logo rilis

Di Pertemuan PBB, Indonesia Kecam Israel karena Hambat Perdamaian Timteng
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
22 Januari 2020, 10:28 WIB
Di Pertemuan PBB, Indonesia Kecam Israel karena Hambat Perdamaian Timteng
Aksi solidaritas untuk Palestina. FOTO Ilustrasi: RILIS.ID

RILIS.ID, Jakarta— Indonesia mengecam sikap Israel yang sama sekali tidak menunjukkan iktikad baik dalam upaya damai atas konflik Palestina-Israel. Hal itu disampaikan dalam pertemuan Dewan Keamanan (DK) PBB mengenai Palestina di New York, AS, Selasa (21/1/2020). 

“Saya merasa sulit untuk memahami bagaimana kita dapat menemukan perdamaian jika delegasi Israel pagi ini bahkan tidak sekali pun menjawab berbagai hal yang disampaikan oleh delegasi Palestina,” kata Wakil Tetap RI untuk PBB di New York, Duta Besar Dian Triansyah Djani, melalui keterangan tertulis, Rabu (22/1/2020). 

Anggota DK PBB mendengarkan laporan dari dua pejabat PBB, yaitu Under Secretary General Rosemary DiCarlo dan Assistant Secretary General Ursula Mueller.

Kedua pejabat PBB itu menyampaikan bahwa proses perdamaian Palestina-Israel terhambat oleh berbagai tindakan Israel yang melanggar hukum internasional seperti pembangunan pemukiman ilegal dan blokade terhadap Jalur Gaza.

Dubes Palestina untuk PBB di New York, Riyad H Mansour, menjelaskan, berbagai statistik menunjukkan fakta yang sangat mengkhawatirkan pada 2019.

Menurut dia, blokade Gaza telah menyebabkan wilayah tersebut semakin dekat menjadi area yang tidak dapat dihuni. Tahun lalu juga ditandai oleh penangkapan lebih dari 5.500 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak.

Mansour mengatakan, tingkat ekspansi permukiman ilegal Israel pada 2019 yang belum pernah terjadi sebelumnya, menyebabkan pembongkaran perumahan dan kekerasan terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Hal ini menunjukkan ancaman nyata aneksasi Israel terhadap wilayah Tepi Barat semakin kuat.

Djani mendesak kepada Israel untuk menghormati hukum internasional, menghentikan permukiman ilegal di wilayah Tepi Barat, dan menghentikan blokade terhadap Jalur Gaza.

“Tren negatif yang terjadi di Palestina hanya akan meningkatkan ancaman gagalnya upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah,” ujar Dubes Djani.

Jika tidak diakhiri, ungkap Djanu, aneksasi de facto ini akan menyebabkan penderitaan yang mendalam bagi Palestina, dan membuat keamanan serta stabilitas kawasan sulit tercapai.

Ia kemudian mencontohkan tindakan Israel yang mencabut paksa 147 pohon zaitun milik petani Palestina di desa Al Jaba, Betlehem pada 1 Januari 2020 dengan upaya Israel yang mencoba mencabut proses perdamaian Timur Tengah dengan tindakan ilegalnya.

Bagi warga Palestina dan banyak komunitas di dunia lainnya, pohon zaitun melambangkan perdamaian. Dalam konteks saat ini, pohon zaitun juga dapat merepresentasikan solusi dua negara, sebuah visi perdamaian di Timur Tengah.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID