logo rilis

Dinas Kota Bogor Kirim KWT Binaan Ikut Bimtek Olahan Jahe
Kontributor
Elvi R
19 April 2018, 15:19 WIB
Dinas Kota Bogor Kirim KWT Binaan Ikut Bimtek Olahan Jahe
ILUSTRASI: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Bogor— Pada awal januari 2018 ini, sebanyak 68 kelurahan di Kota Bogor, Jawa Barat berlomba menanam jahe merah untuk dibudidayakan sekaligus mengikuti perlombaan Tanaman Obat Keluarga atau Toga yang diselenggarakan oleh Bintang Toejoeh bekerja sama dengan Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Bogor. Kegiatan yang melibatkan kelompok wanita tani di Kota Bogor ini mendapat perhatian besar Drs. Irwan Riyanto, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian Kota Bogor. 

“kami ingin para wanita tani yang ikut lomba tanaman obat keluarga ini tidak hanya terampil dalam budidaya saja tetapi juga paham pengolahan pascapanennya” ujar Irwan di Bogor, Kamis (19/4/2018).

Oleh karena itu, Dinas Pertanian Kota Bogor bekerjasama dengan Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian menyelenggarakan bimtek pengolahan jahe yang dilaksanakan pada tanggal 17 – 18 April 2018 di Bogor. Bimtek ini diikuti oleh 20 orang KWT binaan Dinas Pertanian Kota Bogor yang juga ikut dalam lomba budidaya jahe merah.

Pada bimtek kali ini, peserta diajarkan bagaimana cara mengolah jahe menjadi berbagai olahan seperti jahe instan, permen dan jelly serta acar (pickle). Menurut Hernani, Peneliti BB Pascapanen prospek bisnis tanaman obat khususnya jahe di Indonesia sangat menjanjikan, karena masyarakat Indonesia suka minum jamu.

"Apalagi sudah ada kerja sama dengan Bintang Toejoeh, bisa saja nanti semua bahan baku Bintang Toejoeh yang masok petani kita (petani kota bogor),” katanya.

Dengan pembekalan ilmu pengolahan pascapanen jahe yang baik, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Ir. Robert Hasibuan mengharapkan para KWT memperoleh manfaat ganda selain dapat menjual jahe segar juga dapat menjual jahe dalam bentuk olahan yang tentunya harganya lebih tinggi. 

“Ketika panen nanti kan tidak semuanya bisa dijual ke bintang toejoeh, yang grade A bisa dijual secara segar dan yang lainnya kita olah dulu sebelum dijual jadi tetap untung” ungkap Robert.

Sumber: Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)