logo rilis
Dimeja Makan Ada Diskusi
Kontributor

02 April 2018, 14:13 WIB
Dimeja Makan Ada Diskusi

Ale, "Aku enggak bisa lihat muka Anya."

Anya, "Aku enggak bisa lihat muka Ale."

Syam, "Gara-gara jambaganmu yang terlalu besar megah ini."

Batara, "Terus kenapa? Kalian enggak harus bertatap-tatapan."

Ale, "Kami harus bertatapan

Anya, "Sudah dari dulu begitu Orang tua mengajarkan kami menatap orang sedang berbicara,"

Batara , "Enggak bisa. Seandainya kalian menebak apa-apa gerangan yang sudah kulakukan untuk mencapai komposisi, morfologi, dan harmoni meja setaraf ini."

Syam, "Kamu jual jiwa kepada setan . Atau jual diri?"

Ale, "Singkirkan deh, supaya makan bisa lebih lancar ditelan sambil bertatap-tatapa, tak ada yang tersedak."

Anya,  "Dan para orang tua berbahagia anak-anaknya makan pengajaran."

Batara, "Aku sendri yang merangakai bunga semalam setelah sesiangan ke Rawabelong. heh, pantat panci, kuping kuali, paham tidak sih, kemarin itu macet, panas pula berkeliling seantero tukang bunga."

Ale, "Sudahlah, gentong bunga angkat saja. Kami sudah dari tadi menangkap realisme megis meja ini."

Anya, "Angkat, Batre, gentong atau bunga. Pilih salah satu,"

Batara, "Repot amat. Tidak bisa dan tidak mau."

Batara mulai berwajah bengis. Ini gelagat yang  tidaklah baik bagi semua pihak. Apalagi jika badanya yang gempal mulai bergumpal-gumpal, niscaya sebagai manusi ia tampak berbahaya.

 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID