logo rilis

Dean Novel: Nggak Kepikiran Ekspor Jagung
Kontributor
Yayat R Cipasang
15 Oktober 2018, 13:25 WIB
Dean Novel: Nggak Kepikiran Ekspor Jagung
CEO Dhanya Perbawa Pradhikasa. FOTO: RILIS.ID/Yayat R Cipasang

PERAWAKANNYA sangat ramping dan wajahnya yang imut serta rambutnya yang klimis dibelah samping tidak menyiratkan seorang petani pada umumnya. Ya, memang Dean Novel bukan petani pada galibnya. Orang menyebutnya petani berdasi kendati pria 44 tahun ini nyaris tak pernah pakai dasi karena lebih sering mengenakan baju berbahan kaos.

Dean Novel yang mengenyam pendidikan setingkat sarjana dan master di Universitas Pancasila Jakarta ini sangat populer di Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai pengusaha jagung atau bahasa kerennya agripreneur. Sampai saat ini luas lahan jagung yang dikelolanya mencapai 7.000 hektare dengan melibatkan sekira 7.000 kepala keluarga. Tidak hanya di NTB, usahanya yang berkonsep syariah ini juga sudah merambah ke Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.

Dalam sebuah perbincangan santai rilis.id dengan Dean Novel di Jakarta, belum lama ini, terkuak haru-biru membangun usahanya selama 11 tahun. Dari mulai ditipu miliaran rupiah hingga sang penipu belakangan malah menjadi mitra usahanya. 

Berikut ini petikan wawancara selengkapnya dengan CEO Dhanya Perbawa Pradhikasa ini termasuk sikap kritisnya atas kebijakan pemerintah terkait pertanian khususnya jagung yang dianggapnya keliru.

Kenapa Anda memilih komoditi jagung?

Awalnya tidak jagung. Saya memulainya dengan beragam komoditi. Semuanya saya pelajari dan coba. Kesimpulannya, pasar jagung menjanjikan karena pasarnya industri.

Sementara kalau beras, misalnya, pasarnya konsumen dan Bulog. Kalau pasarnya konsumen kita menjualnya retail sementara kalau mau yang gelondongan lewat Bulog tetapi tak berdaya karena ada HPP (harga patokan pasar).

Kalau jagung?

Sebaliknya, jagung tidak begitu. Jagung justru tidak retail tetapi pasarnya idustri. Itu yang menarik.

Alasan lainnya kenapa saya jatuh cinta dengan jagung karena impor jagung negara kita itu sangat tinggi. Selama sepuluh tahun terakhir rata-rata impor jagung Indonesia itu mencapai 3 juta ton. Di samping industri hilir jagung kita juga bermasalah seperti persoalan pengering dan juga minimnya gudang.

Benarkah menanam jagung itu sangat gampang bahkan dalam sebuah kesempatan Anda berseloroh bisa menghasilkan sambil merem sekalipun?

Menurut saya, jagung itu paling gampang ditanam dibanding padi. Modalnnya pun lebih kecil dibanding padi.

Padi minimal sekali tanam kita harus mengeluarkan dana Rp12 juta sedangkan menanam jagung cukup Rp5 juta per hektare dalam semusim dan hasilnya sampai 10 ton per hektare.

Limbah jagung pun luar biasa dahsyat. Daun kering dan batangnya dapat diolah menjadi silase (pakan berkadar air tinggi). Bongkolnya diolah menjadi pakan ternak berprotein tinggi lewat fermentasi. Dan tentu jagung pipilannya menjadi bahan utama pakan ternak.

Jagung itu mirip kelapa, semuanya dapat diolah dan dimanfaatkan. Cuma bedanya kelapa tanaman tahunan sehingga tahan napasnya terlalu lama. Sementara jagung tanaman semusim jadi bisa cash flow.

Kabarnya Anda pernah mencoba berbagai pekerjaan, bisa diceritakan?

Ya, macama-macam pekerjaan dan profesi pernah saya jalani. Percetakan pernah,  jadi karyawan di macam-macam kantor juga  pernah.

Tapi dalam bidang pertanian ini yang paling berkesan. Di pertanian kita dapat dua manfaat, sosial dapat dan bisnis juga dapat.

Sosialnya kita tiap hari berinteraksi dengan petani dan berinteraksi dengan masyarakat. Siapa yang sering bersilaturahim rezekinya bertambah lapang. Karena itu dalam sebelas tahun terakhir saya jatuh hati dengan jagung.

Anda juga sebelum menekuni jagung pernah mencoba komoditi lain, apa saja?

Ada tujuh komoditi yang saya pelajari sebelum akhirnya memilih jagung. Mulai dari kakao, kopi, rempah dan rumput laut.

Dari tujuh komoditi hanya jagung yang paling stabil. Tidak jantungan. Kopi jantungan, kakao jantungan, rempah dan rumput laut apalagi bikin jantungan.

Padi ada HPP yang sangat kenceng, rempah kalau harganya naik ampun-ampunan naiknya tetapi kalau jatuh bisa ampun-ampunan juga dan bisa sampai bangkrut.

Kalau jagung lebih stabil dan risikonya bisa diukur dibandingkan komoditi lain.

Seperti apa peran pemerintah dalam kebijakan tanaman pangan khususnya jagung?

Tanaman pangan atau serealia itu kan idola. Serealia itu paling gagah. Karena menanam tanaman kebutuhan sehari-hari. 

Harusnya sih bantuan pemerintah itu lebih terfokus, ke hulu bolehlah ke hulu.  

Masalah sekarang ini kan soal kualitas. Lebih baik saya sarakan kalau pemeriah mau bantu petani bantulah secara tunai. Biar petani beli materialnya sendiri, nanti tinggal atur mekanisme pengawasannya.

