logo rilis

Di Tengah Situasi Buruk, 60 Bayi Rohingya Lahir Setiap Hari
Kontributor
Syahrain F.
18 Mei 2018, 16:41 WIB
Di Tengah Situasi Buruk, 60 Bayi Rohingya Lahir Setiap Hari
Seorang bayi Rohingya yang baru lahir menerima perawatan medis dari petugas layanan kesehatan di sebuah kamp pengungsian di Cox's Bazar, Bangladesh, pada 7 Desember 2017. Credit: Anadolu Agency/F?rat Yurdakul

RILIS.ID, Dhaka— Setiap harinya, sedikitnya 60 bayi dari pasangan etnis Rohingya lahir di kamp-kamp pengungsi Bangladesh.

Hal itu menimbulkan kekhawatiran baru dikarenakan minimnya fasilitas medis.

Dalam laporan UNICEF yang dirilis pada Kamis (17/5/2018), disebutkan bahwa selama sembilan bulan terakhir, lebih dari 16.000 bayi Rohingya dilahirkan di kamp pengungsi di Cox's Bazar, Bangladesh.

"Sekitar 60 bayi yang baru lahir harus menghadapi kondisi yang memprihatinkan, jauh dari rumah, dengan para ibu yang telah mengalami kekerasan, trauma, bahkan pemerkosaan," ungkap Edouard Beigbeder, representatif UNICEF di Bangladesh, dalam laporannya.

Mengutip Anadolu Agency, dari semua bayi yang lahir di kamp-kamp pengungsi sejak September lalu, hanya sekitar 3.000 bayi yang mendapat fasilitas kesehatan. UNICEF memperkirakan, hanya sekitar 18 persen ibu melahirkan di pusat kesehatan.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa karena kurangnya dokumentasi dan registrasi yang tepat saat lahir, anak-anak tak dapat mengakses pendidikan, perawatan kesehatan dan jaminan sosial.

Menurut Amnesty International, sejak 25 Agustus 2017, sekitar 750.000 Rohingya--sebagian besar anak-anak dan perempuan--telah mengungsi karena mengalami kekerasan.

Setidaknya 9.000 Rohingya tewas di negara bagian Rakhine, Myanmar, selama 25 Agustus hingga 24 September 2017. Dokter Lintas Batas mengatakan, 71,7 persen kematian disebabkan oleh kekerasan. 730 di antaranya adalah anak-anak di bawah usia lima tahun.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kaum yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi rangkaian serangan bertubi-tubi sejak kekerasan komunal meletus pada 2012.

PBB telah mencatat bukti-bukti adanya pemerkosaan massal, pembunuhan, pemukulan brutal, dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh tentara Myanmar. Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut termasuk kejahatan kemanusiaan.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)