logo rilis
Di Sumsel, Cabai Ditanam di 5 Jenis Lahan
Kontributor

12 Mei 2018, 21:57 WIB
Di Sumsel, Cabai Ditanam di 5 Jenis Lahan
Dirjen Hortikultura Kementan, Suwandi (kedua kiri) saat meninjau lokasi pertanaman cabai di Sumatera Selatan. FOTO: Humas Kementan

RILIS.ID, Palembang— Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi, mengatakan, karakteristik cabai di Sumatera Selatan berbeda dengan daerah lain. Di sini, pertanaman cabai sepanjang waktu serta ditanam pada musim berbeda pada lima tipe lahan.

"Tipe pertama, cabai ditanam di lahan pasang-surut. Ini berada di Banyuasin," ujarnya saat meninjau lokasi pertanaman cabai di Palembang, Sumsel.

Kedua, tanaman cabai di Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Musi Banyuasin berada di lahan lebak. Di OKI, cabai juga ditanam di lahan tadah hujan.

"Keempat, ditanam pada lahan sawah berada di Musi Rawas dan OKU (Ogan Komering Ulu) Timur," tambahnya. Terakhir, cabai ditanam pada lahan dataran tinggi di OKU Selatan, Muara Enim, dan Pagar Alam.

Kepala Subbidang Hortikultura Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumsel, Sri Indah Mulyati, menambahkan, luas panen cabai 5.000 hektare per tahun. Produksi dipasok ke Pasar Induk Jakabaring (25 ton per hari) dan daerah lain.

"Produksi cabai cukup memenuhi kebutuhan Sumatera Selatan, bahkan sebagian produksi dipasarkan ke Jambi, Bengkulu, Lampung, dan lainnya," jelasnya. Harga cabai rawit dan cabai merah keriting di petani berkisar Rp30 ribu per kilogram.

Ada beberapa sentra produksi cabai di Sumsel. Di Lais, Musi Banyuasin, misalnya, memproduksi cabai rawit merah dan cabai keriting varietas lokal. Dengan teknologi sederhana, biaya minimal Rp20 juta per hektare dan menghasilkan enam ton setara Rp120 juta per hektare. 

"Sedangkan di Muara Enim, di dataran tinggi, cabai ditanam intensif dengan biaya Rp60 juta. Menghasilkan sekitar 12 hingga 15 ton per hektare," lanjut Sri.

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani Semontor Jaya, Desa Pedu, Kecamatan Jejawi, OKI, Kasnadik, mengatakan, pihaknya menanam 43 hektare cabai dengan varietas lokal dan pemupukan sederhana. Biayanya Rp16 juta per hektare.

"Hasilnya sekitar Rp60 juta. Masih lumayan. Pertanaman 43 hektare sekarang siap akan dipanen pada Mei hingga Juni 2018. Nanti, saat Ramadan dan Idul Fitri, siap memasok Pasar Induk Jakabaring," katanya.

Petani OKI biasa menanam cabai tiga kali dalam setahun di lahan tadah hujan. Saat ini berusaha menggunakan benih unggul dan memperbaiki cara bercocok tanam, supaya produksi minimal enam ton per hektare.

"Sudah diajarkan demplot oleh Pak Darmadi dari Dinas Ketahanan Pangan dan Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten OKI," tandasnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)