logo rilis

Dalam Kondisi Kanker Paru-paru, Sutopo Purwo Terus Mengabarkan Korban Gempa
Kontributor
Yayat R Cipasang
30 September 2018, 22:38 WIB
Dalam Kondisi Kanker Paru-paru, Sutopo Purwo Terus Mengabarkan Korban Gempa
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

GERAKNYA mulai ringkih.  Wajahnya yang dulu bulat kini mulai tirus. Tapi suaranya ketika mengabarkan kondisi terbaru dari gempa di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, Sutopo Purwo Nugroho (48), masih lantang dan bersemangat.

Ya, Sutopo dalam setiap peristiwa bencana alam atau kecelakaan selalu yang paling banyak dicari wartawan. Sebagai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo, sangat akrab dengan wartawan dan tak pelit berbagi informasi.

Namun, belakangan ini ilmuwan kelahiran Boyolali pada 7 Oktober 1969 ini mengaku tidak maksimal. Sutopo pun meminta maaf kepada wartawan dan masyarakat karena tidak bisa melayani secara personal termasuk wawancara. Sutopo hanya bisa melakukan konferensi pers.

"Mohon maaf saya tidak dapat menjawab pertanyaan lisan dan tulisan satu per satu. Mohon maaf tidak bisa wawancara ke studio," ujar Sutopo di Jakarta, Minggu (30/9/2018).

Sutopo masih dalam pemulihan dan fisiknya masih sangat lemah. Ia mengaku merasakan nyeri punggung dan dada kiri terasa sakit. Karena menjalani kemoterapi, Sutopo juga mengaku sering mual, ingin muntah dan sesak napas. Bahkan tulang belakang sudah bengkok karena tulang terdorong masa kanker sehingga jalannya terlihat miring.

"Tapi saya tetap berusaha melayani rekan-rekan media dengan baik. Setiap hari saya gelar konferensi pers dan saya siapkan bahan paparan yang lengkap agar media tidak salah kutip. Semua data yang saya miliki selalu saya berikan utuh. Tak ada yang saya sembunyikan. Selalu update dan berusaha melayani dengan prima kepada media," paparnya.

Sementara untuk masyarakat luas, lulusan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini terus memberikan informasi secara update melalui akun Twitter dan Istagram. "Di medsos khususnya di Twitter dan IG saya berusaha juga update karena masyarakat luas menunggu," ujarnya.

"Namun, mohon maaf kondisi fisik saya tidak bisa ditipu. Sakit kanker paru-paru stadium 4B yang telah menyebar di beberapa bagian tubuh menyebabkan saya lemah. Rasa sakit yang mendera juga menyebabkan sulit untuk tidur nyenyak," tutur doktor lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Sutopo mengau masih bisa menolak wawancara dengan media tetapi dengan masyarakat yang mencari informasi tentang saudaranya, ia tak bisa berkelit.

"Dengan masyarakat yang kehilangan saudaranya saat ini saya harus menjelaskan dan membantu dengan sabar," tuturnya.

Sampai saat ini, Sutopo mengaku telepon genggamnya terus berbunyi. Dari mulai staf kedutaan, konsuler, kementerian/lembaga, dan masyarakat terus menghubunginya tenntang kondisi di daerah gempa.

"Entah memperoleh nomor telepon dari mana, banyak masyarakat yang menanyakan ke saya tentang orangtuanya, anak, saudara, kerabat, teman dan lainnya yang belum dapat dihubungi sampai saat ini di tempat bencana. Orang asing pun banyak yang telpon atau Whatsaap menanyakan korban dan penanganan," tutur mantan Peneliti Utama bidang Hidrologi dan Konservasi Tanah di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)