logo rilis
Deras Arus Kekerasan Seksual di Tengah Pandemi COVID-19
Kontributor
RILIS.ID
21 Agustus 2020, 17:23 WIB
Deras Arus Kekerasan Seksual di Tengah Pandemi COVID-19

Nur Zahra Aqilla

Siswa Madrasah Aliyah Negeri 13 Jakarta

MIRIS memang, di tengah bencana yang tengah terjadi di seluruh dunia masih banyak sekali tindakan kriminal yang sering terjadi. Salah satunya adalah kekerasan seksual yang terjadi dan terus meningkat terutama di tengah pandemi COVID-19 seperti sekarang ini. Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi tindakan tersebut, yang mana mestinya itu juga membuat kita bisa lebih sadar dan berhati-hati akan bahaya kekerasan seksual tersebut.

Perempuan dan Anak

Ya, mereka paling berpotensi menjadi korban kekerasan seksual, karena budaya patriarki yang sering diterapkan, yaitu perempuan selalu berada di posisi ke-2. Ada banyak sekali kasus kekerasan seksual yang mencatat perempuan dan anak sebagai korbannya, walau tidak semua korban kekerasan seksual haruslah perempuan atau anak-anak sekalipun.

Berdasarkan data terakhir, korban pelecehan seksual termuda di dunia yang dilansir dari suara.com adalah seorang bayi berusia dua minggu. Kekerasan itu akan menyebabkan dampak besar bagi tumbuh kembang bayi tersebut. Sedangkan berdasarkan data Komnas Anak 23 Juli 2020 lalu, kasus kekerasan seksual anak dalam kurun waktu pandemic berjumlah 3729 kasus dan 52 persen. Dan korban lainnya merupakan perempuan.

Hal ini harus mendapatkan perhatian khusus, dan tidak boleh terus dibiarkan, mengingat kasus kekerasan seksual selama pandemi ini menunjukkan perkembangan yang begitu drastic. Dengan korbannya mayoritas perempuan dan anak.

Minimnya Pengetahuan Meningkatkan Risiko Kekerasan

Ya seperti yang sama-sama kita ketahui, ada banyak sekali faktor yang bisa menyebabkan terjadinya kekerasan seksual. Contohnya, kesempatan yang semakin besar karena adanya sosial media dan yang paling menyedihkan adalah karena minimnya pengetahuan masyarakat akan definisi dari kekerasan seksual yang sebenarnya.

Kekerasan dan pelecehan seksual sendiri adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal maupun fisik merujuk pada seks. Menurut Komnas Perempuan, pelecehan seksual merujuk pada tindakan bernuansa seksual melalui kontak fisik maupun non fisik yang ditujukan pada bagian tubuh seksual atau seksualitas seseorang. Tindakan ini termasuk siulan, main mata, komentar atau ucapan bernuansa seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual. Sehingga mengakibatkan ketidaknyamanan, tersinggung, merasa direndahakan martabatnya, dan mungkin hingga menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan jiwa.

Yang artinya, kekerasan seksual bukan berarti hanya melalui kontak fisik. Dan selama ini yang umumnya masyarakat tahu bahwa kekerasan seksual itu bentuknya hanya berupa kontak fisik, padahal nyatanya dengan kesempatan yang semakin terbuka lebar tentu, ada banyak jenis kekerasan seksual yang bisa terjadi di terlebih lagi di dalam media sosial yang tidak selamanya berbentuk kekerasan fisik.

Berbagai Kenyataan Pahit Para Korban

Ada berbagai kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh para korban kekerasan seksual, terutama karena kejahatannya yang sangat sulit untuk dibuktikan. Bisa saja korban yang melapor dan melakukan pembelaan menjadi pelaku dan mendapatkan hukuman. Tentu hal itu sudah tak jarang lagi terjadi di dunia. Namun, kenyataannya, sangat sulit untuk bisa mengutarakan apa yang terjadi tentangnya belum lagi trauma berat yang akan dihadapi mereka.

Terkini, media social bisa menjadi salah satu sarana untuk mengungkapkan kekerasan seksual. Bahkan,  para korban bisa mencoba terbuka satu sama lain. Karena adanya pengalaman yang sama yang dialami oleh berbagai warganet lainnnya. Sehingga mereka bisa membentuk relasi pertemanan untuk sama-sama saling mendukung, juga adanya konsultasi online yang memang diperuntukkan untuk para korban kekerasan seksual yang memang sangat mudah dijumpai. Hal-hal tersebut menjadi titik terang dari permasalahan kenyataan pahit yang harus dihadapi korban.

Langkah yang Harus Dilakukan

Ada banyak langkah yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual. Selain itu ada banyak pula yang bisa kita lakukan apabila kita melihat dan menemui korban kekerasan seksual.

Semisal, untuk menghindari kekerasan seksual kita bisa mulai dengan memakai pakaian tertutup, melakukan aktivitas di tempat yang ramai, hindari memberikan informasi informasi pribadi pada orang yang belum dikenal, dan masih banyak lagi langkah pencegahan lainnya yang bisa kita lakukan.

Lalu apabila kita menemui korban atau menyaksikan kekerasan seksual kita bisa melakukan beberapa hal, dan pada dasarnya kita harus mementingkan keselamatan pribadi terlebih dahulu. Jika dirasa telah aman kita bisa mendokumentasikan baik dengan memfoto atau memvideokan tindak kekerasan seksual yang dilakukan seseorang sebagai bukti. Selanjutnya apabila kita menemui orang yang telah menjadi korban kekerasan seksual kita bisa mulai dengan cara memberikannya penenangan seperti dengan berkata "aku tahu apa yang baru saja terjadi denganmu, ada yang bisa aku bantu?" Nah, dengan bicara seperti itu perlahan korban pasti akan terbuka dengan kondisinya saat ini. Berbagai pertolongan bisa kita lakukan seperti pertolongan medis maupun pertolongan psikologis. Dan yang paling utama adalah pertolongan psikologis, kita bisa menjadi pendengar yang baik atau hanya sekedar menemaninya dan menjadi teman yang baik untuknya menenangkan diri.

 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2020 | WWW.RILIS.ID