logo rilis
Demokrat Jawab Ini Kala Disindir Megawati yang Jengkel soal 'Politik Dinasti'
Kontributor
Nailin In Saroh
21 Februari 2020, 20:30 WIB
Demokrat Jawab Ini Kala Disindir Megawati yang Jengkel soal 'Politik Dinasti'
Ketua Umum PDIP, Megawati. FOTO: RILIS.ID

RILIS.ID, Jakarta— Partai Demokrat menanggapi sindiran Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri yang seolah mengarah ke Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dimana, Mega menyinggung soal regenerasi dan dinasti politik pada Pemilu 2024 mendatang. 

Sebelumnya diberitakan, putera Presiden ke-6 RI itu, yakni Agus Harimurti disebut siap maju dalam Pilpres 2024.

Politisi Demokrat Andi Arief lantas menilai pernyataan Megawati yang mengomentari Pilpres 2024, terlalu dini diungkapkan. 

“Terlalu dini buat ibu Mega bicara pilpres 2024,” ujar Andi Arief kepada wartawan di Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Selaku elit parpol besar yang disegani, Andi pun mengingatkan Megawati agar ikut berembuk memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi belakangan ini. Bukan sebaliknya, kata Andi, membicarakan persoalan yang masih jauh.

“Baiknya berembug masalah yang terjadi kini yang makin hari makin bertumpuk. Apakah tahun 2024 bangsa ini masih ada dan masih kuat menanggung beban, ada yang mulai meragukan. Saatnya bicara masa kini,” sindirnya. 

Sebelumnya, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dalam pidato politik di DPP PDIP, Jakarta, menyebut 2024 memerlukan regenerasi yang akan diisi oleh kalangan milenial. Sebab kata dia, peta politik ditahun tersebut akan berubah. 

Bicara soal generasi muda, Mega pun menyinggung soal adanya dinasti politik. Secara tegas ia mengaku kesal dan jengkel mendengar adanya upaya regenerasi dilanjutkan oleh keluarga pejabat yang masih memegang jabatan.

“2024 akan terjadi regenerasi. Benar, kita ini sudah fading away. Yang mesti maju itu, yang didorong itu, anak-anak muda. Tapi berhentilah, kalau kalian punya anak, anaknya itu enggak bisa, jangan dipaksa-paksa. Jengkel lho saya," kata Megawati, Rabu (19/2).

"Lha iya lho, ngapain sih kayak enggak ada orang? Kader itu ya anak kalian juga lho. Gimana yo? Ya, kalau enggak anakne (anaknya), kalau ndak istrine (istrinya), kalau nggak ponakane (keponakannya),” sambung Mega.

Mega berharap, proses regenerasi tersebut tidak dijadikan sebagai momentum untuk membangun dinasti politik dengan memaksakan calon yang diusung dari keluarga hingga kerabat dari petinggi partai banteng.

Sementara menyoal Puan Maharani, yang bisa menjabat sebagai ketua DPR, Mega mengaku itu karena usaha dan kerja keras puterinya sendiri. Ia menegaskan tidak pernah memaksa Puan untuk menjadi pimpinan atau apapun yang menjadi kehendaknya. 

“Ada orang yang ngomong, Mbak Puan jadi Ketua DPR itu saya yang angkat-angkat. Mana mungkin? Memang suaranya (yang dia dapat) gede. Enggak ada yang bisa nahan. Begitu,” ungkap Mega. 

 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID