logo rilis
Dekonstruksi Arabisme
kontributor kontributor
Yudhie Haryono
12 Juni 2017, 22:39 WIB
Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center
Dekonstruksi Arabisme

Ribuan tahun, kita tunduk pada skema orang luar: dari produsen ke konsumen. Dari atlantik ke arabis dan terjerembab dalam kubang chinis. Tentu bukan tanpa skema. Melainkan via proxy dan begundal lokal.

So, secara sistematis, masif dan terorganisasi, kita masuk perangkap surga eskatologis. Via road map, gold, glory, gospel and poverty, sempurna sudah kita dalam cengkeraman arabis dan chinis. Makin hari, kita pasrahkan eskatologis ke kaum arabis. Makin hari, kita pasrahkan profanitas peradaban ke kaum chinis.

Baca Juga

Kita tahu bahwa gold adalah perampokan kekayaan. Glory adalah perampokan teritorial. Gospel adalah perampokan ideologi. Poverty adalah perampokan mental dan kurikulum. Dengan empat kunci inilah, bangsa yang mengalami kolonialisme dan imperialisme akan diskenariokan sebagai bangsa pinggir dan pemasok kebutuhan penjajah sampai kiamat. Sadis, bukan?

Bagaimana keluar dari dominasi arabis, yang mutannya adalah untanis? Ada banyak jalan.

Pertama, kita harus tahu dulu ciri arabisme itu. 1) Menjawab masa depan dengan masa lalu; 2) Menyembah teks; 3) Jurusannya akhiratisme; 4) Truth claim—kita paling benar yang lain salah; 5) Monolitik; 6) Berkutat pada ibadahisme—saleh ritual; 7) Emosional dan tertutup; 8) Klanis—mengimani hubungan darah secara membabi buta; 9) Pusat gravitasinya di Makkah dan Madinah.

Kedua, memahami reduksi arsitektur arabisme menjadi untanis. Menyembah identitas pariferal: jilbabis, hadisi, jenggotis, cungkringis, takfiris, jidatis.

Ketiga, sesungguhnya mereka tidak memiliki sesuatu yang baru. Yang ada adalah mereproduksi hal-hal lama. Makanya ide ibadah di planet lain dan penguasaan teknologi, misalnya, tak ada jawabannya. Nalar mereka masih di sini dan di masa lalu.

Keempat, mendekonstruksi kurikulum tersebut dengan mematrialisasikan kurikulum baru yang bertumpu pada lima hal: 1) Ruh al-istiqlâl (freedom); 2) Ruh al-intiqâd (criticism); 3) Ruh al-ibtiqâr (inovation); 4) Ruh al-ikhtirâ (invention); 5) Ruh al-idzati (interdependency).

Ilmu pengetahuan baru ini menempatkan metode kebebasan, kritis, kreativitas, progresif, gotong-royong sebagai tulang punggung (back bond). Tanpa revolusi nalar, kita akan membangun peradaban yang sama dengan para arabis.

Dus, kurikulum dekonstruksi ini menyadarkan kita bahwa tak ada ibadah lebih besar pahalanya melebihi ibadah menyelamatkan negara. Tak ada jihad lebih mulia jejaknya melebihi jihad melawan penjajah. Tak ada cinta lebih berdentang keras luar biasa melebihi cinta warga pada negaranya (hubbul wathan minal îmân).

Kurikulum dari pikiran raksasa ini harus disemai di sekolah-sekolah atlantik yang gigantik guna melahirkan pasukan Nusantara yang berkonsolidasi dalam lima tradisi: 1) Merealisasikan Sekolah-sekolah Postkolonial; 2) Mematrialisasikan Roadmap Indonesia Cerdas dan Bermartabat; 3) Me-reclaim the State; 4) Merealisasikan Janji Proklamasi; 5) Mentradisikan Negara Pancasila.

Kelima, menyadari bahwa era lama soal perampokan emas (gold) akan berkembang ke perang herbal dan hasil lautan. Perang teritorial (glory) akan berkembang ke perang currency, asimetriks, proxy, medical dan IT. Perang agama (gospel) akan meluas ke perang peradaban: clash of civilization. Huntington menulis dalam bukunya "The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order" (1996) yang dikembangkan dari tesis Albert Camus (1946); Bernard Lewis (1990) dalam "The Roots of Muslim Rage". Juga buku karya Basil Mathews, Young Islam on Trek: A Study in the Clash of Civilizations (1926). Tesis ini diambil dari konsep benturan budaya yang sudah pernah dipakai pada masa kolonial dan Belle Époque.

Hey, ayo bangun dari puasamu (badan) menjadi shiyam-mu (jiwa). Dari Abu Jahil menjadi Abdullah. Dari biladulfakir menjadi biladulfadil. Berhentilah jadi genk arabis yang meminum air kencing unta sampai kalian buta, tuli dan bisu. Merasa berinvestasi surga padahal asuransi neraka.


#arabisme
#yudhi haryono
#proxy war
#perang proxy
#islam
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID