Home » Fokus

Dilema Aung San Suu Kyi

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

ILUSTRASI: Hafidz Faza

SUATU sore di tahun 1991, saat dirinya sedang dalam tahanan rumah di Yangoon, Myanmar, Aung San Suu Kyi mendengar siaran di radio setempat yang mengabarkan dirinya telah dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian.

Potongan kisah itu, yang diceritakan kembali oleh Suu Kyi saat menyampaikan pidato di Nobel pada 2011 di Swedia. Hadiah itu menurutnya “terasa tidak nyata” karena dirinya merasa “tidak merasa hidup dalam kenyataan” pada saat itu.

Penahanan dirinya, ujar Suu Kyi, telah melumpuhkan indera perasa dan memisahkan dirinya dari kenyataan sosial. Dia menyebut hadiah nobel yang diterimanya telah memulihkan kesadarannya dan mengembalikan posisinya kepada khalayak yang lebih luas.

Kini, dua tahun setelah memenangkan 90 persen suara dalam pemilihan umum 2015 lalu, Suu Kyi dihujat banyak pihak. Dalam posisi politik barunya sebagai State Counsellor, Suu Kyi dituduh tidak berbuat banyak untuk mencegah dan menghentikan krisis di Rakhine.

Bahkan sebagian pihak bahkan meminta hadiah nobel perdamaian yang pernah diterimanya untuk segera dicabut. 

Penulis Danial Iskandar

Tags:

fokusrohingyaaung san suu kyi

loading...