logo rilis
​Dorong Ekspor Hortikultura, Pemerintah Alokasikan Rp38 Miliar untuk Kalbar
Kontributor
Fatah H Sidik
30 April 2018, 16:25 WIB
​Dorong Ekspor Hortikultura, Pemerintah Alokasikan Rp38 Miliar untuk Kalbar
Direktur STO Hortikultura Prihasto Setyanto (kanan) dan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan (kedua kanan) sela kunjungan kerja di Sungai Selamat, Desa Siantan Ilir, Pontianak Utara, Senin (30/4/2018). FOTO: Humas Kementan

RILIS.ID, Pontianak— Kementerian Pertanian (Kementan) mengucurkan anggaran Rp38 miliar untuk pengembangan hortikultura di Kalimantan Barat (Kalbar). Dana tersebut dikucurkan Direktorat?? Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementan.

"Kami memetakan Kalbar sebagai daerah potensial pengembangan buah-buahan tropis dan aneka sayuran," ujar Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura, Prihasto Setyanto, di Sungai Selamat, Desa Siantan Ilir, Pontianak Utara, Senin (30/4/2018).

Jeruk menjadi salah satu komoditas yang dikembangkan. Sebab, telah ditetapkan sebagai komoditas strategis nasional.

Kabupaten Sanggau, Kapuas Hulu, Bengkayang, Sintang, dan Sambas, menjadi beberapa titik pengembangan hortikultura di Kalbar, karena berbatasan dengan negeri jiran. Tujuannya, mendorong ekspor komoditas hortikultura di perbatasan.

Program tersebut menuai apresiasi dari Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Daniel Johan. Apalagi, lahan di Pontianak yang sebagian besar rawa gambut, cocok ditanami aneka sayur dan buah, seperti cabai, sawi, selada,  bawang merah, nanas, dan jeruk.

"Kalimantan, khususnya Kalbar, potensial untuk dikembangkan aneka sayur dan buah," katanya. "Selain sayuran, kita punya jeruk lokal yang sudah sangat terkenal dan melegenda, yaitu jeruk Siem Sambas atau jeruk Pontianak yang kualitasnya lebih baik dibanding jeruk impor," imbuh Daniel.

Sebagai informasi, seluas 200 hektare lahan di Pontianak ditanami sayuran. Di Desa Siantan Ilir, tanam hortikultura seluas 15 hektare dan diurus Kelompok Tani (Poktan) Bunga Khatulistiwa.

Meski begitu, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini meminta pemerintah menjamin ketersediaan pupuk dan benih. "Kami masih menerima keluhan dari petani terkait masalah benih dan pupuk ini," ungkap Daniel.

Dia mencontohkan dengan Poktan Bunga Khatulistiwa. Mereka butuh pupuk sayuran 320 ton, namun realisasinya 10 ton. Sebab, pemerintah memprioritaskan tanaman pangan.

Beberapa benih pun masih diimpor, seperti sawi dan kailan dari Cina. Sedangkan benih bayam, kangkung, dan sayur lokal, bisa dipenuhi dari daerah setempat.

Daniel juga meminta Kementan segera merealisasikan anggaran yang telah ada. Khususnya, untuk rehabilitasi jeruk di Sambas.

Berdasarkan Data Dinas Pertanian setempat, luas areal jeruk di Kalbar lebih dari 5.100 hektare. Lalu, cabai sekitar 2.300 hektare dan nanas 800 hektare. Petani di Mempawah, bahkan sudah mulai menanam bawang merah meski baru 59 hektare jenis Bima dan Brebes.


500
komentar (0)