logo rilis

Darah Juang, Revolusi Tak Bisa Diprediksi
kontributor kontributor
Dadang Rhs
26 November 2017, 12:11 WIB
Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID
Darah Juang, Revolusi Tak Bisa Diprediksi

“DI SINI negeri kami/ Tempat padi terhampar/ Samuderanya kaya-raya/ Tanah kami subur Tuhan/ Di negeri permai ini/ Berjuta rakyat bersimbah luka/ Anak kurus tak sekolah/ Pemuda desa tak kerja/ Mereka dirampas haknya/ Tergusur dan lapar/ Bunda relakan darah juang kami/ Tuk bebaskan rakyat/ Padamu kami berjanji....”

Mereka yang pernah turun ke jalan, melakukan protes di era 1980 hingga penghujung 1990, agaknya kerap mendengar dan menyanyikan syair lagu karya John Tobing ini. Lagu "Darah Juang" ini selalu hadir di tengah aksi-aksi protes saat itu.

Baca Juga

Pada bait-bait lagu ini, tersurat tegas hasrat pembebasan bagi rakyat tertindas. Bahwa, kehendak atas perubahan adalah kesaksian yang ingin ditunaikan. Bahwa, ada banyak nestapa di negeri kaya dan permai ini. Ada keserakahan yang sewenang-wenang merampas dan menggusur hak rakyat. Bahwa, apa pun caranya, kezaliman ini harus dilawan. Bahwa, tiap-tiap bait lagu "Darah Juang" adalah ikatan pada hasrat hidup bersama rakyat; senasib sepenanggungan: menjadi Indonesia.

Semangat "Darah Juang" adalah protes panjang dari orang kebanyakan. Jeritan rakyat yang dijadikan budak sahaya di negeri yang merdeka. Lalu, suara “Darah Juang” menguat dalam tekad kaum tertindas. Protes terjadi di pelbagai tempat. Kritik bertumbuh dan menguatkan tekad. Rakyat bersama kaum "Darah Juang" bergerak bersama, menyusun barisan. Mendirikan organ perjuangan. Menggalang solidaritas. Melawan sekeras pikiran dan sekuat tenaga.

Perlawanan ini memaksa kaum penggusur yang jemawa itu mundur. Tapi, mereka tak hendak tunduk. Mereka tak mau mengalah. Mereka terus menyusun langkah dan berdiaspora. Kini mereka memaksa hendak kembali. Mereka terus mencari cara, mengajak lupa sembari meneriakkan kerinduan akan masa silam. Mereka ingin memutar arah sejarah. Membalik cerita. Seakan, mereka tak pernah salah.

Di sisi lain, kini sebagian dari para pelaku protes yang dulu terikat pada syair lagu "Darah Juang" berada di posisi penting. Tempat terhormat. Mereka kini tak perlu lagi berkeringat dan mengepal bersama rakyat. Mereka bukan lagi rakyat. Bukan lagi orang kebanyakan. Mereka kini dipercaya dan mendapat kesempatan menjadi elite. Menjadi sedikit orang yang menjalankan amanat orang kebanyakan, orang-orang yang dulu pernah bersama mereka bersuara lantang di jalanan.

Para pemrotes itu, sekarang, bisa jadi harus duduk bersama dengan diaspora dari kaum yang pernah jemawa dan menggusur rakyat. Bahkan mungkin, mereka dipaksa bekerja sama dalam menyusun rencana-rencana yang dulu adalah "barang haram". Dan, terpaksa berdamai atas nama tujuan jangka panjang. Atau, mengamininya sebagai sebuah kenyataan yang tak terelakkan. Realitas zaman modal.

Pada posisi ini, peta relasi politik seakan kembali menemui hukum sejarah. Rakyat kembali ke tempat awal. Kekuasaan kembali ke tempat semula. Lalu, formasi politik kembali seperti sediakala. Secara dialektik, formasi ini akan menguntungkan. Kritik akan bertumbuh. Dan, dalam situasi ini, harapan tetap terjaga dalam kritik. Pemutlakan akan gugur oleh kesadaran.

Sejarah "Darah Juang" adalah kisah tentang kritik. Sejarah protes bagi siapa saja yang ingin segera lupa. Kritik atas kekuasaan yang melanggar batas. Menarik untuk menyimak pernyataan Yuval Harari: "Revolusi, perdefinisi, adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Sebuah revolusi yang bisa diprediksi tidak pernah meletus" (2011).

Alhasil, sejarah akan punya hukumnya sendiri. Kita tak tahu pasti ke mana ia akan pergi. Tapi, kita bisa belajar agar kekeliruan tak terus berulang. Semoga tak melanggar batas.


#Darah Juang
#Revolusi
#Kolom
#Merdeka
#Dadang Rhs
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)