logo rilis
Dihadapan Pemuda Depok, HNW Pesan 'Jangan Lupakan Jasa Ulama'
Kontributor
Nailin In Saroh
16 Februari 2019, 17:00 WIB
Dihadapan Pemuda Depok, HNW Pesan 'Jangan Lupakan Jasa Ulama'
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid di Depok, Jawa Barat, Sabtu (16/2/2019), FOTO: Humas MPR RI

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) meminta generasi muda agar pro aktif mencari dan menggali nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Hal ini, menurutnya, agar pemuda bisa mengerti, memahami dan mengamalkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan sebaliknya, malah tak peduli terhadap nilai-nilai luhur bangsa bahkan justru mengambil paham-paham dari luar yang belum tentu sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.

"Di era informasi dan keterbukaan seperti sekarang, ini sangat mudah mencari dan mempelajari nalai-nilai yang ada di dalam Pancasila. Jangan cuek, atau menyalahkan orang lain, mengapa kita tidak mengenal Pancasila", ujar Hidayat Nur Wahid saat Sosialisasi Empat Pilar MPR dihadapan pemuda pemudi Karang Tarunan kota Depok di Ruang Teratai Gedung Pertemuan Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (16/2/2019).

Ditengah pemaparan HNW, ada seorang peserta yang mengaku tidak begitu paham dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Bahkan menurutnya, banyak generasi milenial seusianya yang tidak memahami apa itu Pancasila.

Padahal, kata HNW, MPR sudah banyak melakukan sosialisasi diberbagai kalangan. Termasuk remaja dan anak-anak sekolah.

Sementara itu, HNW menjelaskan, lahirnya Indonesia tak lepas dari kebesaran hati para ulama. Dimana para ulama mau mengalah, tidak mendahulukan egonya, semata-mata agar Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus bisa tetap berdiri.

Karena itu, ia berpesan, selain jas merah generasi muda harus ingat pada jas hijau atau jangan melupakan jasa ulama.

"Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus, nyaris bubar jika para ulama menolak usulan AA. Maramis yang menolak Piagam Jakarta. Bisa saja ulama menolak usulan itu, dengan alasan mayoritas masyarakat Indonesia itu muslim, dan jika Piagam Jakarta tidak disetujui kami akan memutuskan tidak bergabung dengan NKRI", jelasnya.

Tetapi, tambah dia, sikap seperti itu tidak muncul. Sebaliknya, para ulama setuju, mereka mau menerima usulan AA. Maramis, dan menghapus  tujuh kata dalam piagam Jakarta, sehingga bunyinya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

"Itu dilakukan, semata mata agar negara Indonesia yang lahir pada 17 Agustus bisa dipertahankan," pungkas HNW.

Turut hadir dalam acara tersebut, Walikota Depok Muhammad Idris, dan Wakil Ketua Karang Taruna Jawa Barat Imam Budi Hartono.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID