logo rilis
Deputi III Kantor Staf Presiden: Pastikan program dilaksanakan sesuai RPJMN
Kontributor
Elvi R
10 September 2020, 17:00 WIB
Deputi III Kantor Staf Presiden: Pastikan program dilaksanakan sesuai RPJMN
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Sukamandi— Program yang ada di Kementerian harus sesuai dengan apa yang telah direncanakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Hal ini disampaikan Deputi III bidang Perekonomian, Kantor Staf Presiden (KSP), Panutan S. Sulendrakusuma saat mengunjungi salah satu Unit Kerja dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), yaitu Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi), Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Selasa (08/09).

“Tujuan kunjungan kerja kami adalah untuk memenuhi tugas, sesuai yang diamanatkan dari Kantor Staf Presiden, terutama dalam hal pengendalian program prioritas nasional, pengendalian isu-isu strategis, dan komunikasi politik”, urai Panutan, yang saat kunjungan didampingi oleh tenaga ahli utama Kantor Staf Presiden, Bustanul Arifin. 

Sistem pemantauan yang dijalankan Deputi III bidang perekonomian yang diberi nama sistem monitoring dan evaluasi ini sekaligus untuk memastikan bahwa program yang dilakukan oleh seluruh lembaga pemerintah, Kementerian/Lembaga telah sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). 

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Priatna Sasmita menyampaikan bahwa BB Padi mempunyai tugas fungsi melakukan penelitian padi pada berbagai agroekosistem padi yang ada di Indonesia serta menyiapkan inovasi dan teknologinya. 

Output utama BB Padi adalah varietas unggul baru berbagai agroekosistem baik untuk lahan irigasi, rawa ataupun lahan kering yang adaptif terhadap agroekosistem. Kedua adalah teknologi pendukung spesifik lokasi, dan menyiapkan benih sumber VUB spesifik lokasi untuk semua agroekosistem mengacu pada kebutuhan target luas tanam 11,2 juta hektar. 

“Kewajiban menyiapkan benih sumbernya sesuai kalkulasi mencukupi untuk semua agroekosistem dan benih sudah sampai ke petani tetapi belum berkelanjutan setelah di petani.” terang Priatna. Priatna menambahkan bahwa hampir 92 persen varietas padi yang ditanam petani adalah Varietas Unggul Balitbangtan (VUB), dan delapan persen menggunakan varietas lokal.

Dalam diskusi bersama para pejabat dan peneliti yang hadir, Bustanul Arifin menyinggung tentang mekanisme kerja sama antara lembaga penghasil varietas dengan petani dalam penangkaran dan penyebaran, agar benih bisa diadopsi secara langsung. Dibahas juga persoalan atau hambatan dalam penyebaran benih untuk bisa diadopsi.

“Konteks keberlanjutan yang jadi masalah perlu mendapat sentuhan dari Kantor Staf Presiden sehingga dapat di lintas-koordinasikan dengan Bapenas,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Priatna menjelaskan terkait sebaran distribusi benih yang sampai saat ini dianggap belum bisa merata, disebabkan beberapa hal. Salah satunya adalah faktor agroekosistem  khususnya untuk lahan-lahan sub optimal seperti lahan rawa dan lahan kering, sehingga untuk lahan-lahan tersebut hingga saat ini masih menggunakan varietas padi sawah dan belum sesuai dengan varietas yang spesifik lokasi. 

Priatna melanjutkan bahwa benih untuk lahan sub optimal mempunyai produktivitas yang lebih tinggi dibanding varietas lokal namun permasalahanya adalah penangkar belum tertarik untuk mengembangkan. “Saat ini untuk mengatasi hal tersebut, Balitbangtan mengoptimalkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang ada di setiap Provinsi untuk menjangkau wilayah tertentu didaerahnya walaupun dengan kapasitas yang terbatas,” tambahnya.

Diakhir kegiatan Deputi III KSP melakukan kunjungan lapangan ke areal produksi benih varietas unggul baru di Kebun Percobaan Sukamandi dan processing benih padi Unit Pnegelola Benih Sumber.

Sumber: SHR/Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID