logo rilis
Ditembaki, Tim Investigasi Kimia PBB Gagal Masuki Douma
Kontributor

19 April 2018, 10:57 WIB
Ditembaki, Tim Investigasi Kimia PBB Gagal Masuki Douma
Kendaraan yang membawa tim investigasi senjata kimia OPCW tiba di Damaskus, Suriah, beberapa jam setelah Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis melancarkan serangan ke kota itu, pada Sabtu (14/4/2018). Credit: AP/Bassem Mroue

RILIS.ID, Beirut— Tim peninjau senjata bahan kimia dari PBB (OPCW) dilaporkan mendapat serangan tembakan ketika berupaya memasuki wilayah Douma, di Ghouta Timur, kemarin (18/4/2018).

Departemen PBB untuk Keselamatan dan Keamanan (UNDSS) menyampaikan, tim tidak dapat memasuki Douma dikarenakan rentetan tembakan serta alat peledak yang diledakkan di dekat pemberhentian mereka di dekat lokasi.

Melansir dari kantor berita Associated Press, tim OPCW terpaksa mundur ke pangkalan awal di Damaskus dan menunda misi pencarian bukti penggunaan senjata kimia oleh rezim Bashar al-Assad.

Laporan ini telah menepis kabar yang sebelumnya diberitakan media milik pemerintah Suriah SANA yang menyebut tim PBB telah diberikan akses masuk ke Douma.

Sejak serangan senjata kimia dilancarkan oleh pasukan udara rezim Assad pada Sabtu lalu, tim dari PBB selalu mendapat hambatan untuk melakukan tugas penyelidikan. 

Pada Senin (16/4), tim tidak dapat memasuki Douma karena terhalang blokade oleh rezim dan tentara Rusia. 

Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan, sebelum tim investigasi memasuki Douma, tim keamanan harus terlebih dahulu memastikan situasi di Douma kondusif untuk digelarnya penyelidikan.

Dikarenakan sulitnya tim investigasi PBB memasuki Douma, timbul kekhawatiran bukti-bukti senjata kimia akan dilenyapkan oleh pihak rezim dan polisi Rusia yang berjaga di kota tersebut.

"Sudah sangat lama sejak serangan dilancarkan, 11 hari. Jika ada pihak yang mengontrol lokasi penyerangan selama itu, sangat mudah bagi mereka untuk merusak bukti-bukti dan memutarbalikkan fakta di lapangan," jelas mantan Inspektur OPCW Ishak Majali, melansir dari Al Jazeera.

"Mereka bisa melakukan semacam operasi militer untuk melakukan proses dekontaminasi. Upaya itu akan melenyapkan semua bukti di lapangan dengan menggunakan bahan kimia yang akan menetralisir unsur kimia dan amunisi," lanjut Ishak.

Tepat setelah serangan dilancarkan, organisasi relawan White Helmets telah menemukan rumah-rumah dan lokasi di mana jasad anak-anak, perempuan, serta warga sipil lainnya mengeluarkan busa dari mulutnya.

Kepada Associated Press Kepala White Helmets Raed Saleh menyatakan, kelompoknya telah menginformasikan lokasi tersebut kepada tim dari PBB yang akan menggelar investigasi.

Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada perkembangan mengenai upaya pembuktian fakta yang terjegal kekuatan rezim dan Rusia yang menguasasi Douma.

 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID