logo rilis

Desain Gedung DPR, Lahir karena 'Kecelakaan'
Kontributor
Yayat R Cipasang
08 Maret 2018, 15:49 WIB
Desain Gedung DPR, Lahir karena 'Kecelakaan'
Proses pembangunan gedung Conefo yang sekarang menjadi Gedung Kura-Kura. FOTO: Istimewa

WARGA Kompleks Parlemen seharusnya hari ini merayakan 53 tahun pembangunan Gedung MPR/DPR. Gedung ikonik yang menjadi bangunan warisan budaya kebanggaan milik bangsa ini kini masih berdiri kokoh dan terawat.

Gedung Parlemen di lahan seluas 80.000 meter persegi dan memiliki ketinggian 100 meter ini dibangun Presiden Sukarno sebagai wujud atas keputusannya keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Gedung ini sebetulnya bukan dirancang untuk Gedung Parlemen melainkan sebagai tempat pertemuan Conference of the New Emerging Forces (Conefo).

Baca Juga

Kelompok ini sebagai tandingan PBB yang terdiri atas negara-negara New Emerging Forces dari Asia, Afrika, Amerika Latin dan negara-negara komunis. Gedung Parlemen yang lebih dikenal sebagai Gedung Kura-Kura ini berdiri di atas tanah wakaf yayasan pendidikan Islam yang menjadi cikal-bakal pondok pesantren modern Darunnajah.

Gedung Parlemen dirancang Soejoedi Wirjoatmodjo. Arsitek kelahiran Rembang, 27 Desember 1928 seperti dinukil dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, banyak menghasilkan karya arsitektur seperti Gedung Sekretariat ASEAN, Gedung Kedutaan Besar Prancis serta Kedutaan Besar Indonesia di Kualalumpur, Seoul dan Beograd. Nah, karya paling monumentalnya Gedung MPR/DPR.

Soejoedi yang lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dikenal sebagai pelopor arsitek modern Indonesia. Soejoedi mendapat beasiswa Ecole Superieure National des Beaux Arts, Paris dan melanjutkan ke Hoogeschool, Delft, Belanda. Kemudian meraih Master Dipl. Ing dari Technische Universitat, Berlin Barat.

Soejoedi juga dikenal sebagai penggagas pembukaan sekolah-sekolah arsitektur baru di Jakarta (Universitas Indonesia), Yogyakarta (Universitas Gajah Mada), Semarang (Universitas Diponegoro), Surabaya (Institut Teknologi Surabaya), dan Makassar (Universitas Hassanudin). Inisiatif Soejoedi ini sebagai bentuk perlawanan atas gerakan Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI). Sebuah organisasi mahasiswa sayap Partai Komunis Indonesia.

Dalam buku Membuka Selubung Cakrawala Arsitek Soejoedi, Soejoedi yang pernah menjadi Kepala Staf Tentara Pelajar Brigade 17 Detasemen II Rayon V Solo ini dikenal dengan karya-karyanya yang selaras dengan lingkungan. Jejaknya bisa dilihat dari Kompleks Parlemen dan Kompleks Kementerian Kehutanan.

Yang menarik, banyak tafsir liar kalau boleh dikatakan ngawur atas bentuk kubah Gedung DPR tersebut. Maaf, ada yang menyebut kubah tersebut sebagai bokong perempuan. Tetapi ada juga yang menyebut, kubah juga sebagai wujud payudara wanita. Alasannya Sukarno sangat senang dengan perempuan.

Tafsir liar itu terbantahkan bila merujuk pada buku Gedung MPR-DPR RI Sejarah dan Perkembangannya yang ditulis Budhi A Sukada, Julius Pour dan Hilmi Syatria ini. Disebutkan, kubah tersebut dirancang lantaran 'kecelakaan' karena sampai deadline, belum juga mendapat keputusan untuk kubah gedung. Apakah memakai atap kubah setengah bola atau sebagian dari bola (tembereng bola).

Sampai sehari sebelum maket diserahkan, bentuk kubah masih belum putus. Soejoedi bersama timnya seperti Ir. Sutami dan Ir Nurpontjo berpikir keras. Nurpontjo kemudian mencetak maket untuk kubah dengan menggunakan alat sederhana, kuali untuk membuat kue serabi. Namun, setelah beberapa kali membuat cetakann hasilnya, tetap saja bolong-bolong.

Soejoedi dengan setengah putus asa kemudian mengggergaji bentuk kubah plastik tersebut untuk mendapatkan hasil cetakan yang mulus dengan maksud untuk dipilih dan selanjutnya bisa digabungkan.

Rupanya keputusan menggergaji kubah tersebut malah melahirkan ide baru dengan kubah mirip sayap. Sutami yang melakukan perhitungan teknis pun memutuskan, model kubah tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan secara konstruksi tidak bermasalah.

Andaikan Soejoedi tidak meninggal dalam usia yang masih muda, 53 tahun, mungkin akan lebih banyak lagi karya-karyanya yang menjadi kebanggaan bangsa.

Tapi untuk mengenang Ketua Jurusan Arsitektur ITB yang menggantikan Prof. Ir. Van Rommondt itu cukuplah melihat Gedung MPR/DPR yang dibangun 8 Maret 1965 selesai pada tahun 1968 atau bergeser ke samping ada Gedung Manggala Wanabakti. Dua kompkes gedung yang sangat ramah lingkungan dan tiap pagi burung berbagai jenis berkicau di pohon-pohon yang menjulang tinggi.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)