logo rilis

Dirjen PAS Kemenkumham Dipanggil KPK terkait Kasus di Lapas Sukamiskin
Kontributor
Tari Oktaviani
16 Oktober 2018, 11:30 WIB
Dirjen PAS Kemenkumham Dipanggil KPK terkait Kasus di Lapas Sukamiskin
Ilustrasi: RILIS.ID

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Kementerian Hukum dan Ham, Sri Puguh Budi Utami kembali dipanggil oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan suap jual beli fasilitas mewah di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

Juru bicara KPK Febri Diansyah menyampaikan sedianya Sri Puguh akan menjadi saksi untuk tersangka Fahmi Darmawansyah yang merupakan terpidana kasus suap Bakamla RI. Fahmi sebelumnya diketahui menyuap eks Kalapas Sukamiskin untuk keluar dari lapas.

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka FD (Fahmi Darmawansyah)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Sebelumnya Sri Puguh juga telah diperiksa KPK pada 24 Agustus 2018. Sehingga pemeriksaannya kali ini merupakan pemeriksaan kedua kalinya.

Hari ini, Tak hanya Sri Puguh, penyidik juga memanggil eks Kalapas Sukamiskin Wahid Husein, Hendy Saputra selaku ajudan Wahid Husein dan memanggil napi korupsi Fahmi Darmawansyah.

Dirjen PAS Kemenkumham, Sri Puguh Budi Utami sebelumnya pernah mengakui pihaknya kecolongan dengan adanya jual beli fasilitas mewah di dalam lapas Sukamiskin, Bandung. Ia pun berjanji, segera memusnahkan fasilitas tersebut sekaligus merevitalisasinya.

"Benar ada fasilitas yang tidak pada tempatnya dan bapak menteri sudah mengintruksikan untuk segera dibenahi sesuai dengan standar seharusnya," kata Sri Puguh di Kantor Kemenkumham, Sabtu malam (21/07/2018). 

KPK sebelumnya dalam kasus ini telah menetapkan empat orang tersangka dalam kasus dugaan suap jual beli fasilitas mewah di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Keempat tersangka itu yakni Kalapas Sukamiskin Wahid Husen, Hendy Saputra selaku staf Wahid, napi korupsi Fahmi Darmawansyah, dan napi umum Andi Rahmat selaku tangan kanan Fahmi.

Wahid diduga telah menerima dua unit mobil yakni Mitsubishi Triton Exceed dan Mitsubishi Pajero Sport Dakkar serta uang senilai Rp279.920.000 dan USD1.410. Pemberian itu diduga imbalan dari Fahmi yang telah mendapatkan fasilitas sel kamar mewah di Lapas Sukamiskin.

Atas perbuatannya, Wahid dan stafnya selaku penerima suap dijerat Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 atau Pasal 12B Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Sedangkan, Fahmi dan Andi Rahmat selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Editor: Sukma Alam


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)