logo rilis

Daryati Uteng: Muda Berkarya, Tua Berguna
Kontributor
RILIS.ID
29 November 2018, 09:18 WIB
Daryati Uteng: Muda Berkarya, Tua Berguna
Ilustrasi: RILIS.ID

USIA bukan menjadi alasan untuk tetap berjuang dan melakukan demi kepentingan rakyat. Anak muda memang sudah seharusnya menciptakan sesuatu, kelak menjadi tua tetap bermanfaat bagi masyarakat.

Daryati Uteng, senator DPD RI asal Jambi ini memperjuangkan nasib perempuan dan anak adalah kewajiban sebagai wakil rakyat. Sebelum menjadi senator, ia merupakan Anggota DPRD Provinsi Jambi dan Dosen di STIE Jambi.

Meski sudah berusia kepala enam, tapi aura kecantikannya belum juga sirna. Ketika berbincang hangat dengan rilis.id, ia melihat ada fenomena interaksi antara orang tua dan anak. Pasalnya, ada pergeseran tren budaya dalam keluarga. Untuk lebih jelasnya, berikut petikan wawancaranya.  

Terkait dengan anak muda di Indonesia, saat ini apa masalah terbesarnya?
Pengangguran banyak, sudah pengangguran lari ke narkoba lagi. Anak-anak muda itu saya katakan, "Muda Berkarya, Tua Berguna" tapi anak muda itu lost generation jadi masa remaja yang hilang. Coba kalau mereka berolahraga dan memahami budaya. Tapi pergaulan anak sekarang ini maunya enak dan cepet dapat sesuatu. 

Menurut Anda, sikap orang tua harus seperti apa agar anaknya tidak terjerumus dengan hal yang negatif?
Sebetulnya kembali ke orang tua kita menjaga anak supaya tidak lari ke narkoba antara interaksi ayah dan anak itu harus betul-betul terjaga karena sekarang ini kadang-kadang itu orang tua sibuk masing-masing. Kalau dulu ditanya cita-cita mau jadi dokter, mau jadi guru. Kalau sekarang apa? Mau jadi Hape. Hape itu kan sebentar ditengok, ada WA (WhatsApp), ada Facebook. Di rumah semua jutek terus main hape. Kalau di luar negeri itu enggak ada main Hape. Kenapa saya mengatakan anak mau jadi Hape? Karena anak inikan 5-7 tahun ada PR di sekolah minta ke bapaknya, bapaknya bilang tanya mamah, mamahnya bilang tanya bapak malah saling lempar. Jadi ke bibi, bibi juga bisa apa. Itu problem.

Adakah solusinya?
Solusinya kembali lagi kepada orang tua harus ada interaksi sosial antara ayah, ibu dan anak jadi anak itu ditanya kalau dulu saya takut, apa yang dikatakan orang tua yah ikut. Kalau kita tanya orang tua, dijawab. Harusnya ada interaksi sosial tapi sekarang sudah jarang. 

Anak-anak saat ini sudah mengalami pergeseran?
Yang harus dibenahi akhlakul karimah makanya kenapa sekarang adanya Maulid Nabi karena kita harus mencontoh nabi. Sekarang ustaz kalau ceramah-ceramah enggak dikaitkan malah dikatikan tahun politik harusnya ini loh akhlak. 

Bagaimana peran perempuan sebagai wakil rakyat?
Keterwakilan perempuan 30 persen tapi sekarang wajib 30 persen bila ada partai politik enggak sampai 30 persen disqualification (keluar). Tapi nyatanya hanya seperti perempuan tidak diberikan 30 persen sekarang cuma sekedar mengikuti UU saja maksudnya dalam arti bukan calon jadi, malah jadi calon berati yah engga duduk. Kebanyakan perempuan yah enggak dapat cuma satu dua. Tapi Alhamdulillah di DPD perempuan banyak.

Apa yang membuat minimnya perempuan di kancah perpolitikan Indonesia? 
Perempuan itu cost-nya sama itu menjadi kendala, karena perempuan dianggap dikasur, didapur dan sumur istilahnya itu. Dan perempuan harus kembali kodratnya, sebetulnya perempuan mampan bisa menyeleksaikan keluarga dan bisa bagi waktu tidak salah. 

Mengapa Anda mau menjadi anggota DPD RI? 
Kita mengisi pembangunan di suatu daerah misalnya saya di Jambi. Kalau saya enggak jadi wakil rakyat mau teriak-teriak untuk masyarakat malah kita diketawain emang lu siapa. Bila saya duduk, kalau DPR RI mewakili rakyatnya dan partainya tapi DPD mewakili rakyat, pemerintah dan wilayahnya. Sebetulnya di luar negeri itu senator, senator lebih berperan. Namua di Indonesia sesuai UU kita sebagai pertimbangan. DPR RI legislasi, budgeting dan control. Di DPD RI sama tapi anggaran kita hanya pertimbangan.

Sebenarnya apa yang menjadi kendala di DPD, sehingga peran DPD tidak begitu sentral dalam mengambil keputusan politik?
Kalau rapat-rapat DPD kita enggak diikut sertakan saya sebagai anggota DPD ikut menyesalkan enggak diikutkan dan pengambilan keputusan enggak diikutkan. Kita sudah koordinasi pimpinan saja tidak diundang, harusnya DPR RI harus libatkan kami.

Bisa dijelaskan perbedaan peran DPR dan DPD?
Dalam program kita mendengarkan aspirasi masyarakat iya. Terus merancang UU iya, tapi anggaran sesuai UU kita enggak dilibatkan. Paling tidak mengusulakan dan mempertimbangkan antara pusat dan daerah. Memang menurut saya, masyarakat yang meminta ke DPR bahwa bagaimana DPD ini penguatannya berimbang dengan DPR RI.

Menurut Anda, apa problem yang dihadapi bangsa ini?
Kita lihat saja, apakah nawacita Revolusi Mental ini sudah dirasakan oleh masyarakat? Terus terang saja, katanya ekonomi kita meningkat? Tapi nyatanya, masyarakat mengatakan untuk saat ini penghasilannya menurun di bidang apa saja pemerintah berkoar-koar "ekonomi stabil" tapi nyatanya masyarakat kami banyak yang mengeluh di perdagangan dan pertanian. 

Pesan apa yang Anda ingin sampaikan kepada perempuan dan anak muda di tahun politik?
Politik itu adalah untuk kekeuasaan, politik itu strategi untuk mendapatkan kekuasaan bukan sikut-sikutan tapi dengan santun yang wajar untuk mencapai tujuan. Kita memberikan pendidkan politk, jangan golput dan sesuai hati nurani. Kalau tidak memilih, kita rugi 5 tahun. Saya harapkan di legislatif itu yang mengerti memperjuangkan daerahnya, jangan sampai wakil rakyat itu diisi sama preman. Kita ingin didudukin orang cerdas harus bagaimana kedepan maju suatu daerah dan Indonesia maju. Orang-orang kita memiliki Indonesia harus maju. Dibandingkan negara-negara lain, Indonesia itu surga dunia paling di Indonesia. Mari kita jaga republik ini, berjuang republik ini lebih maju.
  

Editor: Sukma Alam


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)