Home » Fokus

Diplomasi Panda China di Indonesia

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

ILUSTRASI: Hafidz Faza

SETELAH beberapa kali sempat tertunda, pasangan panda raksasa bernama Cai Tao dan Hu Chun akhirnya tiba di Indonesia, Kamis (28/9/2017) siang. Keduanya disambut meriah di bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, setelah menempuh penerbangan dari kota Chengdu, China.

Kedua panda raksasa ini merupakan pinjaman untuk dikembangbiakkan (breeding loan) dari Pemerintah China kepada Taman Safari Indonesia. Keduanya akan menjadi hewan adopsi TSI selama 10 tahun ke depan, dan diharapkan akan menghasilkan keturunan panda di Indonesia.

Cai Tao, sang panda jantan, berusia tujuh tahun dan berbobot 128 kilogram. Sedang pasangannya, Hu Chun, berbobot 113 kilogram. Kedua hewan raksasa menggemaskan ini akan dikarantina selama sepekan sebelum menghuni rumah barunya di Cisarua, Bogor. Pihak TSI sudah menyiapkan hutan bambu seluas 10 hektare dan empat kandang khusus untuk kedua panda tersebut.

Tamu Istimewa
Garuda Indonesia yang menerbangkan panda dari Chengdu, memberikan perlakuan istimewa kepada hewan pinjaman ini. Demi keselamatan dan kenyamanan panda, pihak Garuda secara khusus mengalihkan penerbangan reguler dari Chengdu ke Denpasar, untuk terbang mendarat lebih dulu di Jakarta.

Sebelum diterbangkan ke Indonesia, Duta Besar Indonesia untuk China Soegeng Rahardjo juga secara simbolis memberikan visa kepada sepasang panda tersebut. Dia mengatakan, berhasilnya negosiasi peminjaman ini adalah hasil dari upaya bersama, baik pemerintah maupun swasta di kedua negara.

Hal yang sama diamini Wakil Direktur Jenderal Kerja Sama Internasional Kementerian Kehutanan China Wang Chunfeng. Dia berharap kerja sama pengembangbiakan panda dapat mendekatkan hubungan China dan Indonesia. "Didasari semangat kerja bersama 'One Belt One Road'," katanya mengutip visi global China di bawah kepemimpinan Xi Jinping.

Kedatangan panda Cai Tao dan Hu Chun secara serius digarap untuk mendekatkan hubungan Indonesia dengan Negeri Tirai Bambu tersebut. Presiden China Xi Jinping dikabarkan akan menyempatkan berkunjung ke Indonesia saat acara soft-launching penampilan pasangan panda itu di depan publik.

Diplomasi Panda

Diplomasi Panda
Pemberian panda kepada negara lain, kadang dalam bentuk pinjaman, lazim dilakukan Pemerintah China. Hal ini dilakukan untuk merekatkan hubungan bilateral dengan negara sahabat. Indonesia tercatat menjadi negara ke-17 yang dipercaya menjadi mitra ‘Diplomasi Panda’.

Dengan jumlah yang semakin sedikit di habitatnya, panda raksasa memang dianggap semakin berharga. Bersama hewan dongeng ular naga, panda menjadi ikon China dalam pergaulan global. Warna bulu hitam dan putih serta sifat panda yang lembut, juga menyimbolkan keinginan China membangun hubungan yang baik dengan bangsa lain.

Diplomasi Panda dilakukan pada momen yang tepat. Mengutip mantan Menlu Indonesia Marty Natalegawa, hubungan Indonesia dan China saat ini dalam kondisi terbaik sepanjang sejarah. Sejak tahun 2014, pemerintah Indonesia juga aktif mendukung beberapa inisiatif China untuk membentuk poros baru ekonomi global. Salahsatunya, Indonesia menjadi salah satu pendiri Bank Investasi Infrastruktur Asia yang dipelopori China. Presiden Jokowi juga mengembangkan visi Poros Maritim untuk mengimbangi visi Jalur Sutra Baru yang dibawa Xi Jinping.

China sebagai negara terbesar di Asia Timur tengah berambisi menjadi adidaya ekonomi dunia. Sedangkan Indonesia negara terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20. Kedua pihak tentu berkepentingan untuk membangun hubungan baik. Menurut data BKPM, nilai investasi China di Indonesia sepanjang 2014-2017 juga semakin meningkat.

Sementara di dalam negeri, ‘kemesraan’ Pemerintahan Jokowi dengan China masih menuai kontroversi. Terutama terkait isu membludaknya tenaga kerja China di Indonesia dan fobia publik terhadap pengaruh ideologi komunisme. Penanganan Pemerintah terhadap dua isu ini ikut menentukan dinamika dukungan publik terhadap Jokowi.

Di sisi lain, Indonesia dan China juga masih berbagi ketegangan terkait garis batas wilayah laut. Indonesia tidak mengakui klaim Laut China Selatan sebagai wilayah China. Malah belakangan, Pemerintah menetapkan nama Laut Natuna Utara sebagai wilayah berdaulat di kawasan yang bertumpuk dengan batas wilayah yang diklaim China.

Sukses atau tidaknya Diplomasi Panda, sedikit banyak, akan ikut mewarnai pasang-surut hubungan dua negara raksasa ini.

Penulis Danial Iskandar

Tags:

fokusdiplomasi pandachinationgkok

loading...