logo rilis

Deklarasi #2019GantiPresiden Bukan Berarti Buat Prabowo
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
06 Mei 2018, 12:33 WIB
Deklarasi #2019GantiPresiden Bukan Berarti Buat Prabowo
Ketum Gerindra, Prabowo Subianto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.

RILIS.ID, Jakarta— Belum lama ini, lagi ramai perbincangan publik di media sosial dalam tagar #2019GantiPresiden. Bahkan, wacana di jejaring dunia maya ini diwujudkan dalam bentuk aksi deklarasi di kawasan Monas Jakarta pada Minggu (6/5/2018) pagi.

Para massa aksi mengenakan kaus bertuliskan #2019GantiPresiden. Meski begitu masif percakapan tersebut sampai-sampai terbentuk komunitas "kopi darat", bukan berarti mereka kompak, akan memberikan dukungan bagi Prabowo Subianto.

"Tidak ada personifikasi di situ. Artinya, wacana 2019 ganti Presiden bisa saja untuk Tuan Guru Bajang (TGB), atau Cak Imin. Dan, tokoh lainnya, seperti Airlangga Hartarto," kata pengamat media sosial dan komunikasi dari Komunikonten, Hariqo Satrio Wibawa, saat dihubungi rilis.id, belum lama ini.

Menurut dia, berbeda halnya jika tagar yang muncul adalah #2019PrabowoPresiden, maka ini jelas mengacu pada satu nama. Sedangkan, jika cuma ganti Presiden, sifatnya tidaklah tegas.

"Ini bukan aple to aple. Kalau jelas mengacu ke Prabowo, nah ini jadi warning yang mengerikan," tambah Hariqo.

Bukan cuma itu, ia juga mengkritisi cara sebagian orang yang melawan tagar #2019GantiPresiden dengan pola yang sama. Misalnya, #2019TetapJokowi. Ini, kata dia, adalah suatu hal yang tidak kreatif. Di mana mestinya ada tagar baru yang unik.

"Kalau begini kan imitasi. Harusnya, bisa dengan tagar #lanjutkan. Initnya lebih soft lah," ujar dia.

Presiden Jokowi, disarankan juga tak perlu kelewat khawatir dengan beredarnya tagar tersebut dan penggunaan kaus bertema 2019 ganti Presiden. Karena, kondisi ini adalah hal yang biasa terjadi. Justru, seharusnya mereka ini bisa dirangkul.

"Misalnya, ada orang ngobrol 2019 ganti presiden, itu biasa saja kan. Tapi, kalau dalam bentuk kaus, kok jadi ramai, padahal tetap biasa saja," ungkapnya.

"Dirangkul saja, jangan terlihat terganggu gerakan masyarakat ini. Apalagi, sampai dianggap sebagai suatu ancaman," tambah dia.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)