logo rilis
Daripada Data, Amran Lebih Bersemangat Ulas Pengentasan Kemiskinan
Kontributor

23 Mei 2018, 22:13 WIB
Daripada Data, Amran Lebih Bersemangat Ulas Pengentasan Kemiskinan
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat meninjau lokasi perkebunan kopi rakyat di Jember, Jawa Timur, Rabu (23/5/2018). FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik

RILIS.ID, Jember— Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, ogah membahas mengenai data. Dirinya lebih bersemangat membahas terkait upaya memberantas kemiskinan melalui pengembangan sektor pertanian.

"Ini lebih bagus kita debatkan, daripada data. Kita bahas kemiskinan menjadi sejahtera," ujarnya saat meninjau perkebunan kopi rakyat di Jember, Jawa Timur, Rabu (23/5/2018).

Data yang dimaksudnya diduga terkait produksi pangan. Pasalnya, sejumlah pihak mengkritisinya, menyusul rencana impor 500 ton beras tahap kedua saat panen raya di berbagai daerah.

Saat meninjau perkebunan tersebut, Menteri Amran terlihat geram. Sebab, perawatannya tak maksimal dan produktivitasnya cuma 0,5 ton per hektare. Padahal, agroklimat Jember cocok ditanami kopi.

Secara nasional, luas pertanaman kopi 1,2 juta hektare dan rata-rata produktivitasny 0,6 ton per hektare. Sehingga tiap tahun cuma menghasilkan sekitar 700 ribuan ton. Indonesia pun berada di urutan keempat besar sebagai produsen kopi.

"Kalau ini produktivitas diangkat jadi dua ton saja, berarti kita hasilkan dua juta ton per tahun dan kita jadi produsen nomor satu dunia. Apalagi, kalau produktivitas tiga ton. Ini harus dipikirkan," jelasnya.

Atas dasar itu, pembantu Presiden asal Bone ini akan memberikan bibit unggul kopi untuk Jember. Produksinya sekira 3,5 ton per hektare. "Kita harus lakukan replanting," katanya.

Dia ingin bibit terbaik yang diberikan jenis arabica, lantaran harganya sedang tinggi. Berdasarkan perhitungannya, pendapatan mencapai 290 juta per hektare per tahun.

"Anggap 0,3 hektare, itu Rp6 juta per bulan. Jadi, bagaimana cetak gaji bupati di Jember. Kalau perlu di atasnya. Enggak sulit," ucapnya yakin. Rata-rata kepemilikan lahan pertanian di Jember seluas 0,3 hektare per petani.

"Bayangkan, kalau produksi naik tiga kali lipat. Rakyat miskin bebas miskin. Apa susahnya?" lanjut dia.

Menteri Amran pun menugaskan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) mendampingi petani Jember dan sentra produksi kopi lain di Jatim. "Bentuk upsus lokal untuk kopi," pintanya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)