Menurut saya petani itu jangan dikasih naturanya. Takutnya kalau dikasih naturanya kayak benih jagung bantuan pemerintah. Kualitasnya....

Jadi saya sarankan petani dikasih cash saja. Satu hektare misalnya dikasih berapa dan kemudian dibuat sistem pengawasannya.

 Alasannya?

Karena begini, petai Jawa, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Sumatra ggak mungkin seleranya sama.

Sekarang pemilihan benih, selera menentukan jarak tanam, selera aplikasi material di setiap daerah berbeda-beda. Tidak bisa disamakan. Mereka punya kearifan lokal masing-masing.

Biarkan mereka bertani dengan kearifan lokalnya. Kasih duitnya saja.  Dengan begitu petani benih yang bagus, akan beli pupuk yang cukup. Selama ini nggak. Petani dikasih natura. Petani minta benih merek A dikasih pemerintah benih B. Petani butuh pupuk X pemerintah kasih pupuk Z. 

Ini yang sering terjadi. Pokoknya yang diberikan itu sering di luar pemikiran para petani deh.

Seperti apa sosialisasi soal benih yang selama ini dilakukan pemerintah?

Sosialisasi mengenai benih itu nyaris tidak ada. Apakah itu kewajiban pemerintah, perusahaan atau kewajiban bersama pemerintah dan produsen benih.

Tapi kalau itu sifatya bantuan pemeritah seharusya tugas sosialisasi itu menjadi kewajiban pemerintah dan produsen  benih. Apakah lewat spanduk atau koran lokal.

Kalaulah petani tidak bisa membaca kan tinggal ada yang membacakannya kepada petani. Misalnya ada sepuluh jenis atau sepuluh merek benih, ini loh yang cocok di tanah vulkanik, ini loh  bibit yang cocok di daerah kering dan ini loh benih yang cocok musim ini atau itu.

Misalnya saja menanam jagung di NTT dengan di Jawa saja sudah lain. Beda jauh. Dari tanahnya saja berbeda karakternya. Ada tanah tektonik dan ada tanah vulkanik dan itu beda dosis pemupukannya.

Sampai sekarang pemerintah belum sampai ke situ karea itu PPL (penyuluh pertanian lapangan)  yang dimiliki pemeritah itu menjadi bingung. Akhirnya nggak ngerjain apa-apa.

Kenapa Anda lebih memilih Lombok atau NTB sebagai basis usaha jagung?

Saya sudah sebelas tahun menjadi petani jagung syariah di Lombok. Kenapa dikatakan syariah ya karena tidak ada bunga. Harga bibit segitu ya saya jual segitu. Tidak ada juga bagi hasil. Mereka jual jagung ke saya dan saya beli. Nggak ada hitungan yang rumit. Sederhana saja. Ngapain dibikin rumit. Dan saya sudah ber-KTP Lombok sejak dua tahun terakhir. 

Seperti apa karakter petani di Lombok, kabarnya cukup unik?

Petani di Lombok itu beda dengan di Jawa. Di Lombok itu mereka masih haus dengan inovasi. Masih dengerin kalau kita kasih tahu. Masih menghormati ilmu. Masih penasaran.

Petai di Lombok itu rata-rata land owner. Lahanya punya sendiri. Sampai 80 persen statusnya land owner. Sisanya sewa. Sebaliknya di Jawa 80 persen lahan berstatus sewa.

Karena itu program kemitraan saya itu syaratnya petani yang memiliki lahan. Karea kami kan tidak ada jaminan alias syariah. Yang saya pijamkan ke petani itu tidak pakai jaminan.

Kalau dia pemilik lahan pasti dia tanggung jawab. Tapi kalau dia buruh atau sewa dikasih pinjaman bisa lari.

Bagaimana dengan birokrasi di Lombok?

Pemeritah daerah di NTB itu  sangat wellcome. Birokrasinya lebih familiar. Ketemu  kepala dinas itu gampang, ketemu bupati gampang, ketemu camat dan kepala desa gampang.

Beda dengan di Jawa kita harus antre dan waiting list. Kasarnya untuk menghadapi pejabat kita seperti harus mengemis-ngemis.

Sepertinya Lombok sangat berkesan?

Hahahaha....Di Lombok ini pertama saya ditipu dan dibohongi miliaran. Karena itu saya bertekad di Lombok ini saya harus sukses. Orang yang menipu saya ini sekarang menjadi mitra usaha dan teman saya.

Ada rencana untuk mengekspor jagung?

Pasar lokal saja masih kurang.  Nggak mikir saya ekspor. 

Hanya limbahnya yang saya ekspor ke Korea Selatan dan Jepang. Limbahnya saya olah sendiri dihancurkan kemudian dicetak dalam bentuk seperti es balok.

Di kedua negara itu limbah jagung menjadi medium untuk budidaya jamur merang. Kalau di Indonesia masih memakai serbuk kayu di Korsel dan Jepang menggunakan limbah jagung. Jadi setiap bulan saya ini hanya memenuhi kontrak saja.

Usaha Anda sudah merambah juga ke Maluku dan Sulut, seperti apa perkembangannya?

Saya di Sulut dan Halmahera dan juga NTT sebatas konsultan pemerintah daerah setempat yang memang tertarik untuk bertani jagung. Jagung mereka juga saya beli dan saya pasarkan. 

Pasar jagung Anda kemana saja?

Sebatas Jawa Timur untuk memenuhi industri pakan ternak. Sampai sekarang masih kewalahan karena permintaannya masih sangat tinggi.

Punya rencana untuk bisnis lain?

Nggak, saya masih fokus bertani jagung. Pasarnya masih sangat luas. Dan itu, usaha jagung itu risikonya kecil, tidak jantungan, kita sambil merem saja jagung menghasilkan. Hahahaha....


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)