Tanam Jagung di Lahan Kering
Kontributor
Elvi R
06 Agustus 2018, 12:00 WIB
Double Row, Rekayasa Tanam Jagung di Lahan Kering
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Lahan kering yang dibatasi oleh ketersediaan air membutuhkan pengelolaan tanaman dalam satu kesatuan pola tanam mengikuti peluang curah hujan yang ada. Guna meningkatkan produktivitas jagung di lahan kering, telah dilakukan penelitian perekayasaan tanam jagung. Pelaksanaan pengkajian pertanaman jagung ini dilaksanakan di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo dan Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep.

Jagung varietas HJ 21 pada pengkajian ini ditanam dengan jarak tanam 75 sentimeter x 20 sentimeter dan setelah panen diperoleh hasil  5,0-6,7 ton per hektare pipilan kering, sedangkan dengan merekayasa jarak tanam menjadi double row 100 sentimeter x 50 sentimeter x 20 sentimeter dengan populasi benih yang sama diperoleh hasil 5,5-7,5 ton per hektare atau terdapat kenaikan 0,5-0,8 ton per hektare pipilan kering.

Selain hasil meningkat, jagung yang ditanam dengan jarak tanam double row membutuhkan biaya pengelolaan dan benih jagung yang sama dengan jagung jarak tanam yang biasa atau umum. Sehingga keuntungan usahatani meningkat, disamping itu pemeliharaan tanaman lebih mudah dilakukan karena terdapat ruang yang lebih lebar. 

Pada saat tanaman jagung menjelang dipanen (15 hari sebelum panen), batang diatas tongkol dan daun dibawah tongkol, dipangkas guna mempercepat pengeringan tongkol di lapang. Hasil pangkasan (biomas) jagung bisa mencapai 7-8 ton per hektare biomas segar dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi.

Setelah pemangkasan daun, dapat segera dilakukan tanam sisip (Relay planting) jagung atau kedelai secara tugal karena kelengasan tanah masih cukup tinggi sehingga sangat baik untuk pertumbuhan awal jagung atau kedelai. Dengan tanam sisip jagung/kedelai yang dilakukan lebih awal sekitar 15 hari, maka waktu panen menjadi lebih cepat sehingga resiko kekurangan air saat pengisian tongkol dapat dihindari oleh karena saat musim kemarau biasanya defisit air.

Sumber: Zainal Arifin/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID