logo rilis

Dito Ariotedjo: AMPI Fokus Edukasi Milenial Urban dan Rural
Kontributor

12 Desember 2017, 20:24 WIB
Dito Ariotedjo: AMPI Fokus Edukasi Milenial Urban dan Rural
FOTO: RILIS.ID/Taufiq Saifuddin

SENGKARUT Partai Golkar hari ini harus dijadikan pembelajaran bagi generasi mudanya. Tak elok ketika partai tengah terpuruk kemudian generasi muda Golkar justru semakin memperkeruh suasana. 

Ketua Umum Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Dito Ariotedjo termasuk yang gundah dengan kondisi mutakhir Golkar. Karena itu ia mengajak anak muda Golkar untuk berkontrubusi sekaligus mempersiapkan generasi milenial memasuki tahun politik 2018 dan 2019. 

Baca Juga

Anak muda Golkar harus fokus pada isu politik yang lebih penting tinimbang ngurus sengketa internal. Sekaligus juga, memastikan tingkat partisipasi anak muda milenial dalam politik praktis semakin meningkat. 
 
Wartawan rilis.id Taufiq Saifuddin mewawancarai Ketum AMPI Dito Ariotedjo di kawasan SCBD Senayan, Jakarta, Selasa (12/12/2017), dan berikut petikannya.

Seperti apa AMPI melihat dinamika Golkar hari ini? 

Bagi kami, momentum ini adalah arena pembelajaran bagi generasi muda Golkar. Perseolan ini kan berkaitan erat dengan dua faktor besar, hukum dan politik. Untuk urusan hukum, negara kita sudah memiliki mekanismenya sendiri, walaupun sebenarnya ini juga berdampak ke masalah politik. Nah posisi AMPI akan berkonsentrasi menyoroti pada aspek politiknya saja. 

Pembelajaran yang dimaksud itu adalah untuk masa depan anak muda Golkar dalam berpolitik ke depannya. Dengan adanya momentum ini, kita bisa benar-benar merasakan dinamika politik itu sedemikan kerasnya. Gonjang-ganjing Golkar ini, ketika ada badai, kami bisa tahu, gimana sih tokoh-tokoh kunci Golkar bermanuver atau bereaksi. Jadi kami ada gambaran langsung bukan teori lagi. 

Belakangan ini kan asumsi publik melihat anak muda Golkar ini mengekor ke senior. Artinya cara mereka berperilaku politik itu menunggu arahan senior? 

Kalau itu yang dimaksud adalah fatsun, ya pasti AMPI juga ada fatsun ke senior. Cuma AMPI selama ini kan memiliki strategi destruktif. Kita ingin selalu berupaya out of the box. Sebelumnya ini tidak pernah berjalan di AMPI jadi hanya sebatas politik semata. 

AMPI hari ini betul-betul sudah mengisi sendi-sendi pengkaderan kepemudaaan sebelum dilempar ke politik praktis. Nah terkait dengan dinamika Golkar hari ini, senior tentu kita hormati tapi tentu saja AMPI memiliki cara pandang sendiri dan cara mengeksekusi sendiri. Cara itu kami fokuskan pada pengembangan generasi milenial sebagai pemilih pemula nantinya. 

Kalau seperti itu, bagaimana sikap AMPI terhadap persoalan hukum yang menimpa Ketua Umum Golkar Setya Novanto? Posisi AMPI seperti apa?

Sikap selama ini, kita konsolidasi internal terlebih dahulu, kita mencari skenario dan kemungkinan-kemungkinan, ya seperti teori jika. Jika begini, apa yang harus dilakukan, jika begitu apa yang harus dilakukan. 

Yang pasti induk kami (Partai Golkar, red) sudah mengadakan pleno, di situ sudah ada keputusan. Memang AMPI belum bersuara lebih lanjut karena yang paling benar adalah kita taat azas pada pleno itu. 

Tetapi dalam hidup kita sudah mempersiapkan segala sesuatu sebelum terjadi. Kami sudah ada rencana setelah ini akan melakukan apa. Salah satunya seperti fokus pada generasi milenial untuk berpolitik itu. 

Terkait korupsi, seperti apa sikap AMPI?

Kalau kami dari AMPI, sebenarnya pemberantasan korupsi itu harus dumulai dari hal kecil terlebih dahulu. Kalau ini kaitannya dengan akan diadakan Munaslub, ya mulailah dari hal kecil. Seperti dalam Munaslub nanti tidak boleh lagi ada money politics. Ini sudah tidak boleh terjadi. Itu kan hal fundamental dari bibit-bibit korupsi. Ukurannya sederhana sebenarnya. 

Lalu, bagaimana AMPI turut serta melakukan perbaikan citra Golkar jelang Munaslub dan setelah Munaslub? 

Menurut saya ke depan itu satu-satunya solusi untuk Golkar adalah partai ini harus mendekatkan diri kepada rakyat. Solusi untuk menaikkan elektabilitas di Pemilu 2019 adalah penempatan caleg yang benar dan tersistem. Caleg itu surveinya tinggi dan harus merepresentasikan pemuda dan perempuan. Nah, tiga hal itu yang bisa menyelmatkan Golkar. 

Terkait ide kepemudaan, tawaran AMPI untuk kepengurusan Golkar selanjutnya seperti apa? 

Anak muda itu kan di dunia sosial-politik bertumpu pada tiga aspek, yaitu inovasi, pencitraan dan pendidikan politik. Untuk merespons pergantian kepengurusan Golkar, setelah kami dilantik pada Februari 2017, ini sejalan dengan tagline AMPI yaitu, inovasi, solusi dan inspirasi. 

Jadi harapan kami, setiap kader AMPI harus bisa menanggapi masalah politik itu memiliki inovasi yang nantinya menjadi solusi, dari situ otomatis bisa menjadi inspirasi bagi setiap orang. 

Jadi setiap langkah-langkah anak muda Golkar minimal mewakili salah satu dari tiga komponen itu. Contoh, nantinya dalam pos-pos kepengurusan di Golkar harus ada representasi dari generasi milenial. Ini sebenarnya hal sederhana yang bisa dilakukan Golkar sebelum masuk pada strategi lainnya. 

Kalau fokus AMPI pada generasi milenial, bagaimana Anda melihat posisi generasi Y inisekarang ini dalam kecamata politik?

Pengamatan saya, ini masih kualitatif. Era sekarang anak-anak muda sudah peduli pada kebijakan publik dan juga sudah peduli pada isu-isu pemerintahan. Tingkat kesadarannya sudah tinggi sekali, tetapi yang menjadi masalah, kesadaran ini belum diimbangi oleh kepercayaan atau keminatan anak muda ini di partai politik. 

Nah ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Apabila kesadaran dan kepedulian sebagian besar anak muda akan keberlangsungan pemerintah sudah tinggi sekali, maka tentu di situ ada peluang bagi anak muda Golkar mengajak mereka untuk terlibat. 

Karena harus diakui, anak milenial yang melek kebijakan publik itu adalah mereka yang mapan secara ekonomi dan secara akademik mereka terdidik. 

Apa sebenarnya yang menjadi masalah mendasar anak muda tidak ingin terlibat di parpol? 

Saya ingin menjawab ini dengan mencontohkan usaha kami ketika kita ingin mengajak anak muda bergabung di Golkar atau pun AMPI. Kadang mereka hanya mengatakan, oh Golkar itu partai tua, Golkar birokrasinya tinggi dan patut difahami karena adanya embel-embel politik itu kotor. Di situlah inovasi menjadi sangat penting untuk Golkar ke depannya. 

Sekarang ini kan ada 130-an juta pengguna internet di Indonesia, penggunanya di dominasi oleh anak milenial. Artinya, bicara inovasi itu harus bertumpu pada digitalisasi di tubuh Golkar. Seingga dari situ akan mengakomodasi milenial perkotaan dan milenial pedesaan. 

Bisa dijelaskan bagaiamana AMPI memetakan milenial urban (kota) dan rural (pedesaan)? 

Jadi sebenarnya saya concern terhadap isu milenial ini awalnya mendadak. Para senior di kancah politik maupun saat ini lebih sering menyebut ide milenial. Bahkan Presiden Jokowi pun mengikuti gaya-gaya kekinian atau kids zaman now. 

Nah, dari situlah saya melakukan semacam riset kecil. Ketika saya melakukan konsolidasi AMPI ke daerah-daerah atau di pelosok, seperti di Sumatera, Kalimantan dan wilayah Indonesia lainnya. Ternyata saya menemukan adanya perbedaan yang signifikan. Jadi saya memiliki hipotesa, menjadi salah jika langsung mengasosiasikan generasi milenial ini semata peduli dan sangat suka e-commerce, startup, socmed dan sebagainya. 

Ternyata tidak demikian, pengguna internet yang maksimal itu hanya 60 persen. Sebanyak 40 persen lainnya itu ternyata masih sebatas pengguna socmed. Boro-boro mikirin itu, mereka mikirnya gimana sih bisa hidup sehari-hari. Nah ini yang akan kami kembangkan ke depan, memecahkan jawaban ini agar ke depan langkah dan kebijakan kami bisa menjawab kebutuhan milenial di kota dan desa. 

Seperti apa strategi AMPI membumikan ide ini? 

Itu dia, kalau saya memandang, ini masalah keterbukaan informasi dan pemerataan infrastruktur. Di samping juga menjadi bagian dari program prioritas pemerintah. Kami memandang, adanya gap antara milenial kota dan desa ini semata-mata dikarenakan masalah ketersediaan infrastruktur komunikasi informasi. 

Target pemerintah kan 2018 ini 100 persen sudah selesai, tugas kami adalah melakukan semacam shifting (pergeseran) budaya yang sangat cepat agar bisa mengubah masyarakat muda Indonesia ini. Maka target ke depan itu adalah keseragaman teknologi informasi di setiap provinsi ini. 

Ide besar ini tentu membutuhkan edukasi, lalu bagaimana AMPI melakukan pola pendidikan ke bawah? 

Yang akan kita tawarkan adalah platform sinergi digital Golkar dengan anak muda, tetapi kita mengkhususkan untuk membantu swalokalnya. Jadi intinya, yang namanya teknologi ujungnya membantu keseharian manusia menjadi lebih gampang. Jadi maping ini harus kita ketahui, kalau kita survei terakhir, intinya anak milenial itu membutuhkan mata pencaharian, pendidikan dan kesehatan. Tiga kunci itulah kita memasuki anak muda ke depannya.

Ide ini sudah diterapkan di AMPI?

Di level AMPI kalau level pusat sudah berjalan. Dan memang kalau kita ke daerah masih agak perlu usaha besar, karena ini kaitannya dengan infrastruktur. Pada intinya, ini sesuatu yang baru, soal digitalisasi fokus ke milenial, sebelumnya belum ada. Jadi kita akan berupaya semaksimal mungkin menggalakkan usaha ini.


#golkar
#ampi
#wawancara
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)