logo rilis
Dan Brown dan Ramadan
kontributor kontributor
Yudhie Haryono
29 Mei 2018, 07:02 WIB
Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center
Dan Brown dan Ramadan
ILUSTRASI: Hafiz

AKU tertegun dan terbangun saat dentang novel-novel Dan Brown terjatuh dari meja makanku. Ya, Dan Brown (1964) akhir-akhir ini menemani puasa dan sahurku. Sebab, dari novel-novelnya aku berharap keajaiban datang hadir di pundakku. Teori keajaiban selalu faktual di novel, bukan di lelaku harian yang dungu. Terutama novel Dan Brown.

Semua karyanya kukoleksi. Mulai dari novel Digital Fortress (1997), Angels and Demons (2000), Deception Point (2001), The Davinci Code (2003), The Lost Symbol (2009), Inverno (2013) dan Origin (2017).

Ia menulis testimoni yang lucu. Menurutnya, "semakin banyak ilmu pengetahuan yang aku pelajari, semakin banyak kulihat bahwa fisika menjadi metafisika dan bilangan menjadi bilangan imajiner. Semakin kamu mendalami ilmu pengetahuan, semakin kamu mendapatkan landasan yang tidak tak terprediksi: semacam mukjizat." Mungkin sejenis rasional menjadi meta-rasional.

Dengan teori induksi-deduksi, Dan Brown mengetik hal biasa bagi kaum surplus nalar, tetapi mengerikan bagi sekelompok defisit akal. Misalnya ketikan, "Alkitab adalah buatan manusia, bukan Tuhan. Alkitab tidak jatuh secara ajaib dari langit. Orang membuatnya sebagai catatan sejarah dari hiruk-pikuk jaman, dan itu telah melibatkan penerjemahan, penambahan, dan revisi yang tak terhitung. Sejarah tidak pernah punya versi pasti dari buku tersebut."

Membaca ketikan dan metafor Dan Brown mengingatkanku dengan tesis-tesis Mukidi. Beberapa bisa kubagi. Misalnya, "betapa kasihan suatu bangsa yang presidennya berpikir bahwa ekonomi sponsor lebih utama dibanding ekonomi rakyat."

Ya. Kita memang sedang terkena virus nalar budi. Virus ini menyerang semuanya. Tak terkecuali. Maka, betapa kasihan suatu bangsa yang presidennya berpikir bahwa membela investor lebih mulia dari membela rakyatnya. Betapa kasihan suatu bangsa yang presidennya berpikir bahwa jalan mencapai cita-cita kemerdekaan adalah dengan menunjuk komentator, bukan eksekutor.

Ya. Nalar kita tak menjadi meta nalar yang mampu melampaui mukjizat-mukjizat purba. Karenanya, betapa kasihan suatu bangsa yang presidennya berpikir bahwa satu-satunya jalan mencapai kemakmuran adalah dengan jalan impor. Betapa kasihan suatu bangsa yang presidennya berpikir bahwa satu-satunya jalan berkuasa dua periode adalah dengan program infrastruktur.

Betapa kasihan suatu bangsa yang presidennya berpikir bahwa satu-satunya jalan menggemukkan APBN adalah dengan menaikkan harga bensin. Betapa kasihan suatu bangsa yang presidennya berpikir bahwa satu-satunya jalan mencapai tujuan adalah dengan jalan utang.

Itu semua sebenarnya jalan neoliberal. Jalan ekonom begundal yang menjadi kacung konglomerat. Jalan khianat para laknat. Tetapi seperti ilmiah. So, mungkin kita kini hanya bisa berucap lugu, barangsiapa ikhlas, maka keikhlasan itu untuknya. Barangsiapa mengeluh, maka keluhan itu akan menjadi miliknya.

Sambil membayangkan Dan Brown diskusi dengan Mukidi soal mukjizat, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke hapeku. Dari wartawan senior Ali Ikhwan (2018). Tuan Yudi, "sayang sekali, semua capres tak akan bisa apa-apa. Karena dana kampanye mereka yang triliunan itu berasal dari para cukong. Para cukonglah pemenang yang sesungguhnya.

Tanah cukong akan makin luas, hingga ketika lulusan terbaik UIN, Undip, UI, ITB dll ingin punya rumah harus membeli dari mereka. Menyisihkan 30 hingga 50 persen untuk menyicil hingga tua.

Tanah mereka makin luas. Ketika hutan dan tanah adat di Sumatera dan Kalimantan jadi perkebunan sawit, tambang batubara di Kalimantan dikapalkan ke arah utara, dan emas Papua terbang ke lain benua.

Ketika rakyat makin terjepit, pemuka agama diminta khotbah yang menenangkan rakyat. Jika khotbah berisi protes, maka tak akan masuk daftar 200 besar ulama. Begitulah. Dilarang cari kenalaran, keajaiban dan kebahagiaan di sini, di Indonesia."

Dengan riang, kujawab pesan itu dengan mereplikasi ketikan Dan Brown di novel Origin. "Dari mana asal (negara) kita? Ke mana negara kita akan pergi? Adalah dua pertanyaan fundamental yang selalu bergema sepanjang sejarah Indonesia. Dari mulai Indonesia ada sampai entah kapan musnah, dua pertanyaan itu akan selalu menjadi misteri dan tantangan bagi warganya untuk menjawabnya."

Dua pertanyaan itu pula yang menciptakan pertentangan dan pertarungan keras antara pahlawan dan pengkhianat: idealis versus begundalis. Soal siapa yang menang, biarlah Tuhan, hantu dan hutan yang takdirkan.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID