Home » Inspirasi » Riwayat

Detik-Detik Jelang Proklamasi

print this page Senin, 7/8/2017 | 23:49

Soekarno (Bung Karno) didampingi Mohammad Hatta (Bung Hatta) sedang memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi di Pegangsaan Timur 56, Jakarta (sekarang Jalan Proklamasi). FOTO: Istimewa

SELASA, 14 Agustus 1945, Jepang bertekuk lutut pada sekutu. Itu menandai berakhirnya Perang Dunia II. Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang telah dilumpuhkan. Blokade laut dan pengeboman kota oleh sekutu telah menghancurkan perekonomian Jepang.

Di Jakarta, kabar kekalahan Jepang segera terdengar. Mereka lantas berkumpul. Hadir 80 tokoh perwakilan daerah. Mereka membahas bentuk negara kelak jika Indonesia sudah dimerdekakan oleh Jepang.

Di tengah pertemuan, sekelompok pemuda turut meramaikan. Mereka mendesak kaum tua untuk segera memerdekakan Indonesia, tanpa campur tangan Jepang. Sedang kaum tua yang diwakili Soekarno-Hatta bersiteguh dengan keyakinan bahwa proklamasi dilakukan melalui PPKI.

“Hari sekarang terletak di tangan pemuda. Dan sebelum kami para pemuda bisa menerima syarat yang disodorkan oleh Nippon, kami akan nyatakan perang dengan Bung (Soekarno),” kata Chaerul Saleh, salah satu pemimpin pemuda ini. Sidang pun ditunda.

Kegelisahan para pemuda terdorong oleh berita kekalahan Jepang. Bagi para pemuda, kekalahan tentara Jepang atas Sekutu menjadi momentum yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Tetapi Soekarno bersikap hati-hati. Ia beranggapan bahwa tindakan memaksakan kemerdekaan saat itu bisa memancing kemarahan tentara Jepang.

Para pemuda pun mendatangi rumah Bung Karno. Terjadilah perdebatan antara Bung Karno dan para pemuda.

“Kalau engkau hendak mengadakan pertumpahan darah yang sia-sia, cobalah tanpa saya,” tegas Bung Karno.

Perdebatan cukup panas berlangsung di bagian belakang rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur 56. Begitu panasnya, sampai-sampai Guntur menangis dan berusaha ditenangkan oleh Fatmawati.

Kamis dini hari, 16 Agustus 1945, tokoh pemuda bersama anggota PETA, Shudanco Singgih, membawa Bung Karno—beserta Fatmawati dan Guntur yang berusia 9 bulan—dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, Karawang. Bung Karno dan Bung Hatta diterima Shudanco Subeno dan ditempatkan di rumah Djiaw Kie Song, di tepian Sungai Citarum. Bung Karno dan Bung Hatta diminta secepatnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Pada 16 Agustus 1945 malam, Bung Karno dan Bung Hatta hendak bertemu dengan Kepala Pemerintahan Militer Jepang, Mayjend. Moichiro Yamamoto. Tetapi sang jenderal menolak dan memerintahkan kepala bagian umum, Mayjend. Otoshi Nishimura, menemui rombongan Bung Karno dan Bung Hatta. Dalam pertemuan itu, Nishimura menegaskan bahwa Tokyo sudah menginstruksikan agar pemerintahan militer menjaga status quo dan tidak mengizinkan persiapan kemerdekaan Indonesia. Terjadilah perdebatan panas antara Bung Karno-Bung Hatta dengan Nishimura.

Malam itu, rombongan Bung Karno dan Bung Hatta pun pergi ke rumah Laksamana Maeda. Mereka hendak mengadakan rapat untuk menyusun naskah proklamasi. Di ruang makan rumah itu, pukul 02.00 dini hari pada 17 Agustus 1945, Soekarno, Hatta, dan Achmad Subardjo dengan disaksikan Soekarni, B.M. Diah, Sudiro, dan Sayuti Melik menyusun naskah proklamasi. Sebenarnya naskah proklamasi itu sudah disusun pada Sidang BPUPK. Tetapi dari mereka yang mengikuti rapat malam itu, tak ada satu pun yang membawa dokumen BPUPK itu.

“Kami duduk sekitar sebuah meja dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tidak seorang di antara kami yang membawa dalam sakunya teks proklamasi yang dibuat pada 22 Juni 1945, yang sekarang disebut Piagam Jakarta,” demikian Hatta mengisahkan detik-detik peristiwa itu dalam memoarnya.

Soekarno berkata, “Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah.” Bung Hatta pun menjawab, “Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya.”

Semuanya setuju, kalimat pertama diambil dari akhir alinea ketiga rencana Pembukaan UUD yang mengenai Proklamasi. Lalu, kalimat pertama itu menjadi, “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.” Namun, Hatta mengatakan bahwa kalimat itu hanya menyatakan kemauan bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Sebab itu, mesti ada komplemen (pelengkap) yang menyatakan bagaimana caranya menyelenggarakan revolusi nasional. Lalu, Hatta pun mendiktekan kalimat berikut, “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”

Setelah bertukar pikiran sebentar, teks itu pun disetujui oleh kelima orang yang hadir waktu itu, termasuk Soekarno dan Hatta, yang menjadi panitia kecil. Begitu kerja mereka selesai, mereka pun masuk ke ruang tengah rumah, di mana hadirin yang lain sudah menunggu. Sidang itu bukan lagi sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) semata-mata. Sebab, mereka yang hadir sudah bertambah dengan pemimpin-pemimpin pemuda serta pemimpin rakyat dan anggota Cuo Sang In yang berada di Jakarta.

Soekarno mulai membuka sidang dan membacakan rumusan pernyataan kemerdekaan yang dibuat tadi. Perlahan-lahan dan berulang-ulang. Sesudah itu, ia bertanya kepada yang hadir, “Dapatkah ini Saudara-Saudara setujui?”

Gemuruh suara mengatakan setuju.

Diulang lagi oleh Soekarno, “Benar-benar Saudara semuanya setuju?”

“Setuju,” kata yang hadir semuanya.

“Kalau Saudara semuanya setuju, baiklah kita semuanya yang hadir di sini menandatangani naskah Proklamasi Indonesia Merdeka itu sebagai suatu dokumen yang bersejarah. Ini penting bagi anak cucu kita. Mereka harus tahu, siapa yang ikut memproklamasikan Indonesia merdeka. Ambillah contoh kepada naskah proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat dahulu. Semuanya yang memutuskan ikut menandatangani keputusan mereka bersama,” Hatta menimpali.

Sejenak, rapat diam dan tidak terdengar suatu diskusi apa pun tentang yang diusulkan Hatta. Tidak lama sesudah itu, Soekarni maju ke muka, menyatakan dengan suara lantang, “Bukan kita semuanya yang hadir di sini harus menandatangani naskah itu. Cukuplah dua orang saja menandatangani atas nama rakyat Indonesia, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta.”

“Ucapan itu disambut oleh seluruh yang hadir dengan tepuk tangan yang riuh dan muka yang berseri-seri. Aku merasa kecewa karena kuharapkan mereka serta menandatangani suatu dokumen yang bersejarah, yang mengandung nama mereka untuk kebanggaan anak cucu di kemudian hari. Akan tetapi apa yang akan dikata?” demikian Bung Hatta menggambarkan perasaannya waktu itu.

Setelah ditulis, naskah proklamasi itu lalu dibacakan untuk dimintakan masukan dari yang lain. Sebelum rapat ditutup, Bung Karno mengingatkan bahwa hari itu juga, dalam suasana bulan puasa Ramadhan, tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00, proklamasi akan dibacakan di muka rakyat di halaman rumahnya di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Asisten Laksamana Maeda, Shigetada Nishijima, nyeletuk agar pemindahan kekuasaan itu hanya soal kekuasaan administratif. Tetapi Bung Karno dengan tegas mengatakan, ini soal pemindahan kekuasaan.

Maka, sidang bersejarah itu pun berakhir pada kira-kira pukul 03.00 dini hari tanggal 17 Agustus 1945. Naskah awal yang ditulis Bung Karno, yang menyebutkan wakil-wakil bangsa Indonesia di akhir teks proklamasi, tidak disepakati. Sebagai gantinya, disepakati kalimat atas nama bangsa Indonesia. Akhirnya, sepakat atas usulan Soekarni, hanya nama Soekarno dan Hatta yang tertulis dalam teks proklamasi. Naskah tulisan tangan itu kemudian diketik oleh Sayuti Melik dengan mesin tik milik Mayor Dr. Herman Kandeler dari Kantor Perwakilan AL Jerman. Musyawarah singkat dini hari, saat orang makan sahur, selesai menjelang subuh. Sebelum bubar, Bung Hatta sempat mengingatkan agar teks proklamasi itu disebarkan juga kepada para pemuda yang menjadi pekerja pers.

Maka, pada Jumat pagi, 17 Agustus 1945, beberapa orang berkumpul di rumah Bung Karno. Tepat pukul 10.00 WIB, Soekarno yang didampingi Mohammad Hatta menyampaikan pidatonya:

Saya telah minta Saudara-Saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa mahapenting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun.

Gelombang aksi untuk mencapai kemerdekaan itu ada naiknya ada turunnya, tetapi jiwa kita menuju ke arah cita-cita.

Juga di dalam zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-henti. Di dalam zaman Jepang, kita tampaknya saja menyandarkan diri kepada mereka.

Tetapi pada hakikatnya, tetap menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan tanah air di dalam tangan kita sendiri.

Hanya bangsa yang berani mengambil nasib di tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya.

Maka kami tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka Indonesia dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seiya-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saat untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara. Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu.

Dengarkanlah proklamasi kami:

 

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l., diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 45.

Atas nama bangsa Indonesia,

Soekarno/Hatta.

 

Demikianlah, Saudara-Saudara.

Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita.

Mulai saat ini kita menyusun negara kita: Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia. Merdeka Kekal dan Abadi.

Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu.

Editor Ahmad Fathoni
Sumber Dari berbagai sumber

Tags:

Proklamasi KemerdekaanSoekarno-HattaDetik-Detik Proklamasi

loading...