logo rilis
Dawam Rahardjo dan Dakwah Lewat Cerpen
Kontributor
Yayat R Cipasang
31 Mei 2018, 13:07 WIB
Dawam Rahardjo dan Dakwah Lewat Cerpen
Almarhum Dawam Rahardjo. FOTO: Istimewa

SOSOK multitalenta itu bernama Dawam Rahardjo. Sejumlah label disematkan kepadanya mulai dari ekonom, penafsir, pegiat LSM, cedekiawan muslim, tokoh pluralisme, sastrawan hingga budayawan. Malah mungkin banyak sebutan lainnya.

Seperti halnya para pemikir lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) lainnya seperti sejarawan Kuntowijoyo dan Umar Kayam, Dawam Rahardjo juga bergulat dengan karya sastra terutama cerita pendek. Sejumlah cerita pendeknya dimuat di sejumlah media nasional.

Di antara karya cerpen yang banyak diperbincangkan orang di antaranya Pohon Keramat dan Anjing yang Masuk Surga. Dua cerpen ini sama-sama bercerita tentang tokoh utamanya berlatar Solo yang menjadi tempat kelahiran Dawam Rahardjo 20 April 1942.

Anjing yang Masuk Surga bercerita tentang konflik batin seorang muslim bernama Usamah, kelahiran Solo berdarah Arab yang ragu memelihara anjing. Apalagi Usamah yang hijrah ke Ciputat, Tagerang, dan sehari-hari bergaul di lingkungan Betawi.

Memelihara anjing di kampung Betawi itu memang sangat riskan, yang memelihara bisa tidak disukai orang sekampung. Teman-temannya dari Solo pun ikut manyarankan agar Usamah tidak memelihara Anjing. 

Tapi sahabatnya yang mengusulkan itu memberi tahu bahwa memelihara anjing itu diperbolehkan agama. Kebetulan ia mengikuti aliran modern, Al Irsyad. Tapi sebelum memutuskan memelihara anjing itu Usamah pernah sowan ke Buya Hamka di Kabayoran Baru, dekat Masjid Al Azhar.

“Boleh tidak Buya, seorang Muslim memelihara anjing?” tanyanya, memberanikan diri, maklum bertanya kepada ulama besar.

“Tengok ke halaman rumah. Itu ada anjing besar,” jawab Buya.

“Di Minangkabau, memelihara anjing sudah biasa. Bahkan ulama-ulama juga memelihara anjing. Sebagian orang kampung memelihara anjing untuk berburu babi di hutan. Bahkan Pesantren Putri Padang Panjang, Rahmah el Yunusiyah, itu separuh penghuninya adalah anjing,” jelas ulama asal Minang itu.

“Di Mekkah, banyak penduduk yang memelihara anjing,” jelasnya lagi. 

“Orang Muslim dianjurkan untuk menyayangi binatang, termasuk anjing. Nabi sendiri suka dengan kucing. Nabi Daud suka burung dan Nabi Sulaiman bersahabat dengan semua binatang. Pernah ada hadis yang menceritakan ada seorang pelacur yang dinyatakan Nabi akan masuk surga, hanya karena ia memberi minuman kepada anjing yang mau mati kehausan. Bahkan ada pula anjing yang masuk surga, yaitu anjing yang menemani pemuda-pemuda Askhabul Kahfi yang melarikan diri dari tirani raja kafir dan mengungsi di gua dan atas izin Allah, tertidur selama 300 tahun itu,” jelas ulama pengarang Tafsir Al Azhar itu, yang menceriterakan kisah para pemuda beriman dan seekor anjingnya dalam Alquran.

Berbagai konflik dan permasalahan pun muncul ketika Usamah mulai memelihara anjing. Pertama memelihara anjing herder German Sheppard namun tak berselang lama mati dan muncul dugaan diracun oleh warga yang tak senang.

Selanjutnya Usamah kembali memelihara anjing jenis Gaberman dan keluarga menamainya Hector. Anjing Usamah ini sangat bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Masyarakat yang sebelumnya membenci malah sangat menyayanginya karena kampunng jadi aman dari penncurian.

Suatu hari, Hector yang sangat berjasa itu ditemukan mati. keluarga dan tetangga pun gempar. “Anak-anak, manusia pun akan mati, apalagi binatang yang umurnya lebih pendek dari manusia. Hector sudah berumur hampir lima belas tahun, padahal anjing-anjing yang lain hanya berumur sekitar tujuh atau delapan tahun. Inna lillahi wa inna lilahi rojiun. Semuanya berasal dari Allah. Ia dan kelak kita semua juga akan kembali kepada-Nya. Abah yakin, Hector akan masuk surga, seperti anjing para pemuda Ashabul Kahfi.”

Keesokan harinya, pagi-pagi benar, Hector dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan putih, seperti manusia. Ia pun dikuburkan. Pak Usamah sempat membaca doa, sambil menitikkan air matanya. Ia kehilangan malaikat penjaga keluarganya. Sebenarnya, tanpa doa pun, malaikat akan masuk surga. Tapi Hector lebih menyerupai manusia, bagian dari keluarga Usamah.

Begitulah cara dakwah Dawam Rahardjo untuk meluruskan perdebatan di kalangan masyarakat terkait hukum memelihara anjing yang dianggap najis ke dalam sebuah cerpen tanpa harus menggurui.

Seperti disitat dari laman repository.umy.ac.id, Dawam Rahardjo sudah senang menulis kreatif sejak sekolah menengah pertama (SMP) di Solo. Sekolah itu juga tempat belajar Sri Edi Swasono dan Sri Bintang Pamungkas.

Saat duduk dikelas 2 SMP, Dawam Rahardjo dikenal pandai mengarang dan mempunyai nilai tertinggi dalam tata bahasa Indonesia. Dan saat kelas 3 SMP sudah berminat pada kesusastraan. Selanjutnya berhimpun dalam Perkumpulan Peminat Sastra Surakarta (HPSS) yang diketuai oleh Moes PS, seorang perempuan penyair. Dawam Rahardjo juga menjadi anggota Remaja Nasional, sebuah ruang sastra dari harian Nasional Yogya dan di situlah sajak-sajaknya dimuat.

Bakat Dawam sebagai penulis semakin berkembang setelah kuliah di UGM. Ia banyak menulis di media masa, baik koran maupun majalah terkait sosial politik, ekonomi serta menjadi wartawan dan kolumnis tetap diharian Masa Kini dan Mercusuar Yogyakarta. Selain itu ia aktif sebagai anggota Hmpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di HMI, Dawam Rahardjo selalu
menolak duduk di jajaran pengurus, tetapi banyak berperan sebagai pengader dalam training-training HMI bersama-sama dengan Djohan Efendi dan Ahmad Wahid. 

Seiring reformasi, Dawam Rahardjo sempat terjun ke dunia politik dan menjabat ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) sejak dideklarasikan sebagai partai reformis pada 23 Agustus 1998. Juga aktif di organisasi Muhammadiyah hingga pernah menduduki jajaran Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Priode 2000-2005.

Kini, sang multitalenta dan guru besar bangsa ini telah tiada dengan meninggalkan rekam jejak, legasi dan karya tulis. Selamat jalan Mas Dawam!


500
komentar (0)