logo rilis

Didampingi BPTP, Keuntungan Petani Sawit Melonjak
Kontributor

28 Mei 2018, 18:49 WIB
Didampingi BPTP, Keuntungan Petani Sawit Melonjak
Poktan Bina Bersama sedang memanen jagung di perkebunan sawit di Desa Kubu, Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. FOTO: Balitbangtan Kementan

RILIS.ID, Kotawaringin Barat— Fajar (35), petani muda asal Desa Kubu, Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, menanami kebun sawitnya dengan jagung. Kegiatan dimulai sebelum pemerintah mencanangkan program tersebut.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Bina Bersama ini, membudidayakan jagung saat sawit masih muda atau tanaman belum menghasilkan (TMB). Fajar bersama rekan-rekannya menerapkan inovasi teknologi optimalisasi pemanfaatan sela sawit dengan tanaman semusim di lahan enam hektare.

Manfaat yang diterima Poktan Bina Bersama kian besar, saat mendapatkan pendampingan teknologi dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalteng. Misalnya, ada tambahan pendapatan, karena bisa memanen dalam waktu empat bulan.

"Dengan meningkatkan aktivitas usaha tani perkebunan rakyat secara baik dan tepat sesuai rekomendasi teknologi, maka akan terjadi peningkatan pendapatan," ujarnya.

Keuntungan lain yang diperoleh, tanaman sawit sebagai tanaman utama jadi lebih terawat karena imbas dari perwatan tanaman jagung. Soalnya, pupuk untuk jagung juga akan diserap sawit. Lalu, terhindar dari kebakaran lahan dan hutan, lantaran petani lebih sering menengok lahannya kala ditanami jagung.

Dia menambahkan, Poktan Bina Bersama juga menanam beberapa komoditas hortikultura sela sawit TBM, selain jagung.

Upaya Fajar mendapat dukungan dari Dinas Pertanian Kotawaringin Barat. Pemerintah kabupaten (pemkab) memfasilitasi sarana prasarana pertanian, seperti alat mesin pengolahan tanah, traktor tangan, sarana produksi, alat pascapanen, dan sejenisnya.

Sebagai informasi, Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong budi daya jagung di areal perkebunan untuk mendongkrak produksi tanaman pangan nomor dua setalah padi itu. Pemerintah menargetkan luas tanam mencapai satu juta hektare.

Luas perkebunan sawit di Kalteng mencapai 1,21 juta hektare, ketiga terbesar setelah Riau dan Sumatera Utara. Berdasarkan kepemilikan, sebesar 88,5 persen dikuasai korporasi dan masyarakat 11,5 persen.

Sayangnya, produktivitas perkebunan rakyat tergolong rendah, 0,5 -1 ton persen. Sedangkan perkebunan besar mencapai 2-4 juta ton per hektare.

Apalagi, petani tak intensif memelihara tanaman sawit, khususnya masa TBM. Misalnya, pemupukan tak sesuai rekomendasi, lahan jarang dijaga lebersihannya, serta kerap muncul hama dan penyakit yang menganggu tanaman.

Hal tersebut, mendorong BPTP Kalteng melakukan pembinaan dan pendampingan teknologi tanaman sawit rakyat di Kotawaringin Barat, sentra sawit setempat. Kegiatan bertujuan meningkatkan produktivitas, tanaman sawit menghasilkan melalui budi daya jagung. Target pengembangan ditujukan pada areal kebun sawit muda.

Selain menanam jagung, lahan sawit yang sebagian besar merupakan lahan gambut, akan diluaskan areal penanaman dengan komoditas hortkutura pada 2018. Bawang merah, mentimun, terong, cabai, kacang panjang, dan labu, misalnya.

Editor: Elvi R

Sumber: Dedy Irwandi/Balitbangtan Kementan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)