logo rilis
Demokrat cuma Silaturahmi, Pengamat Nilai PKS 'Lebay'
Kontributor
Nailin In Saroh
23 Mei 2018, 16:59 WIB
Demokrat cuma Silaturahmi, Pengamat Nilai PKS 'Lebay'
Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati, menganggap PKS berlebihan jika memaksa Partai Demokrat menyetujui wakil presiden dari internal partainya, apabila bergabung dengan Gerindra. 

Pasalnya, Demokrat baru melakukan penjajakan komunikasi dengan Gerindra terkait Pilpres 2019.

"Saya pikir reaksi PKS berlebihan karna sebenarnya Demokrat sendiri hanya sekedar silaturahmi politik saja, dikarenakan mereka belum jelas mau jadi oposisi atau koalisi di pemilu 2019 nanti," ujar Wasisto kepada rilis.id di Jakarta, Rabu (3/5/2018).

Kendati demikian, belum dapat dipastikan bertemunya ketua umum Demokrat dan Gerindra nanti adalah sinyal koalisi keduanya.

"Bisa jadi iya dan juga tidak, mengingat Demokrat sendiri juga belum terbaca arah politiknya. Saya pikir mereka ingin independen," tuturnya.

Bahkan, pembentukan porors ketiga pun masih bayang-bayang. "Karena saya lihat posisi mau jadi koalisi atau oposisi itu tergantung pada patron politik yang membawahi," tukas Wasisto.

"Saya pikir SBY tentu tidak mau di bawah bayang-bayang Prabowo dan Gerindra begitupula Jokowi atau Megawati dan PDIP," tambahnya.

Sebelumnya, PKS berharap Demokrat mau menerima cawapres dari internal mereka jika berkoalisi dengan Gerindra. Namun, Demokrat memandang pernyataan PKS melalui Wakil Ketua Majelis Syuro, Hidayat Nur Wahid itu sangat terburu-buru. 

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


500
komentar (0)