logo rilis
Dalami Kasus PLTU Riau, KPK Panggil Setnov dan Putranya
Kontributor

27 Agustus 2018, 11:45 WIB
Dalami Kasus PLTU Riau, KPK Panggil Setnov dan Putranya
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai menelusuri skema kasus suap pembangunan PLTU Riau 1 yang dilakukan oleh pengusaha ternama Johanes B Kotjo dan mantan menteri sosial Idrus Marham. 

Dalam penyidikannya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga akan memanggil mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang juga terpidana kasus e-KTP, Setya Novanto.

Menurut Juru bicara KPK, Febri Diansyah, Setya Novanto sedianya akan diperiksa untuk kepentingan penyidikan Johanes Kotjo. 

"Setnov akan digali pengetahuannya terkait dugaan lobi proyek tersebut," katanya di Jakarta, Senin (27/8/2018).

Selain Setnov, KPK juga akan memanggil putra Setnov, Rheza Herwindo selaku Komisaris PT Skydweller Indonesia Mandir. 

Berbeda dengan ayahnya, Rheza akan diperiksa untuk penyidikan Idrus Marham.

Selain itu, ada pula Bupati Temanggung terpilih, M Al-Khadziq yang merupakan suami tersangka Eni Maulani Saragih serta tiga saksi lain yakni tenaga ahli DPR Tahta Maharaya, karyawan swasta Audrey Ratna Justianty dan Direktur PT Raya Energi Indonesia Indra Purmandani. 

"Mereka bakal diperiksa sebagai saksi untuk tersangka IM (Idrus Marham)," kata Febri. 

Diketahui, Idrus ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. 

Ia diduga bersama-sama mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih menerima hadiah atau janji dari pemegang saham Blackgold Natural Recourses Limited Johannes B Kotjo. 

Eni diduga menerima jatah sejumlah Rp6,25 miliar dari Kotjo secara bertahap sejak November 2017 sampai Juli 2018 dan Idrus disinyalir tahu soal pemberian uang tersebut. 

Pria yang juga mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar itu juga dijanjikan uang sekitar US$1,5 juta oleh Kotjo bila memuluskan proyek PLTU Riau-1.

Dalam kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 ini, KPK telah menjerat tiga orang sebagai tersangka. Mereka di antaranya Eni, Kotjo dan terbaru Idrus. 

Eni dan Idrus diduga bersama-sama menerima hadiah atau janji dari Kotjo terkait proyek senilai US$900 juta itu. 

Idrus disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) atau Pasal 56 ke-2 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. 
 

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID