Dadang Rhs

Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID.

Demokrasi 'Zaman Now', Hooliganisme Romantis

Rabu, 6/12/2017 | 13:26

KITA hidup dalam ingatan yang rapuh. Ingatan yang dipenuhi sak wasangka. Bahwa, ada ancaman yang menggentarkan kita. Bayangan ini menjadi hantu.

Ruang publik seolah terbelah. Di hadapan media, juga di media sosial, seakan wajah kita berubah. Menjadi garang. Hanya ada dua barisan. Pihak sana dan pihak sini. Dua kekuatan yang seolah saling menghunus pedang. Menyusun ancang-ancang, dan juga saling menyerang. Sebuah bayang-bayang yang dirawat oleh kerisauan. Setiap saat adalah peperangan. Solidaritas menjadi getas. Toleransi hanya basa-basi.

Percakapan seakan telah dikunci benci. Imajinasi dipenuhi hasrat untuk saling meniadakan. Menolak sesuatu yang tak sama. Tiap-tiap beda adalah nista. Politik berhenti dalam caci-maki. Argumentasi tak lagi berisi. Fanatisme dalam dua sisi. Mereka lawan kita. Kami atau kalian. Hanya ada hitam dan putih. Saling meneriakkan dalil dalam adu dalih. Populisme untuk populisme. Seolah dunia ini milik para gajah dan pemujanya, tak boleh ada pelanduk di tengah. Ia bisa binasa.

Pada peta jalan ini, politik seakan sesuatu yang buntu. Kekuasaan semata-mata berarti kepemilikan. Tak ada pilihan lain kecuali saling menaklukkan. Tak ada ruang bagi perbedaan. Ia adalah musuh abadi. Perbedaan adalah subversif. Kejahatan yang tak termaafkan.

Memuja demokrasi sembari membenci perbedaan. Bisa jadi inilah paradoks kita hari ini. Sebuah anomali. Bergerak dalam tempo cepat ke arah yang salah. Situasi yang bisa membuat semua terjungkal.

Situasi ini ada kemiripan dengan yang digambarkan Franklin Foer dalam buku Memahami Dunia lewat Sepak Bola: Kajian Tak Lazim tentang Sosial Politik Globalisasi. Bahwa, ketika kekuasaan korporasi menguat dalam relasi antarpemilik klub dan suporter, maka, "Akibatnya, para pemilik itu memperlakukan fans mereka seolah-olah nyawa mereka tak ada artinya." Menurut Foer, kelalaian ini mengakibatkan kerusakan batin secara total. Foer menyamakan hal ini dengan Broken-Windows, asas tentang pembusukan sosial pada aras mikrokosmos. Akibatnya, menurut Foer, "Suporter akhirnya mulai berpikir bahwa nyawa mereka memang tak ada artinya."

Para suporter ini bisa saling hajar sampai mati. Hal inilah, bagi Franklin Foer, yang membuat pasar berselera pada Hooligan, "Pada tingkat yang paling dasar, hooligan mewakili sosok pemberontak romantis, yang rela menempuh risiko luka fisik dan memerangi polisi. Hooligan bukan sekadar nihilis. Ia berjuang demi bendera klub yang juga dijunjung oleh suporter yang rata-rata cinta damai."

Kekuasaan korporasi adalah pertalian kepemilikan yang menjadikan Hooliganis sebagai centeng-centeng penjaga yang setia. Sekelompok elite yang dikawal segerombolan pemuja yang meneriakkan sentimen penuh kebencian.

Namun, kisah kelalaian korporasi dan hooliganisme itu adalah peristiwa di tempat lain. Bukan di sini. Pun, jika ada kemiripan dengan situasi demokrasi zaman now, mungkin saatnya untuk mendengar kembali lirik lagu kids zaman old. Lagu ini dipopulerkan oleh Peter Gabriel, mantan penggawa grup band asal Inggris, Genesis.

Don't give up
You still have us
Don't give up
We don't need much of anything
Don't give up
'Cause somewhere there's a place
Where we belong

Rest your head
You worry too much
It's going to be alright
When times get rough
You can fall back on us
Don't give up
Please don't give up

Demikianlah. Mungkin kita tak perlu terlalu risau. Dan, saatnya untuk kembali merawat cara hidup bersama. Jadi, don't give up!