logo rilis
Delik Korupsi di RKUHP Dianggap Bakal Timbulkan Tumpang Tindih
Kontributor
Tari Oktaviani
06 Juni 2018, 11:58 WIB
Delik Korupsi di RKUHP Dianggap Bakal Timbulkan Tumpang Tindih
Rapat paripurna DPR. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.

RILIS.ID, Jakarta— Pakar hukum pidana dari Universitas Krisnadwipayana, Indriyanto Seno Adji menilai, wajar kalau KPK menolak adanya delik pidana korupsi masuk dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP).

Sebab, menurutnya bila delik korupsi dijadikan satu ke KUHP maka kasus tersebut dinilai bukan lagi menjadi kejahatan pidana yang serius.

"Dalam hal delik tindak pidana korupsi sebagai karakter hukum pidanak khusus diakseskan ke dalam KUHP, maka delik tindak pidana korupsi bukan lagi dianggap sebagai extraordinary maupun seriousness crimes, walaupun sebagai delik khusus dalam RKUHP, tapi hanya dianggap sebagai ordinary crimes," katanya, Jakarta, Rabu (6/6/2018).

Ia mengatakan, delik tindak pidana korupsi sebagai kejahatan luar biasa terletak pada karakter khususnya. Oleh karena itulah mengapa lahirnya UU Tindak Pidana Korupsi nomor 20 Tahun 2001 sebagaimana diubah UU 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Ia juga menyampaikan, masuknya delik korupsi dalam RKUHP ini tentunya akan berdampak pada kewenangan KPK. Bahkan, tidak hanya KPK tetapi berdampak pula ke Kejaksaan Agung dan Kepolisian dalam kewenangannya menindaklanjuti kasus korupsi.

Belum lagi terkait dengan pro kontra apabila delik korupsi diatur dalam dua pidana umum dan khusus. Menurutnya, hal ini tentu akan menimbulkan tumpang tindih.

"Jadi jalan terbaik agar hal ini tidak terjadi, sebaiknya dipertimbangkan atau ditinjau kembali perlu atau tidaknya menempatkan delik tipikor dalam RKUHP. Klausul peralihan baik dalam hukum pidana materil seperti Pasal 729 RKUHP maupun pengalaman historis dalam hukum pidana formil, yakni Pasal 284 KUHAP selalu menimbulkan polemik klasik mengenai eliminasi kewenangan kelembagaan penegak hukum," tutupnya.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)