logo rilis
Dampak Media Sosial terhadap Politik Indonesia
Kontributor
RILIS.ID
14 Maret 2018, 06:55 WIB
Dampak Media Sosial terhadap Politik Indonesia
ILUSTRASI: Hafiz

Oleh Wasisto Raharjo Jati
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

KITA dihadapkan pada masalah eksistensi identitas keagamaan dan etnisitas di media sosial yang semakin akut ke depan. Alih-alih permasalahan itu hanya sekadar masalah ekspresi, kini sudah berkembang ke arah segregasi sosial yang kian akut. 

Salah satu faktor yang kuat mempengaruhi transformasi itu adalah labilnya kelas menengah dalam mengakses media sosial. Kelabilan itu ditunjukkan dengan cara semakin ekspresif dan reduksionis dalam berpikir dan semakin represif  dan sinis dalam bertindak.  

Media sosial telah tampil menjadi alat dan penentu seseorang untuk benar dan salah dalam dunia nyata maupun dunia maya. Benar dan salah memang abu-abu dalam media sosial, namun faktanya publik pun tidak diajak berpikir jernih dalam menyikapi permasalahan tersebut sehingga hanyut dalam pola diskusi yang tidak selesai. Pola dialektis tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa warganet Indonesia tidak berupaya mencari solusi atas suatu masalah, namun berupaya mencari vibrasi atas permasalahan tersebut. 

Vibrasi itu pula yang pada akhirnya menjadikan solusi hanya terjadi dalam ruang monolog miskin dialog. Pada akhirnya yang menjadi masalah adalah baik melalui media sosial maupun juga ruang sosial, sosialisasi publik terhadap masalah itu hanya sekadar permisif. Munculnya identitas secara jelas memang memegang kunci tanpa ideologi dalam media sosial. 
    
Terlebih lagi ketika identitas muslim tersebut kemudian ditonjolkan dalam ruang publik maya maupun nyata. Munculnya Muslim Cyber Army (MCA), Kontroversi Cadar, maupun juga Pemimpin Bersyariah telah menunjukkan identitas muslim kita sudah jauh dari kata Islam sebagai rahmat semesta. Kita disibukkan dengan pemberitaan mengenai muslim sebagai obat mujarab atas solusi kehidupan, muslim sebagai faktor penentu negara, maupun muslim sebagai panduan hidup masyarakat. 

Namun kesemuanya itu sebenarnya menunjukkan gejala chauvinisme dalam beragama dan juga bersuku dalam masyarakat kelas menengah hari ini. Melalui media sosial, kita diajak berpikir konspiratif terhadap hal tertentu sehingga sering menjadi individu dan kolektif yang sentimental. Melalui media sosial pula, kita diajak berpikir peyoratif karena senantiasa melihat hal-hal yang negatif menjadi dasar menilai moralitas. Kedua hal tersebut bukan bermaksud menghentikan aktivitas bermedia sosial, namun lebih pada euforia yang berlebihan terhadap media sosial menghasilkan sikap intoleran dan radikal. 
    
Kondisi ini memang menjadi tren global sekarang ini dimana pesan aksi terorisme lebih mudah disampaikan melalui media sosial yang kemudian membuat individu atau kolektif bisa tersugesti. Pesan sugestif untuk bertindak intoleran tersebut muncul karena rendahnya kemampuan berpikir kritis dan panjang publik dalam menerima dan menilai sesuatu. Semuanya ditelan mentah tanpa diejawantah dengan perspektif tertentu. 

Sepertinya memang pemahaman skriptual menjadi pola pikir baru warganet Indonesia yang menilai berbasis teks dan bukan konteks sehingga menimbulkan utopia dan idealisme yang tidak jelas. Kondisi itu yang rentan membuat aksi kekerasan menjadi hal lumrah dan bahkan konflik bisa terjadi setiap saat.
    
Narasi status publik netizen kelas menengah Indonesia hari ini banyak diwarnai narasi kompetisi, narasi intoleransi, maupun juga narasi segregasi. Kita bisa melihat bahwa status individu dan kolektif dalam media sosial itu mencerminkan tingkat kedewasaan dan kecerdasan individu dan kolektif dalam keseharian. Selain itu pula faktor materialisme juga menjadi faktor penting lainnya yang tidak bisa.

Isu maupun informasi bisa dibelah dalam ketiga varian tersebut. Seperti halnya hukum alam, semakin mapan material menunjukkan tingkat kecerdasan dan kedewasaan publik dalam dunia digital. Premis tersebut berkorelasi positif dengan menguatnya gelombang kekerasaan lebih banyak terjadi di kalangan masyarakat bawah. Media sosial menawarkan diri sebagai tempat curhat massal yang kemudian mengkristalkan permasalahan mereka karena adanya ketimpangan karena masalah perbedaan. Secara otomatis gelombang aksi massa tereskalasi hebat sebagai aksi jalanan.
    
Menggeloranya semangat primordialisme berbasis identitas di tengah masifnya perkembangan teknologi informasi melalui media sosial menjadi poin utama dalam membahas politik kelas menengah Indonesia. Hal utama secara gamblang dan jelas, media sosial memang memberikan ruang ekspresi luar biasa bagi publik untuk menyuarakan aspirasi dan artikulasi kepentingan. 

Pengertian normatif tersebut mengharuskan publik menuliskan status di media sosial masing-masing untuk mendapatkan simpati. Namun yang menjadi aneh kemudian adalah publik berkembang menjadi massa digital yang berwenang mengurusi dan menilai perilaku secara individu dan memberikan larangan dan kewajiban dalam bersosialisasi baik dunia maya dan nyata. Sejatinya hal tersebut telah menggeser fungsi media sosial secara normatif menjadi konotatif karena mengatasnamakan publik untuk kepentingan “publik”. 

Dari situlah sebenarnya pangkal masalah itu terjadi. Media sosial pula yang memberikan individu dan kolektif berbicara dari hati ke hati tanpa sekat sehingga berujung pada terbentuknya ikatan afeksi yang sifatnya artifisial. Situasi kemudian menjadi rentan karena publik akan saling tersegregasi karena ikatan afeksi itu yang akan merepotkan kebhinekaan yang sudah terjalin lama. 

Dengan demikian, agaknya terlalu sumir apabila menyalahkan media sosial dan regulasi macam UU ITE yang menjadi pangkal masalah. Kita harus akui bahwa euforia media sosial itu telah membawa kepada permasalahan multidimensi hari ini mulai soal politik, kehidupan, bahkan urusan keluarga. 

Media sosial memang menjadi kendali dan kita menjadi tercandu karenanya. Solusinya atas segenap masalah ini adalah meminimalisir media sosial sebagai ajang sosialisasi dan lebih mementingkan pertemuan fisik daripada virtual. Dikarenakan hal itu bisa menepis perasaan sengkarut konspiratif dan peyoratif karena media sosial.  


komentar (0)