logo rilis
Daniel Muttaqien, Pinangan yang Bubar Jalan
Kontributor
Yayat R Cipasang
29 Maret 2018, 10:10 WIB
Daniel Muttaqien, Pinangan yang Bubar Jalan
Anggota Komisi V DPR Daniel Muttaqien. FOTO: RIILS.ID/Ibrahim

USIANYA yang masih sangat muda sebagai seorang politisi, tidak menjadikan Daniel Muttaqien loyo ketika gagal menjadi bakal calon wakil gubernur Jawa Barat yang berpasangan dengan Ridwan Kamil. Cukup, rekomendasi partai politik yang sempat menorehkan namanya sebagai calon wakil gubernur dalam map kuning sebagai bagian dari sejarah praksis dalam berpolitik.

Daniel banyak mengambil hikmah dari kegagalannya menjadi cagub Jawa Barat. Putra tokoh Golkar Jabar, Irianto MS Syafiuddin alias Yance ini menyadari selain usia yang masih muda juga karier politik praktisnya masih sangat cetek. Baru berkecimpung dalam dunia politik sekira 10 tahun masih belum apa-apa untuk bisa menjadi pemimpin di Jabar yang penduduknya paling banyak di Indonesia.

"Saya baru sepuluh tahun di politik praktis. Saya sadar diri belum ada apa-apanya," kata Daniel yang lahir di Indramayu 30 September 1981. "Tapi saya senang karena baliho dan spanduk wajah saya banyak terpasang di sejumlah daerah," kelakarnya.

Sebelum terjun ke dunia politik, Daniel lebih banyak berbinis lewat perusahaan yang dibangunnya seperti PT Cimanuk Cemerlang dan PT Fajar Primaswara. Tapi rupanya, gen politik dari orang tua mengalir juga kepada Daniel untuk terjun ke dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai angggota DPRD Jabar dan terpilih pada Pemilu 2009.

Sepertinya, berkiprah di Jabar saja bagi mantan ketua Pemuda Pancasila ini tidaklah cukup. Karena itu pada Pemilu 2014 Daniel bertarung di daerah pemilihan Jabar VIII  (Indramayu, Kota dan Kabupaten Cirebon) dan terpilih menjadi wakil rakyat di Senayan dengan meraih 91.958 suara.

Daniel yang lulusan teknik sipil ini merasa cocok ditempatkan partai sebagai angggota Komisi V yang banyak membidangi soal infrastruktur. Ini juga menjadi kesempatan mantan ketua umum Angkatan Muda Pembaharuan Golkar ini untuk terus  memperjuangkan pembangunan infrastruktur yang merata hingga sejumlah daerah terutama Indonesia timur.

"Sejak dulu, pembangunan infrastruktur masih terkonsentrasi di Jawa. Karena itu ketika Presiden Jokowi gencar membangun infrastruktur dan mulai diarahkan ke Indonesia timur saya sangat mendukung," ujarnya.

Namun, Daniel juga melontarkan kritik kepada pemerintah agar pembangunan infrastruktur itu tidak dimonopoli perusahaan BUMN karya. Harus ada kriterianya. "Proyek 10 miliar saja diambil BUMN karya. Harusnya proyek di atas 100 miliar yang digarap BUMN. Biarkan swasta juga tumbuh," sarannya.

Menghadapi Pilkada 2018 dan Pemilu 2019, Daniel pun termasuk yang paling sibuk. Jabatannya sebagai Ketua Pemenangan Jawa Barat I tentu bukan pekerjaan mudah. Mengelola 13 kabupaten kota yang mencakup empat dapil mulai dari dapil 8 hingga 11 dengan 20 juta daftar pemilih tetap, memaksa pecinta gunung ini untuk terjun ke  daerah pennugasannya.

"Karena itu kemenangan pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi menajdi mutlak. Jabar harus kembali kuning karena itu basis tradisional pemilih kita (Golkar)," tekadnya.


500
komentar (0)