logo rilis

Disebut Ekonomi Kebodohan, Ini Kata Pendukung Jokowi
Kontributor
Nailin In Saroh
12 Oktober 2018, 16:15 WIB
Disebut Ekonomi Kebodohan, Ini Kata Pendukung Jokowi
Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokow-Ma'ruf Arsul Sani. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokow-Ma'ruf, Arsul Sani menyayangkan kritik Calon Presiden nomor urut 02 yang menyebut sistem ekonomi Indonesia sekarang dengan ekonomi kebodohan. Menurutnya, jika sistem ekonomi yang dianut pemerintahan Joko Widodo salah, seharusnya mantan Danjen Kopassus itu memberikan saran bukan hanya menyalah-nyalahkan.

"Ini pak prabowo tampaknya juga senada sama timnya kan begitu. Padahal yang kita ingin dengar itu, katakanlah kalau kebijakan ekonominya pak jokowi itu salah, harusnya seperti apa?" ujar Arsul di kompleks parlemen, Senayan, Jumat (12/10/2018).

Sebab di negara Demokrat manapun, lanjut dia, daya pembeda antara pemerintah dengan yang diluar pemerintahan atau beroposisi itu ada pada konsep. Bukan pada berhenti mengkritisi, menyalah-nyalahkan. 

"Pada tawaran konsep yang lebih baik. Itu distingsinya seperti itu. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau-beliau itu yang belum keliatan," kata Sekjen PPP ini.

Ia pun heran oposisi selalu menyampaikan distingsi, dalam hal ini menakut-nakuti rakyat. Mulai dari Indonesia bubar 2030, Indonesia akan punah, kemudian sistem perekonomian indonesia kacau atau sebagainya. 

"Nah yang bener itu seperti apa? Itu contoh misalnya yang kita harapkan," tegas Arsul.

"Kalau selalu dikritisi tentang soal hutang untuk pembangunan, kan kita pengen mendengar alternatif pembangunan tanpa hutang itu yang seperti apa? Apakah rakyatnya akan diminta untuk iuran tiap hari jumat gitu ya berapa gitu loh. Atau apa? Itu yang ingin kita dengar sebetulnya," kata Arsul menambahkan.

Diketahui, Prabowo menyebut sistem ekonomi di Indonesia saat ini tidak berjalan dengan benar. Prabowo juga menilai sistem ekonomi yang berjalan sudah lebih parah dari paham neoliberalisme yang dianut oleh Amerika Serikat. Sebab, kata dia, angka kesenjangan sosial masyarakat Indonesia semakin tinggi. Bahkan, ia menyebut Indonesia tengah mempraktikkan sistem ekonomi kebodohan.

"Ini menurut saya bukan ekonomi neoliberal lagi. Ini lebih parah dari neolib. Harus ada istilah, ini menurut saya ekonomi kebodohan. The economics of stupidity. Ini yang terjadi," ujar Prabowo saat berpidato dalam Rapat Kerja Nasional Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin di Pondok Gede, Jakarta pada Kamis, (11/10).

Namun demikian, pernyataan Prabowo didukung oleh tim suksesnya. Menurut Dewan Pakar Timses Prabowo-Sandiaga, Dradjad Wibowo, pihaknya tengah menyusun sistem ekonomi modern.

Ia juga menyebut, pernyataan Prabowo soal 'Make Indonesian Great Again' sama sekali tidak meniru Donald Trump. Sebab tagline resmi Prabowo-Sandi adalah 'Adil Makmur Bersama Prabowo-Sandiaga'. Tagline tersebut, kata dia,  memang mengharuskan kepentingan nasional ditempatkan nomor satu. 

Contohnya, kata Dradjad, pilar pertama program ekonomi Prabowo-Sandi adalah 'Menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan di bidang ekonomi dengan mewujudkan SDM yang produktif dan mampu bersaing di tingkat dunia'. 

"Nah ekonomi kita itu terlalu mudah digoyang oleh faktor eksternal karena rapuhnya sumber pertumbuhan domestik. Dominansi impor dalam produksi dan konsumsi terlalu tinggi. Sumber daya manusia (SDM) belum menjadi sumber kekuatan," jelasnya.

Hal itu, ditegaskannya, akan digarap Prabowo-Sandi. SDM dijadikan sumber pertumbuhan ekonomi. Inovasi dan kreatifitas menjadi motor, baik untuk sektor 'lama' seperti pengolahan hasil pertanian hingga ke sektor modern seperti IT dan ekonomi digital.

"Contoh kongkretnya, di Italia inovasi dan kreatifitas menghasilkan usahawan muda yang mengolah limbah jeruk menjadi tekstil untuk industri fashion. Bisa menghasilkan outlet ritel kopi bernama besar di AS dan Eropa Barat. Di Indonesia menghasilkan Nadiem Makarim,"

"Sayangnya, negara kurang atau bahkan tidak hadir dalam menyiapkan pemenang seperti Nadiem. Nah. Prabowo-Sandi akan membuat negara proaktif menghasilkan Nadiem-Nadiem baru, baik melalui APBN atau kebijakan. SDM Indonesia diprioritaskan, SDM Asing tidak. SDM Indonesia disiapkan menjadikan Indonesia negara besar dan maju," tandasnya.

Editor: Elvi R


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)