logo rilis
Demokrasi dan Keadaban Politik Kita
Kontributor
RILIS.ID
11 April 2018, 15:13 WIB
Demokrasi dan Keadaban Politik Kita

Oleh Ilham Akbar Mustafa
Penulis adalah penggiat demokrasi

TIDAK ada keputus-asaan terhadap demokrasi. Kalimat tersebut setidaknya selaras dengan bangunan awal optimime kita yakni cita-cita tentang tegaknya kesetaraan dan keadilan, pun keharmonisan setiap entitas di dalam kehidupan sosial. Dan dari hari ke hari, dari fase-ke fase kita memendam imajinasi ini sepanjang waktu. Kita memiliki obsesi yang jelas terhadap demokrasi, yakni dengan meletakkan demokrasi sebagai pondasi sosial maka keadilan dapat berdiri tegak untuk memenuhi hak seluruh manusia.

Dengan terjemahan yang lebih jauh, politik menjadi instrumen paling kongkrit untuk mengoperasionalisasikan setiap keutamaan-keutamaan demokrasi. Dan karena itu, setiap praktik politik dalam relasi berdemokrasi mestinya dilandaskan pada historisitas nilai dasar dan visi besar demokrasi, yakni kedaulatan yang setara, kesetaraan yang berdaulat.

Hanya dengan cara itu, kita memastikan politik bukan hanya sekedar perihal adu balap kekuasaan seperti dalam diktum Machiavelli. Bukan sebatas perkara memenangkan dan mengalahkan, tapi juga sebagai jalan pintas untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua. Sederhananya, praktik politik dalam relasi berdemokrasi mestilah berdiri di atas segala kepentingan faksional.

Keutamaan itu seyogyanya menjadi akar historis bagi kita semua dalam melakukan praktik-praktik yang berhubungan dengan kepentingan banyak orang. Kita memiliki pemahaman yang utuh bahwa basis dari demokrasi adalah moralitas dan kesantunan. Kita tidak boleh menyangkal bahwa makna azali dari demokrasi adalah untuk kesetaraan dan keadilan. Maka mengamalkan demokrasi, berarti berupaya untuk menghindari diri dari pengingkaran dan pengkhianatan di dalam tindakan-tindakan berpolitik.

Akan tetapi fakta hari ini tidak berkata demikian, trend liberalisasi demokrasi hari ini telah mewujud dalam rupa politik yang transaksional. Alhasil, praktik dan pengamalan nilai politik kita dalam ruang demokrasi kerap berujung pada munculnya politisi berwatak Sengkuni seperti dalam cerita Mahabarata, berwatak seperti Marcus Iunius Bruthus yang menikam Julius Cesar dari belakang, atau seperti Yudas Iskariot yang menghianati Yesus demi tiga puluh keping uang perak.

Demikianlah wajah demokrasi kita hari ini, kerap dibajak kelompok politik yang pragmatis dan oportunis. Jika terus dibiarkan, kenyataan ini bisa menjadi mode kultural yang menggumpal dan menjangkiti diri kita dengan tendensi dan kehendak politik yang buruk. Ini petanda bahaya bagi masa depan demokrasi kita.

Bagi saya, praktik politik demikian yang membuat demokrasi kita hari-hari ini memiliki wajah yang buruk rupa. Visi demokrasi yang lahir dari kelompok-kelompok demikian yang kemudian membuat keadilan dan kesetaraan bukan lagi menjadi sebuah nilai mulia yang layak diperjuangkan. Sebab politik di tangan kelompok-kelompok ini tidak memiliki nafas perjuangan yang panjang. Kehidupan politik yang semestinya menjadi medan pertukaran pikiran dan arena percakapan gagasan, bagi kelompok ini justru sebaliknya menjadi pergunjingan perihal tukar guling kekuasaan.

Dari perspektif itu, tentu saja modal karakteristik berpolitik menjadi sesuatu yang mahal bagi kebanyakan orang. Tidak heran jika prinsip-prinsip politik yang demokratis memang tidak lahir begitu saja dari jiwa-jiwa manusia yang kerdil, yang memungkinkan dan mengharuskan keadilan bertindak dan bersikap secara proporsional. Dengan demikian, kita hanya bisa menunggu, ini akan menjadi sebuah kehancuran di kemudian hari, selain karena kebusukan tadi, itu karena bibit-bibit ketidak-adilan tumbuh dan mengembang di dalam praktik-praktik berpolitik kita hari ini. Konsekuensi buruk ini tentu menjadi kenyataan di esok hari bila orientasi politik hanya diproyeksi sebatas itu.

Di sisi yang lain, untuk membawa demokrasi pada khittah yang sesungguhnya memerlukan stamina dan energi politik yang sehat. Energi yang dapat membangun kesadaran politik untuk terus berjuang mewujudkan kesetaraan dan keadilan bersama. Sebaliknya, jika pikiran-pikan politik kita dibelenggu oleh imaji-imaji liar sebatas perebutan kekuasaan, kenyamanan, dan kepentingan sempit yang terus mendominasi hasrat dan kehendak politik kita, maka situasi itulah sejatinya yang akan terus menggerus dan mengkerdilkan ruang dan relasi berdemokrasi.

Harus diakui bahwa hal ini bisa kita rasakan sebagai sesuatu yang ladzim hari ini. Namun kondisi itu tidak serta merta membuat kita dengan sukarela menyerahkan bulat-bulat masa depan demokrasi kita kepada tangan-tangan besi yang dapat meruntuhkannya di kemudian hari. Kita akan berupaya menolak jika posisi dan peran-peran demokratis diisi oleh orang-orang yang memiliki kecenderungan obsolutisme terhadap kekuasaan. Begitu juga, tidak ada sejengkal pun tempat yang patut diberikan kepada kekuasaan yang lahir dari permufakatan jahat.

Karena itu, kita perlu menegaskan bahwa apa yang kita cita-citakan melalui demokrasi haruslah terwujud dengan sikap dan keberpihakan kita kepada kesetaraan, keadilan, dan kesantunan berpolitik. Menegaskan diri pada demokrasi bukan berarti hanya dengan bermodal intrik dan strategi busuk di dalam merebut panji-panji kekuasaan. Tetapi melampaui itu, dasar pengorganisasian tindakan politik kita mestinya bersandar pada tujuan utama yakni bangunan kesetaraan dan keadilan.

Dari situ kemudian model politik kita bisa disetting menjadi sebuah alat perjuangan. Tetapi alih-alih perjuangan, polarisasi politik kita kini belum beranjak dari kemewahan-kemewahan tawaran jabatan dan gelimang kekuasaan. Sehingga keadaan itu berpotensi mengaktivasi naluri purba kita, di mana mencapai puncak kekuasaan dapat diperoleh dengan menghalalkan segala cara, sekalipun itu tidak sejalan dengan kaidah-kaidah etik. Hal yang dinubuatkan Hobbes dalam postulat politiknya, sejatinya manusia adalah serigala yang saling memangsa sesamanya.

Semestinya, kita harus sesegera kembali kepada dasar-dasar politik etis di dalam berdemokrasi. Bahwasanya instrument-instrumen implementatif berpolitik yang etis tidak bisa dipisahkan dengan kerangka pikiran-pikiran yang adil dari jiwa-jiwa yang besar. Kerangka dasar itulah yang memberikan kita peluang untuk kembali mengoreksi kekeliruan-kekeliruan dan membuka selubung kebrutalan tindakan politik hingga kepicikan cara berpikir dalam memahami praktek berdemokrasi. Kita menggunakan dasar itu karena yakin bahwa mulusnya proyek demokratisasi di dalam sendi-sendi kehidupan manusia hanya bisa didasarkan pada sikap yang jujur serta kepatuhan terhadap komitmen bersama pada kepentingan yang lebih besar.

Sayangnya, pemaknaan demokrasi serta praktek politik belumlah sampai pada titik tersebut. Masih banyak yang menganggap bahwa tindakan politik di dalam demokrasi hanya sekedar menjagal dan menghadang kepentingan orang lain sembari menutup ruang-ruang demokrasi dari yang lain. Praktek politik kita hari ini lahir dari hasrat naluriah yang dinukilkan Sapardi Djoko Damono dalam puisinya “Dalam setiap diri kita, berjaga-jagalah segerombolan serigala”.

Padahal pelajaran normatif dari politik yang sebenarnya adalah bagaimana bisa merumuskan strategi perlawanan bersama terhadap ketidakdilan melalui gagasan dan meramu kekuatan untuk mengorganisir seluruh perjuangan untuk membesarkan demokrasi dengan merangkul seluruh hak-hak setiap kelompok. Setidaknya pijakan itu yang bisa mengkonsolidasikan seluruh elemen-elemen agar bangunan demokrasi bisa tetap berdiri tegak.

Sekali lagi, hanya dengan praktik politik yang jujur dan adil-lah semua ekses buruk itu dapat terlampaui. Dengan berlaku jujur maka perwujudan politik di masa depan dapat melampaui seluruh ambisi dan keinginan untuk sekedar mencari kekuasaan, dengan berlaku adil maka sikap berpolitik tidak sekedar hanya didasarkan pada orientasi struktural tapi juga pada visi pengabdian yang jauh lebih besar. Dengan mendasarkan praktik politik pada dua sikap itu, kita dapat memastikan, penyelenggaraan demokrasi akan bermuara pada kesetaraan dan ketiadaan diskriminasi.

Pada ujung dari proses itu, akhirnya semua orang harus mau mengakui bahwa mereka yang memilih demokrasi adalah mereka yang memilih untuk santun di dalam berpolitik, mereka yang meyakini demokrasi adalah mereka yang menginginkan nilai sejati dari demokrasi dapat berdiri tegak. Karena ketika demokrasi diingkari dan dibusuki, maka jalan bagi ketidak-adilan dan ketidak-adaban akan terbuka lebar bagi siapapun untuk melakukannya. Bila tidak terjadi di hari ini, maka ia akan menjadi bom waktu yang siap meledak di waktu yang akan datang.

Jika keadaannya seperti itu, maka tidak ada pilihan lain bagi kelompok Pro Demokrasi selain melakukan perlawanan. Mengapa melawan? karena perlawanan sejatinya adalah konsekuensi logis bagi kita untuk memastikan praktek kesewenang-wenangan, juga benih fasisme politik, tidak boleh muncul lagi. Karena perlawanan yang didasarkan pada perjuangan hak dan nilai prinsipil, sekecil-kecil apapun itu, selalu akan menemukan jalannya. Mengutip Pablo Neruda “Para perompak dapat membabat habis seluruh taman, tapi mereka tak dapat menahan datangnya musim semi”.


komentar (0)