logo rilis

Digandeng Distan Denpasar, Balitbangtan Latih Petani Buat Pupuk Biosilika
Kontributor
Elvi R
10 Mei 2018, 13:44 WIB
Digandeng Distan Denpasar, Balitbangtan Latih Petani Buat Pupuk Biosilika
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Denpasar— Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, melalui Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) terus berupaya membumikan hasil riset pupuk biosilika dari sekam padi kepada petani.

Digandeng oleh Dinas Pertanian (Distan) Kota Denpasar, Balitbangtan telah melatih 50 orang petani dan penyuluh pertanian di Kota Denpasar tentang pembuatan dan penerapan pupuk biosilika dari sekam padi. Pelatihan tersebut telah dilaksanakan di kantor Distan Kota Denpasar dan Banjar Anggabaya, Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, Provinsi Bali.

Perwakilan petani yang mengikuti pelatihan ini berasal dari empat kecamatan yaitu Denpasar Timur, Denpasar Barat, Denpasar Selatan, dan Denpasar Utara. 

"Kami sangat mengapresiasi hasil riset Balitbangtan tentang pupuk biosilika dari sekam ini. Akhir tahun 2017 lalu, melalui MoU kerjasama kami dengan BB Pascapanen telah dilakukan ujicoba demplot penerapan pupuk biosilika pada tanaman padi petani dan hasilnya memuaskan, sehingga atas permintaan petani kami adakan pelatihan ini," ujar Kepala Distan Kota Denpasar, I Gede Ambara Putra, M.Agb, dalam pembukaan acara pelatihan tersebut.

Di tempat terpisah, Kepala BB Pascapanen, Prof. Risfaheri, berharap pelatihan ini dapat lebih membumikan hasil inovasi Balitbangtan kepada petani. Risfaheri mengatakan, BB Pascapanen melakukan dua pola diseminasi teknologi biosilika, yaitu pengembangan melalui kelompok tani dan pengembangan melalui pihak industri swasta. Pengembangan biosilika di tingkat petani disesuaikan dengan kemampuan sumber daya setempat.

Hal ini ditujukan untuk penggunaan langsung di kawasan tersebut, dan bersifat public domain (tanpa lisensi). I Gusti Made Tantra, penyuluh pertanian di Kelurahan Denpasar Barat, mengungkapkan, rasa terima kasih kepada Balitbangtan karena pelatihan tenologi sangat bermanfaat.

"Pelatihan sebagai bekal dalam mensosialisasikan pengembangan dan penerapan biosilika di lapangan," ungkapnya.

Peneliti biosilika BB Pascapanen Hoerudin, PhD yang menjadi nara sumber dalam pelatihan tersebut menuturkan, teknologi proses pembuatan biosilika di tingkat petani dirancang sesederhana mungkin sehingga relatif murah. Tetapi kualitas produk yang dihasilkan masih cukup baik untuk mendapatkan manfaat silika dalam meningkatkan ketahanan tanaman padi terhadap hama penyakit dan memaksimalkan hasil panen. 

Hoerudin menjelaskan, sekam padi mengandung 15-20 persen silika. Artinya, jika produktivitas gabah kering panen (GKP) 5 ton per hektare saja, maka pada setiap musim panen sekitar 150-200 kilogram silika per hektare (20 persen GKP adalah sekam) diangkut ke luar sawah karena gabah harus digiling menjadi beras. Semakin tinggi intensitas pertanaman dan panen, semakin banyak pula silika yang terkuras dari sawah. Pengembangan pupuk biosilika diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan nilai ekonomi sekam padi yang selama ini nyaris tak bernilai, juga dapat mempertahankan ketersediaan silika yang dibutuhkan tanaman padi dengan mengembalikannya ke sawah.

"Kami senang bisa mengetahui cara pembuatan biosilika dari sekam, sehingga dapat membuatnya dan menerapkannya sendiri di lapangan untuk menjaga kesuburan sawah sekaligus meningkatkan pendapatan," pungkas I Wayan Tama, Pekaseh Subak Kerdung, Kelurahan Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan.

Sumber: Hoerudin/Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)