logo rilis
Djauhari Oratmangun, Bertemu Xi Jinping Pakai Sarung
Kontributor
Yayat R Cipasang
23 Juni 2018, 20:06 WIB
Djauhari Oratmangun, Bertemu Xi Jinping Pakai Sarung
Duta Besar RI untuk China merangkap Mongolia, Djauhari Oratmangun. FOTO: Kemenlu

SARUNG pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-14 dibawa para saudagar Arab dan Gujarat yang beragama Islam.

Namun dalam perkembangannya, sarung tidak lagi identik dengan budaya Islam, khususnya di Tanah Jawa, karena umat Hindu di Bali juga mengenakan sepotong kain lebar yang dijahit pada kedua ujungnya sehingga berbentuk sarung untuk dikenakan ketika melaksanakan ritual keagamaan dan kebudayaan.

Seperti yang dilakukan oleh Duta Besar RI untuk China merangkap Mongolia, Djauhari Oratmangun, saat memenuhi panggilan untuk menghadap Presiden Xi Jinping di Balai Agung Rakyat, Beijing, Rabu (20/6/2018).

Tanpa terlihat canggung sedikit pun, diplomat karier kelahiran Beo, Sulawesi Utara, pada 22 Juli 1957, itu mengenakan sarung ketika menghadiri acara kehormatan di gedung megah dan bersejarah di sebelah Lapangan Tiananmen.

Sarung tenun khas Tanimbar, Maluku Tenggara Barat itu dikenakannya berpadu serasi dengan beskap warna hitam berkancing miring serta celana dan songkok penutup kepalanya.

Perpaduan warna merah, hitam, dan sedikit kuning emas pada motif tenun ikat yang dililitkan menutup bagian atas celana mirip pakaian khas Betawi mampu menunjukkan cita rasa Nusantara di mata pemimpin negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Tidak berlebihan jika kemudian Presiden Xi Jinpin menyunggingkan senyum saat menyambut Djauhari dalam upacara gelar kepercayaan yang berlangsung pada musim panas di bawah suhu udara 37 derajat Celcius itu.

Sebelum menyampaikan surat kepercayaan (kredensial) dari Presiden RI Joko Widodo kepada Presiden China Xi Jinping, Djauhari sempat berbicara sekitar dua menit.

Tapi tanggapan Presiden Xi lebih lama, sekitar empat menit, termasuk penuturannya mengenai Presiden Jokowi yang merupakan teman lamanya.

"Sampaikan salam hangat kepada beliau. Kapan pun beliau akan datang ke sini, saya siap menerimanya. Beliaulah yang bisa menentukan sendiri waktu yang tepat," ujar Xi kepada Djauhari mengenai rencana kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi ke China.

Keduanya pun berfoto bersama sebelum mengakhiri prosesi kredensial bersama 12 duta besar negara lain yang berkedudukan di Beijing.

Diplomat yang mulai berkarier di Kementerian Luar Negeri RI pada 1984 itu menemui salah satu tokoh berpengaruh di dunia tersebut dengan didampingi Wakil Dubes Listyowati, Koordinator Fungsi Protokol dan Kekonsuleran KBRI Beijing Ichsan Firdaus, dan Atase Pertahanan KBRI Beijing Kolonel (Inf) Mochamad Sjasul Arief.

Djauhari Oratmangun memiliki darah Maluku Tenggara Barat meskipun dia lahir di Beo, sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulut.

" Beo tempat saya lahir pada saat bapak saya ditugaskan ke sana," jawab Dubes Rusia merangkap Belarusia pada 2012-2016 itu.

Tanimbar merupakan nama kepulauan yang secara keseluruhan tercakup dalam wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Barat dengan ibu kotanya di Saumlaki.

Tanimbar juga merupakan nama suku yang berasal dari campuran Austronesia-Papua mendiami kepulauan tersebut.

"Sampai saat ini masyarakat Tanimbar masih menenun, termasuk tenun yang saya dan Bapak kenakan saat ini semua bikinan keluarga paman dari bapak di sana," kata Sih Elsiwi Handayani, istri Djauhari, yang juga mengenakan sarung tenun Tanimbar dipadu kebaya warna putih di Wisma Indonesia KBRI Beijing saat menantikan kedatangan sang suami pulang dari Balai Agung Rakyat yang berjarak sekitar 9,5 kilometer itu.

Sumber: ANTARA


komentar (0)